Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 48. Menemui Pujaan Hati


__ADS_3

Juan mahardika terbangun saat pesawat sudah landing di tujuan utama. Sebuah pulau pribadi milik keluarga Mahardika tersembunyi dan tidak banyak orang tahu. Hanya ada satu bangunan tingkat lima yang sangat megah menghadap pantai.


Juah Mahardika terbangun dalam keadaan segar. Sudah lama tidak bisa tertidur pulas, baru kali ini bisa merasakan nikmatnya memejamkan mata. Elfa seolah obat dari segala obat yang ada.


Turun dari pesawat pribadi, kembali menggendong bridal Elfa. Gadis itu masih terlelap dalam mimpi tanpa menyadari sekarang ini di mana posisinya. Perawat dan tim dokter menawarkan brankar untuk mengangkat Elfa, tetapi Juan Mahardika menolak.


Sampai di kamar pribadi milik Juan Mahardika, Elfa langsung di tidurkan di ranjang big size miliknya. Kembali hanya dipandang lebih dari dua jam. Juan Mahardika masih berusaha menyatukan pikiran, hati dan ucapannya.


Saat tengah hari, tim dokter kembali memeriksa Elfa. Badan gadis itu mulai stabil setelah obat bekerja hampir tengah hari. Keringat dingin dan suhu tubuh yang kedinginan sudah berangsur kembali normal.


Ditambah obat untuk tahap selanjutnya melalu infus. Untuk kali ini sengaja tidak ditambahkan obat tidur setelah suhu tubuh kembali normal. Dokter mengatakan kemungkinan sore hari atau menjelang senja kemungkinan Elfa akan terjaga walau masih lemah.


Juan Mahardika keluar kamar setelah perut baru terasa lapar. Dari kemarin sore perut tidak diisi hanya karena memikirkan Elfa. Ikut bergabung dengan Asisten Dwi Saputra yang sedang menikmati makan siang sendiri.


"Yang lain pada ke mana, mengapa kamu makan sendiri?" tanya Juan Mahardika duduk di depan asistennya.


"Mereka sudah makan sesaat pesawat mendarat di pulau ini, Tuan."


Datang koki mendekati Juan Mahardika, "Anda mau makan sekarang, Tuan?"


"Iya buatkan makan seperti biasa!"


"Baik di tunggu sebentar."


Hanya dalam sepuluh menit menu makan favorit Juan Mahardika tersaji di meja. Tander loin steak dipadu mess poteto ditambah wortel, kacang polong dan bunsis yang di steam. Ditambah minum jus jeruk dan air mineral sebagai makan penutup buah melon yang dipotong dadu.

__ADS_1


Tidak senikmat makanan hari ini bagi Juan Mahardika. Sudah beberapa bulan ini makan rasanya tidak ada yang enak. Sudah lama jarang menemukan masakan yang cocok padahal yang masak adalah koki pribadi sendiri.


Asisten Dwi Saputra sampai menggelengkan kepala saat melihat Juan Mahardika menikmati makanan itu. seperti orang yang tidak makan tiga hari tiga malam, "Anda lapar atau doyan, Tuan. Pelan-pelan tidak usah terburu-buru!"


"Baru kali ini aku makan senikmat ini, biasanya semua makanan rasanya tidak enak semua."


"Apa karena Nona El?"


"Apa hubungannya dengan gadis itu?" Seolah Juan Mahardika masih ingin menyangkal perasaan hati.


"Tidak perlu menyangkal lagi, Tuan. Berdamailah dengan hati, akui saja perasaan Anda!"


Juan Mahardika tidak menjawab perkataan Asisten Dwi Saputra. Memilih menikmati makan yang terasa sangat lezat. Tanpa terasa menu di piring langsung kosong berpindah ke perut dengan cepat.


"Apa langkah Anda selanjutnya, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra setelah Juan Mahardika selesai menikmati buah melon yang dipotong dadu.


"Baik, Tuan."


Asisten Dwi Saputra masih duduk di kursi meja makan, setelah Juan Mahardika meninggalkan tempat. Badan rasanya remuk-redam bekerja keras di luar nalar. Menuruti semua perintah Juan Mahardika melakukan apapun sesuai kehendak hati.


Teringat rencana yang dibuat sesaat sebelum penjemputan Elfa di tempat bencana. Akan membawa Elfa ke pulau milik pribadi tanpa diketahui oleh siapapun. Termasuk keluarga dari Elfa sendiri dilarang untuk dikabari.


Di tempat bencana Pak Jamal mengatur dan mengatakan kepada tim dokter rumah sakit Aljuzaka bahwa Elfa dirawat di rumah sakit kota. Ponsel milik Elfa dipegang oleh Pak Jamal untuk mengabarkan kepada orang tua dan tim dokter jika baik-baik saja.


Asisten Dwi Saputra mengambil napas panjang setelah hampir setengah rencana berjalan lancar. Saat ini pikiran bercabang dua, antara tugas dari Juan Mahardika dan selalu teringat pujaan hati. Wajah Rena selalu saja bersarang dipelupuk mata.

__ADS_1


Sudah hampir satu bulan tidak menghubungi Rena. selalu ragu dengan cinta yang dirasakan kini. Ditambah kesibukan akhir-akhir ini, membuat hatinya semakin ragu tetapi cinta semakin tumbuh di hati.


"Rena, Aa sangat mencintai kamu. Ini sudah hampir satu bulan, apa yang kamu lakkan sekarang ini?" monolog Asisten Dwi Saputra sambil melihat foto Rena di ponsel.


Hanya sayangnya, Asisten Dwi Saputra tidak menghubungi atau sekedar say hello sekalipun. Dibiarkan menggantung hubungan itu sampai sekarang. Tidak ada kejelasan, tidak ada kabar dan tidak ada kepastian pasti hubungan keduanya.


"Apa sebaiknya aku ke villa ya, mumpung Tuan Juan sedang merawat Nona Elfa?" monolog Asisten Dwi Saputra sendiri.


Asisten Dwi Saputra kembali termenung, pikirannya tidak bisa berpindah dari bayangan Rena. Kerinduan seolah memuncak dan sudah tidak bisa di tunda lagi. Asisten Dwi Saputra berdiri dan berlari menuju ruang pada pegawai yang sedang makan bersama.


Memerintahkan pilot dan kru untuk mengantar ke Indonesia. Tanpa berpamitan kepada Juan Mahardika. Hanya meninggalkan pesan akan segera kembali besok sebelum sore hari.


Tekat Asisten Dwi Saputra semakin besar setelah menjelang pagi tiba di villa. Mandi dan menyegarkan tubuhnya agar terlihat lebih segar. Akhir-akhir ini jarang beristirahat dan jarang tidur, berharap setelah bertemu akan bisa menenangkan hati.


Kebiasaan Rena olahraga pagi sebelum mata hari terbit. Waktu itulah yang di manfaatkan Asisten Dwi Saputra untuk menemui pujaan hati. Dengan menunggu gadis itu keluar gang rumah, Asisten Dwi Saputra melakukan pemanasan lari kecil di tempat.


Hampir seperempat jam berlalu yang di tunggu tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Ada banyak orang yang lalu-lalang berolahraga. Hanya sayangnya yang diharapkan sama sekali tidak terlihat.


Asisten Dwi Saputra berlari kecil sambil melihat satu persatu orang yang lewat terutama gadis yang sedang sendiri melintas. Sampai di kedai nasi uduk, Asisten Dwi Saputra mendengar samar-samar suara Rena yang tertawa, "Itu suara Rena," monolog sendiri dengan lirih.


Ada dua pasang laki-laki dan wanita yang sedang menikmati sarapan sambil bercanada. Salah satu wanita yang duduk ternyata Rena. Dan yang tiga lagi tidak mengenal karena Rena tidak pernah memperkenalkan temannya.


Kebetulan Rena duduknya membelakangi jalan raya. Di samping Rena duduk satu wanita yang tidak terlihat wajahnya karena memakai topi dan kaca mata hitam. Dua laki-laki yang duduk di depan Rena terlihat sangat bahagia menikmati sarapan sambil bercanda.


Bertepatan Asisten Dwi Saputra masuk kedai ingin mendekati Rena. Bertepatan seorang laki-laki yang ada di depan Rena mengambil tisu dan mengusap membersihkan bibir Rena yang ada sisa nasi, "Maaf, Aa Angga bersihkan ya ada nasi uduk yang menempel!"

__ADS_1


"Rena ...!"


__ADS_2