
Henry Alexander tersenyum kecut saat ditanya tentang status oleh Juan Mahardika. Teringat hati susah sekali untuk move on dari gadis yang dulu menolak cintanya saat masih kuliahh S1. Cinta pertama memang yang paling berbekas di hati, walau saat itu cinta hanya bertepuk sebelah tangan.
"Saya tipe orang susah move on, Tuan. Sampai sekarang tetap cinta pertama yang masih ada dalam hati."
"Maksudnya kamu masih teringat Kris?"
"Benar sekali, Tuan. Saya sudah menjalain cinta dengan beberapa wanita termasuk Magda, tetapi tetap saja tidak jodoh."
Juan Mahardika hanya tersenyum mendengar pengakuan laki-laki teman Elfa. Ingin sekali menceritakan tentang nasib Kris saat ini. Namun, tidak ingin menyita waktu jika ingin membelikan martabak untuk mama tercinta.
"Kamu beli saja martabak dulu, nanti malam kami tunggu di rumah!"
"Ok siap, pasti Mama akan sangat bahagia bisa bertemu dengan istri Anda."
Saat Henry Alexander berbalik badan, Juan Mahardika sengaja mengambil foto dia secara diam-diam. Sengaja ingin menunjukkan kepada istri tercinta jika bertemu dengan laki-laki yang dulu sangat mencintai Kris. Berharap mendapatkan dukungan dari Elfa ataupun dari Rena.
"Sayang!" panggil Juan Mahardika saat masuk kamar setibanya sampai rumah.
"Kok cepat betul, Akak?"
"Iya, kebetulan Akak tidak mengantri saat beli martabak ini."
"Kok bisa tidak mengantri?"
"Makan dulu sambil Akak ceritakan nanti."
Elfa membuka martabak yang berada dalam box kotak putih beserta kondimen acar mentimun ditambah wortel dan cabai rawit. Martapak yang penjualnya orang Indonesia keturunan India yang ada di samping kampus terkenal sangat lezat. Dari bau harumnya saja Elfa bisa mengenali jika itu berasal dari kedai martabak yang ada di sana.
"Katanya mau cerita?" tanya Elfa saat sudah menyantap dua potong martabak daging dengan acar.
"Oya, ini El lihat dulu, Akak baru bertemu dengan dia di kedai martabak itu!"
"Akak bertemu dengan Henry?"
"Iya, katanya dia ke sini bersama Mamanya."
"Kenapa tidak diajak ke sini, Akak?"
Elfa terus mengunyah martabak dengan lahap sambil termenung. Teringat saat dulu bertemu sahabat itu sudah memiliki supermarket khusus produk Asia. Teringat juga dengan wanita yang pernah di jodohkan dengan wanita mantan masa lalu suami tercinta.
"Apakah Akak melihat Henry bersama Magda?"
"Tidak, kata Henry wanita itu sekarang pindah ke Indonesia."
"Berarti Henry masih sendiri."
__ADS_1
"Benar sekali, Sayang. Akak bereniat menjadi Pak comblang antara Kris dan Henry siapa tahu berjodoh."
"Pak comblang, apa itu?"
Dengan nyengir kuda Juan Mahardika teringat kemarin membaca bahasa gaul dari Indonesia jika ingin menekatkan teman untuk berjodoh dinamakan mak comblang. Sehingga menyimpulkan sendiri jika yang menjodohkan laki-laki diganti dengan nama pak comlang.
"Itu lo, Sayang. Bahasa gaul di Indonesia yang bernama mak comblang. Akak ini laki-laki jadi Akak ganti dengan pak comblang."
"Oooo Akak bisa aja, mulai bisa bahasa gaul sekarang," jawab Elfa sambil tergelak.
"Jadi El setuju ya?"
"Boleh juga sih, tetapi bagaimana cara mempertemukan mereka?"
"Akak mengundang Henry dan mamanya datang untuk makan malam di sini hari ini."
"Waaah, Akak gercep juga jadi pak comblangnya."
Juan Mahardika langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban Elfa. Bahasa gaul yang dipelajari belum banyak, "Apa itu gercep, Sayang?"
"Aaah Akak kudet."
"Nah apa lagi itu kudet?"
"Ooo, menurut Akak kalau bahasa gaul agak susah di hafal, Akak lebih suka mempelajari bagasa jawa lebih mudah."
Gantian Elfa yang mengerutkan keningnya, teringat dulu hampir satu tahun mempelajari bahasa jawa baru mulai mahir. Namun, suami tercinta sekitar dua bulan di Ngawi sudah bisa menguasai bahasa jawa walau pengucapan yang sangat kaku. Mungkin karena dulu selalu memakai goegle translate dengan menggunakan suara sehingga semakin mudah menhafal.
"El cerita sama Rey dulu tentang Henry ya, Akak?" kata Elfa setelah selesai menghabiskan martabak tanpa sisa.
"Mengapa tidak nanti saja, Akak ingin menjenguk twins baby sekarang?"
"Tadi El sudah bilang nanti malam saja, lebih asyik setelah makan malam."
Juan Mahardika cemberut dan mengerucutkan bibirnya lima centimeter. Untung pusaka bumerang belum terbangun sempurna. Sehingga tidak terlalu susah untuk meminta pusaka kesayangan terlelap kembali.
"El temui Rey, Akak mau ikut tidak?"
"Tidak, Akak akan memeriksa berkas di kantor sebentar, disana ada Dwi yang masih bekerja."
Elfa mengunjungi klinik pribadi dulu sebelum menemui Rena di kamarnya. Melihat Kris sedang tertidur lelap di tempat tidur kamar klinik. Wajahnya terlihat damai tanpa beban padahal semua misteri belum semua diceritakan.
Elfa langsung mengetuk pintu kamar Elfa setelah sampai di depan pintu. Masuk setelah Rey berteriak dari dalam kamar, "Mengapa ke sini, panggil aja seharusnya Rey yang mendatangi El?"
"Tidak apa-apa, El sekalian lewat. Baru saja El melihat Kris dia sedang tidur sekarang."
__ADS_1
"Apa ada hal penting?"
"El ingin bercerita tentang dua hal."
"Apa itu?"
"Ini silakan lihat sendiri!"
Yang pertama dilihat Rena adalah vedio kiriman tentang Dokter Yohan Carnett saat berkunjung ke rumah Kris, "Yang ini Rey sudah diceritakan sama Aa Dwi, El."
"Ooo kalau begitu lihat foto yang ini saja!"
Rena melihat foto Henry Alexander yang ada di kedai martabak yang ada di depan kampus tempatnya dulu kuliah, "Henry ada di nagara ini, El?"
"Iya dia baru saja bertemu dengan Akak JM di kedai martabak dekat kampus."
Elfa bercerita niat Juan Mahardika untuk mempertemukan Kris dengan laki-laki yang dulu menyukai Kris saat masih kuliah dulu. Setidaknya Kris terhibur ada banyak teman yang memberikan dukungan saat ini. Bukan sebagai kekasih tidak masalah yang terpenting bisa menjalin pertemanan kembali.
"Rey setuju, sebaiknya kita buat kejutan aja untuk Kris."
"Bagus, El juga setuju. yok kita buat persiapan untuk makan malam nanti!"
"Siap."
Elfa dan Rena mempersiapkan makan malam seperti biasa, tetapi menu makan malam yang dibuat istimewa. Berharap moment penting ini akan bisa membuat Kris lebih bersemangat lagi. Bisa mengenang dulu saat dikejar dan dicintai oleh lawan jenis.
Elfa dan Rena sedang asyik mempersiapkan meja makan sambil bercanda. Datang Kris yang sudah siap untuk makan malam. Kris terlihat lebih rapi dari biasanya seolah ada acara istimewa malam ini.
"Rey ... El!" teriaknya.
"Waaah bumil satu ini terlihat cantik banget," puji Rena.
"Ada apa?" tanya Elfa.
Kris datang dengan membawa ponsel baru yang dibelikan oleh Juan Mahardika kemarin. Kris menunjukkan sebuah tulisan dari dunia maya, "Coba lihat ini!"
"Apa sih?" Rena ikut penasaran dan ikut melihat tulisan khusus untuk Kris.
Elfa dan Rena membaca tulisan itu bersamaan, 'Kris, seandainya Tuhan mempertemukan kita kembali.'
BERSAMBUNG
Mampir yok di novel teman yang rekoment ini
__ADS_1