Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 118. Tidak Mau Ada Perang Barata Yuda


__ADS_3

Elfa sengaja mengusap pipi Juan Mahardika dengan mesra agar tidak cemburu. Mata sang suami sudah terlihat memerah menahan emosi karena sedang berbincang dengan laki-laki. Elfa angat tahu apa yang ada di otak suaminya yang posesif.


"Akak, dia teman El saat kuliah S1, dan teman El yang sangat mencintai Kris." Elfa sengaja menjawab dengan suara biasa agar teman kuliah itu mendengar dengan jelas.


"Tuan Juan, dia siapa kamu El?" tanya Henry kaget.


"Perkenalkan Juan Maharidka suami Elfamitha Mahardika." Juan Mahardika mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Sungguh suatu kehormatan bisa mengenal Anda secara langsung karena saya sangat mengenal Anda, Tuan."


"Oya, dari mana kamu mengenal saya?"


"Mendiang Papa adalah karyawan MAHARDIKA CORP di Singapura tiga tahun yang lalu."


Henry Alexander bercerita, dulu saat papanya masih hidup tinggal di Singapura. Papa bekerja sebagai wakil manager di perusahaan milik keluarga Mahardika yang ada di Singapura. Mendapatkan tunjangan yang sangat besar setelah meninggal dunia.


Hendry Aleksander pindah ke tanah kelahiran mama tercinta Italia setelah lulus kuliah di Australia. Bisa kuliah di tanah kelahiran Juan Mahardika karena bea siswa dari perusahaan tempat papanya bekerja. Sekarang membuka usaha supermarket khusus dagangan Asia bersama mama tercinta.


"Jangan cemburu, El tidak memiliki mantan masa lalu," bisik Elfa di telinga suami setelah Henry selesai bercerita.


"Tetap aja Akak cemburu, dia melihat El dengan penuh kekaguman begitu," Juan Mahardika menjawab juga degan berbisik.


"Tuan, silahkan mampir ke rumah kami!" ajak Henry dengan sopan.


"Terima kasih, lain kali saja. Apakah kamu sudah menikah?"


"Belum, masih susah move on dengan masa lalu."


Elfa hanya tersenyum teringat Krisnawati. Ada dua alasan sahabatnya itu menolak cinta Henry Alekxander. Yang pertama karena trauma Kris di masa lalu dan yang kedua adalah berbeda keyakinan.


Dulu Kris pernah bercerita jika Henry adalah laki-laki yang sangat taat agama. Kemungkinan akan ada banyak perbedaan jika menjalin hubungan dengan teman satu kuliah itu. Belum lagi jika tahu masa lalu, kemungkinan Henry akan tidak terima jika Kris pernah menikah sirri.


Dalam perjalanan pulang, Juan Mahardika masih penasaran dengan Kris yang tidak menerima cinta Henry yang notabene laki-laki mapan dan memiliki supermarket besar, "Mengapa dulu Kris tidak menerima laki-laki pemilik supermarket itu, Sayang?"

__ADS_1


"Ada banyak perbedaan, Akak."


"Perbedaan agama maksudnya?"


"Iya, itu hanya salah satunya saja."


"Apalagi selain agama, kurangnya apa, Akak lihat Henry laki-laki yang sopan dan mapan?"


"Dulu Henry belum sukses sekarang, Akak. Dia hanya laki-laki sederhana anak seorang wakil direktur perusahaan, dan Kris tidak pernah melihat dari harta kekayaan saja, Ada masa lalu Kris yang tidak semua orang bisa menerima."


"Apakah Kris pernah merasakan seperti El?"


"Iya, hanya beda kasus saja."


"Beda kasus bagaimana?"


"Kris dinikahkan sirri demi mendapatkan mahar yang besar, tetapi El harus membayar hal yang bukan murni kesalahan ...?"


"Sudah lupakan masa lalu, El sangat mencintai Akak."


"Terima kasih, Sayang. Akak juga sangat mencintai El dengan segenap jiwa raga."


"El tahu."


"Ayo kita lanjut lagi, bahaya kalau pelukan di sini. Pusaka bumerang Akak mulai berontak bangun!"


Elfa tergelak sambil melepas pelukan suami. Duduk kembali di samping kemudi sambil memasang sabuk pengaman yang tadi terlepas. Melanjutkan perjalanan menuju apartemen di tengah kota.


Seharian ini Juan Mahardika melarang El untuk beraktifitas apa pun. Hanya beristirahat agar tidak mengalami sakit perut dan nyeri pinggang. Semua aktivitas dilakukan di kamar apartemen saja.


Sore hari, Asisten Dwi Saputra memberikan laporan tentang seluruh kegiatan perusahaan yang ada di Italia. Akan diteruskan ke Daddy Hans Mahardika setelah di periksa ulang oleh Juan Mahardika. Mereka duduk di ruang tamu apartemen berdua, sedangkan Elfa memilih santai di kamar.


Ada bel berbunyi dari luar pintu apartemen berkali-kali, "Saya saja yang melihatnya terlebih dahulu." Juan Mahardika mengintip sekilas dari lubang kecil, melihat ada dua wanita yang berdiri di depan pintu

__ADS_1


"Dwi, ada dua wanita yang berdiri di depan pintu," bisiknya.


"Siapa, Tuan?"


"Entahlah, aku tidak mau perang Barata Yuda sama nyonya tercinta, dia sedang PMS, sensi terus dari tadi pagi."


Asisten Dwi Saputra tergelak dan berdiri. Ikut mengintip dan melihat dua wanita yang berdiri di depan pintu apartemen. Wanita itu yang satu berbadan tambun dan satu lagi kurus, tetapi berambut keriting.


Asisten Dwi saputra sangat tahu bagaimana selera tuannya di masa lalu. Tidak mungkin dua wanita itu adalah salah satu dari mereka sang mantan masa lalu. Mereka tidak masuk kreteria selera wanita yang biasa dikejar oleh Juan Mahardika.


Di samping itu jika diperhatikan dengan seksama. Dua wanita yang sedang berdiri itu wajahnya masih belia. Mereka sekitar berumur delapan belas tahun atau baru lulus SMA.


Sedangkan Juan Mahardika sudah panik dan mulai berpikir yang negatif. Karena seringnya bertemu dengan mantan masa lalu yang selalu membuat Elfa emosi. Tidak ingin sang istri marah lagi karena akan berimbas pada kesejahteraan pusaka bumerang nantinya.


Sementara yang ada di luar pintu apartemen berkali-kali menekan bel. Suara bel itu menggema di seluruh ruang tamu. Akan terdengar samar-samar dari dalam kamar jika tidak cepat pintu di buka.


"Bagaimana ini, Dwi?" tanya Juan Mahardika panik.


"Tenang saja, Tuan. Coba perhatikan dengan teliti dua wanita itu, tidak mungkin mereka adalah mantan masa lalu Anda."


Juan Mahardika kembali mengintip mereka dari lobang kecil. Memperhatikan dengan lekat dari kaki sampai kepala. Wajah mereka menunjukkan wajah asli wanita Indonesia.


"Betul juga, tetapi aku sudah insecure duluan. Kamu saja yang membuka dan menemui mereka!"


"Baiklah, Anda mau ikut atau masuk kamar?"


Belum sempat Juan Mahardika menjawab pertanyaan asistennya. Pintu kamar utama terbuka, dan Elfa keluar kamar dengan suara yang emosi, "Akak, ada suara bel pintu daru tadi, mengapa tidak di buka?"


Tidak hanya Juan Mahardika yang gugup dan bingung, Asisten Dwi Saputra juga ikut gugup karena ketahuan berbicara berbisik di dekat pintu. Membuat Elfa jadi curiga dengan tamu yang dari tadi menekan bel, tetapi tidak sempat dibuka.


Elfa menjadi mencurigai tuan dan asistennya karena melihat mereka yang gugup dan bingung. Pikiran Elfa langsung mengarah kepada sang mantan masa lalu milik sejuta wanita. Menebak tamu yang datang adalah salah satu dari mantan masa lalu.


Dengan cepat Elfa membuka pintu sambil melotot ke arah suami dan asistennya, "Kalian mencari siapa?"

__ADS_1


__ADS_2