Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 210. Beda Rasa


__ADS_3

Hari ini rumah Alfian Alfarizi ramai karena ada suara tangisan twins baby yang saling bersahutan. Berencana menginap tiga hari di rumah abang tercinta untuk memenuhi janji satu bulan yang lalu. Menempati kamar milik Elfa dulu saat masih gadis yang sudah lama tidak ditempati.


Hanya si cantik Ar putri bungsu Alfian Alfarizi yang selalu ceria menemani dan mengajak bercanda dengan twins baby. Antusias Ar melihat twins baby yang menggemaskan membuatnya enggan beranjak ke luar kamar. Selalu mengikuti kegiatan rutinitas twins baby dari bangun tidur sampai tidur lagi.


"Bilang Mami minta adik yang lucu!" perintah Elfa.


"Mami sudah tidak mau, Auntie. Padahal Papi mau adik sembilan lagi."


Elfa tergelak sambil menghitung jumlah anak yang diinginkan Alfian Alfarizi. Seperti kesebelasan sepakbola yang dulu diidamkan oleh abang tercinta, "Abang memang selalu gokil, membayangkan Teh Rania seperti kelinci percobaan aja," gerutu Elfa sambil melirik Juan Mahardika.


"Nanti Ar minta adik sama Abang Alashraf saja!"


"Mana bisa uncle, Abang Alashraf masih kuliah di Australia. baby Za saja Ar dan Mami yang merawatnya."


"Mana bisa juga, Sayang. Nanti Auntie yang menangis berpisah dengan Za," jawab Elfa dengan wajah yang datar.

__ADS_1


"Auntie buat kembar lagi dong."


"Laaah memang seperti adonan kue dengan mudahnya buat lagi?"


Jua Mahardika hampir menjawab sesuai yang ada di dalam pikiran yang dipenuhi pusaka bumerang yang merindu. Namun tiba-tiba ada notovikasi pesan WA dari Henry Alexander. Ada beberapa foto Henry Alexander yang meringis saat sedang di khitan.


Emot menangis yang dikirim oleh laki-laki yang tergila-gila dengan sahabat Elfa itu justru di jawab dengan emot tertawa. Menambahkan jawaban kiriman tulisan Juan Mahardika yang mengucapkan selamat karena burung yang sudah dipotong. Dengan iseng ditambah tulisan yang mengatakan, "Tunggu saja manfaatnya setelah kamu menikah, karena kata orang akan semakin enak rasanya daripada yang tidak dikhitan."


Mungkin karena penasaran saat membaca jawaban dari Juan Mahardika, Henry Alexander menghubungi langsung menggunakan ponselnya, "Apa maksudnya, Tuan?"


"Kamu pernah menggunakan senjata kamu untuk beraksi?" tanya Juan Mahardika terus terang dan mendapat pelototan Elfa karena ada si cantik Ar.


"Pernah dong, Tuan. Anda tahu sendiri pergaulan di Eropa," jawab Henry Alexander jujur.


Dengan tergelak Juan Mahardika iseng mengedipkan mata pada Elfa. Selalu saja memikirkan pusaka bumerang jika sudah membahas Henry Alexander yang selesai di khitan. Tidak mungkin bisa melupakan beraksi karena itu terus saja dibahas.

__ADS_1


"Nanti saja kamu rasakan sendiri, tetapi ingat sekarang kamu sudah mualaf jangan kamu coba-coba celap-celup dengan sembarang wanita!" ancam Juan Mahardika.


"Kalau Henry penasaran bagaimana, Tuan?"


Elfa yang menjawab dengan berteriak karena ponsel Juan Mahardika di loud speaker, "Jangan kamu permainkan Kris ya, ingat agama melarang untuk itu, bukan cuma demi Kris, kesehatan juga harus dijaga kalau kamu ingin keluarga sehat!"


"Siap, Bodyguard kekasih Henry," jawab Henry Alexander dengan bercanda.


"Ingat bukan cuma bodyguard yang menjaga Kris, ada dokter gila itu yang mencari kesempatan mendekati Kris yang kemungkinan bersamaan kamu menyelesaikan belajar dengan Kyai Din!" perintah Juan Mahardika


Tiba-tiba tidak ada suara Henry Alexander tergelak di balik ponselnya, "Halo, Henry kamu masih di sana?" tanya Juan Mahardika.


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2