
Juan Mahardika tersentak kaget saat mengecup bibir Elfa agak lama. Lutut Elfa bergerak dan tepat di tulang kering kaki Juan Mahardika. Bukan cuma sakit rasanya ngilu dan seolah disengaja, tetapi mata Elfa tetap terpejam.
"Sayang, tega banget sih," kata Juan Mahardika sambil mengusap tulang keringnya yang sakit.
Elfa memang sengaja menggerakkan kaki karena mencium bibir tanpa izin. Jantung rasanya sudah mau lepas dari tempat terus berdegup kencang. Akhrinya Elfa tidak tahan menahan tawa saat mendengar Juan Mahardika berbicara sendiri.
"El sengaja ya, ternyata belum tidur!" teriak Juan Mahardika melihat bibir Elfa tersenyum dan badan bergetar karena menahan tawa.
"Eee minta di kelitiki ya, El membohongi Akak!" Juan Mahardika mengelitiki Elfa sambil mengungkung dan dalam dekapan.
Elfa tertawa terbahak-bahak sambil menahan geli, "Ampun geli, Kak. Ampun!"
"Tidak ada ampun, El sengaja memukul kaki Akak sampai sakit, terima ini!" Dengan mengelitiki pinggang Elfa sambil ikut tertawa.
"Ampun sudah, Akak. El sudah tidak tahan geli banget!"
Juan Mahardika menghentikan tangan saat wajah dan bibir hanya berjarak satu centimeter saja. Saling pandang dengan penuh cinta yang membara. Pandangan yang penuh damba menikmati indahnya cinta.
Juan Mahardika mengulangi mengecup bibir Elfa dengan lembut. Berkali-kali diulang dan diulang lagi tidak ada penolakan. Ditambah durasi waktu dan menikmati kenyalnya bibir mungil sambil menatap wajah dengan penuh cinta.
Elfa hanya tertegun tanpa bisa membalas aksi Juan Mahardika. Ini Adalah ciuman pertama kali, biasanya Juan Hanya mengecup sekilas saja. Jantung semakin terpacu dan berdegup kencang.
Juan Mahardika terlena sesaat, mengulangi dan mengulangi memberikan aksi di bibir Elfa. Tanpa disadari tangan dan pipi Elfa lama-kelamaan terasa dingin, "La kok dingin lagi, Sayang?"
"El juga tidak tahu," jawab Elfa sambil mengusap bibirnya yang terasa basah.
"Sini tiduran lagi, sudah cukup untuk hari ini!"
"Hhmm."
Elfa berbaring dalam pelukan Juan Mahardika. Memilih membenamkan wajah sendiri ke dada bidang suaminya. Masih ada rasa yang tersisa kisah masa lalu, tetapi tidak seperti kemarin.
"Terima kasih, sudah mengizinkan Akak berusaha. I love you so much."
"Katanya tadi mau bercerita tentang dokter itu?"
__ADS_1
"El dengar Akak bicara tadi?"
"Hhmm, El tidak bisa tidur."
"Mengapa pura-pura tidur?"
"El tidak pura-pura tidur, tetapi berusaha untuk tidur."
"Alasan, Akak jadi gemas, ulangi sekali lagi ah!" Juan Mahardika kembali melu*at bibir Elfa dengan lembut.
Elfa hanya bisa menikmati dengan memejamkan mata. Ada sensasi yang aneh berdesir di hati. Rasa yang baru pertama dirasakan selama ini. Semakin dalam suami beraksi, semakin desiran hati semakin menggebu.
Elfa mendorng badan Juan Mahardika setelah keringat dingin mulai membahasi tubuh, "Akak, sudah."
"Iya maaf, Akak jadi kecanduan bibir El."
"Ayo mulai cerita!"
"Iya, Garwoku Sayang."
Dokter Yohan Charnett lebih tertarik dengan iklim yang ada di daerah yang sejuk di sekitar villa. Mengetahui sebelum Elfa menempuh S2 sudah tinggal di villa, kemungkinan Elfa akan kembali ke desa itu. Sehingga memilih berjuang dari sana saja.
Asisten Dwi Saputra tidak memerlukan waktu yang banyak untuk menemukan dokter laki-laki asli Australia itu. Pasalnya hanya dengan memberikan foto kepada anak buahnya, laki-laki langsung dikenali. Di desa sedang heboh membicarakan dokter bule tampan yang memilih tinggal dengan menyewa satu rumah bercampur dengan masyarakat.
Dokter urologi itu langsung menjadi idola baru, menjadi incaran gadis desa. Dia sering berbincang dengan sebagian masyarakat untuk mencari tahu tentang keluarga Zulkarnain. Sebagian besar masyarakat sangat mengenal keluarga Zulkarnain yang dermawan.
Rumah yang disewa oleh Dokter Yohan Charnett hanya berjarak satu kilometer jauhnya dari villa Papi Alfarizi. Jika keluarga Zulkarnain datang bisa dipastikan akan bisa langsung diketahui.
"Apakah dia sudah tahu kalau kita sudah menikah, Kak?" tanya Elfa setelah Juan Mahardika selesai bercerita.
"Kalau masalah itu, Akak tidak tahu. Dwi belum bisa memastikan itu, Sayang."
Juan Mahardika dan Elfa masih berbincang, saat ada pesan WA dari Alfian Alfariizi di ponsel Elfa. Abang kandung Elfa mengabarkan mengetahui jika Dokter Yohan Charnett sekarang ini tinggal di dekat villa. Bekerja di rumah sakit di mana teman seperjuangan di pejuang gadis juga bekerja di sana.
Krisnawati Prayuda bekerja di rumah sakit swasta satu rumah sakit dengan dokter urologi itu. Salah satu pendiri pejuang gadis itu sering membantu para pasien yang mengalami depresi dengan ilmu yang dimiliki. Persis seperti yang Elfa lakukan dulu baik di rumah sakit Aljuzeka atau rumah sakit yang ada di Australia.
__ADS_1
"Siapa Krunnawati Prayuda itu. Sayang?" tanya Juan Mahardika setelah selesai membaca pesan WA dari Alfian Alfarizi.
"Dia teman El saat kuliah dan saat El tinggal di villa."
"Apakah dia salah satu wanita hebat pendiri pejuang gadis?"
Elfa langsung memandang wajah Juan Mahardika yang bertanya tentang hal dirahasiakan selama ini, "Dari mana Akak tahu tentang pendiri pejuang gadis?"
"Akak tahu tetapi tidak banyak, dulu Akak menyelidiki El setelah peristiwa itu. Awalnya Akak mengira pejuang itu laki-laki semua, ternyata semua perempuan yang sangat hebat termasuk istri Akak yang cantik ini."
"Iiiih ujung-ujungnya merayu lagi, sudah ayo tidur El sudah mengantuk!"
"Tidurlah, Akak masing ingin memandang wajah cantik istri tercinta."
"Mana bisa tidur kalau Akak memandang El terus."
"Ayo tidur, kita besok akan melakukan perjalanan jauh!"
"Baiklah."
Pagi harinya Elfa, Juan Mahardika dan Abi Ali berangkat menuju RIyadh. Menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Zulkarnain. Di dalam pesawat ada empat kabin kamar tidur salah satunya kamar milik Elfa.
"Kalau mau istirahat masuk kamar sini, Akak!" ajak Elfa menuju kamarnya sendiri.
Juan Mahardika hanya tersenyum dan mengangguk mengikuti langkah Elfa memasuki kamar. Otak dan pikirannya terus tertuju pada bibir yang sudah bisa dinikmati walau baru beberapa kali. Baru masuk kamar dan belum sempat menutup pintu, Juan Mahardika langsung menarik Elfa dalam pelukan.
"Akak tidak mau beristirahat, Akak mau memeluk El dan ...." Juan Mahardika tidak melanjutkan ucapannya langsung melahap bibir mungil Elfa.
"HHmm ...!" Elfa mendorong tubuh suami yang menempel sempurna.
Dengan terpaksa Juan Mahardika melepas tautan bibir itu dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan, "Ada apa sih, Sayang?"
"Malu, Akak. Coba lihat pintu tidak di tutup, Akak sudah nyosor saja kayak soang."
Dengan menggunakan kaki, Juan Mahardka mendorong pintu langsung tertutup, "Sekarang tidak malu lagi, 'kan? Akak mau lagi." Elfa sudah melayang dalam gendongan bridal Juan sambil terus beraksi.
__ADS_1
"Hhmm ...?"