
Twin baby diletakkan di pangkuan Elfa kanan dan kiri. Dijaga dan dibantu dua dokter, Elfa memandang wajah keduanya dengan tersenyum. Namun, mata tetap saja berlinang air mata bahagia.
Juan Mahardika menatap dua buah hati juga dengan linangan air mata. Kebahagiaan yang sangat dirasakan kini membuat air mata terus merembes tanpa henti. Memandang dua buah hati sambil mengusap pipi keduanya dengan lembut.
"Wajahnya seperti Akak semua ya?" tanya Elfa melihat twins baby bergantian.
"Iya, hanya matanya saja yang seperti El," jawab Juan Mahardika.
"Akak mau menggendong satu?"
"Lain kali saja, Akak masih takut, kecil banget mereka."
Dokter Atha tersenyum dan menggambl salah satu twins baby. baby boy sekarang ada dalam dekapan, "Baby boy ini berat badannya dua koma sembilan kilogram dan panjangnya lima puluh dua centimeter.
"Yang baby girl ini berapa, Kak Atha?" tanya Elfa.
"Dua koma tujuh kilogram dan panjang lima puluh centimeter.
Dokter Emy membetulkan posisi baby girl. Dari tadi bayi bule itu membuka mulutnya sambil menoleh kanan dan kiri. Ingin mendapatkan ASI pertama setelah lahir ke dunia.
"Ini langsung belajar menyusui atau bagaimana, Dokter Emy?" tanya Elfa.
"Iya, silahkan Anda belajar memberikan ASI pada putri Anda terlebih dahulu!"
Efa melihat bayi yang digendong Dokter Atha. Baby boy itu anteng terlelap dalam dekapan, "Dia tidur ya Kak Atha?"
"Iya berikan ASi untuk baby girl saja dulu!"
"Baiklah!"
Dengan diberikan bantal di pangkuan Elfa. Baby girl di letakkan dipangkuan Elfa dan diberikan ASI yang sebelah kanan. Bayi bule itu langsung bisa menikmati ASI pertamanya.
"Waah pintar sekali," kata Elfa sambi melihat wajah baby girl.
Walau masih canggung karena pertama kali memberikan ASI kepada baby Girl. Elfa berusaha sebaik mungkin bisa santai agar putri kecilnya nyaman. Awalnya terasa geli dan ada sensasi yang berbeda saat ASI ke luar dari tempatnya.
__ADS_1
Juan Mahardika hanya terdiam dan melihat dengan datar saat tempat favoritnya kini sudah beralih menjadi milik twins baby. Tidak boleh mengeluh dan sekarang hanya akan berkorban bukan hanya untuk Elfa tetapi kini juga untuk buah hati tercinta.
Baby boy yang ada di gendongan Dokter Atha tiba-tiba menangis dengan suara keras, "Eee haus juga ya?"
"Tunggu, Nak. Sebentar lagi ya!"
Baby girl mulai terlelap dalam dekapan Elfa, "Dia sudah tidur, Dok. Bisa tolong gantian sekarang baby boy bawa sini, Kak Atha!"
"Ternyu saja."
Baby boy lebih pintar lagi dari baby girl menikmati gizi utamanya. Menikmati ASi seolah sudah terbiasa melakukan setiap saat padahal baru pertama kali. Bahkan, lebih lama waktu yang diperlukan ketika menikmati ASi pertamanya dibanding baby girl.
Setelah twins baby kenyang dan tertidur pulas di boks bayi masing-masing. Ucapan selamat dari keluarga bergantian diucapkan. Ditambah kedatangan orang tua Juan Mahardika dan Pakde Sarto serta Bude Marmi, menambah kebahagiaan semakin terasa.
Perjuangan dan sakit yang dialami Juan Mahardika hampir seharian ini, membuatnya kelelahan. Di saat uvoria keluarga mendapatkan anggota keluarga baru. Juan Mahardika terlelap di samping Elfa walau suasana ramai keluarga sedang berbincang.
"Ya Allah, mengapa bisa tertidur saat banyak keluarga yang berkumpul?" tanya Elfa saat mendengar suara napas suami yang teratur,
"Tidak apa-apa, Nak. Kasihan suamimu capek," jawab Mami Mitha.
"Insyaallah, Mom."
"Nanti bisa ditambah susu formula kalau El kewalahan," saran Teteh Rania.
"Kalau ASI cukup tidak perlu, Teh. dilihat nanti sajalah."
Elfa mengusap pipi Juan Mahardika setelah seluruh keluarga ke luar dari kamar dan berkumpul di ruang tamu. Merasa sangat bahagia mendapatkan dukungan cinta yang sangat besar dari suami tercinta. Rela malakukan apa saja walau mengorbarkan diri sendiri.
Elfa memeriksa lengan Juan Mahardika yang memerah dan luka terkena kuku, "Ya Allah ya Rob, mengapa tangan Akak luka begini?" monolog Elfa sendiri sambil mengerutkan keningnya.
Teringat detik-detik akan melahirkan selalu meninta dukungan dengan memegang erat lengan Juan Mahardika. Tanpa sadar kuku melukai kulit lengan, "Mengapa tadi tidak bilang ya kalau El melukai lengan Akak?"
Sambil mengusap lengan yang terluka, Elfa terus saja merasa bersalah, "Maafkan El, Akak."
Juan Mahardika membuka mata mendengar Elfa mengusap lengan dengan lembut, "Tidak apa-apa, Sayang."
__ADS_1
"Eee Akak sudah bangun?"
" Maaf Akak ketiduran, ada yang diperlukan, Sayang?"
Elfa menggelengkan kepala sambil tersenyum, baru saja membuka mata langsung menawarkan kebutuhan. Meraskan cinta yang begitu besar adalah anugerah yang tidak ternilai, "Terima kasih, Akak."
"Akak yang seharusnya mengucapkan terims kasih, memberikan kesempatan pada Akak memaafkan hal yang dulu pernah terjadi."
"Tidak perlu diingat lagi tentang masa lalu, yang terpenting sekarang dan masa depan twins baby kita."
Cinta yang dirasakan kini semakin besar saja. Hati yang tulus dan sabar selalu ditunjukkan dalam sikap keseharian Elfa. Itu yang selalu membuat Juan Mahardika bertambah cinta semakin besar.
Mendengar Elfa dan Juan Mahardika berbincang, Mami Mitha dan Mommy Vera masuk bersamaan twins baby menangis bersahutan. Juan Mahardika melompat dari tempat tidur berlari mendekati boks bayi. Hanya sayangnya, baru saja sampai di pinggir boks langsung berhenti karena bingung tidak tahu cara menggendong bayinya.
"Sayang, Akak belum berani menggendong twins baby, bagaimana ini?"
Mommy Vera dan Mami Mitha yang datang sambil tersenyum, "Sini Oma cantik saja yang menggendong, Daddy nanti belajar dulu," kata Mommy Vera menggendong baby girl dan Mami Mitha menggendong baby boy.
"Lihatlah, Nak. Begini cara menggendong bayi, harus di bawah diantara leher dan kepala," kata Mami Mitha.
"Yang tangan kanan di leher dan kepala, tangan kiri di sini." Mommy Vera juga ikut menunjukkan cara menggendong bayi.
"Sini, Nak!" kata Elfa.
"Yang mana dulu ini?" tanya Mommy Vera.
Setelah di gendong baby girl tidak menangis lagi dalam dekapan Mami MItha. Namun baby boy terus saja menangis dengan suara keras, "Baby boy saja sini, Mom?"
Dalam waktu setengah jam twin baby terlelap kembali setelah mendapatkan asupan gizi. Datang dua perawat mengambil twins baby untuk mandi sore. Juan Mahardika yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat kedua ibu sudah tidak menggendong twins baby.
"Sayang, di mana baby Zi dan Baby Za?"
Mommy Vera dan Mami Mitha tersenyum mendengar nama panggilan untuk twins baby. Namun tidak tahu yang nama bayi perempuan dan yang mana nama untuk bayi yang laki-laki.
"Baby Zi untuk yang bayi perempuan atau leki-laki, Juan?" tanya Mommy Vera.
__ADS_1