Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 176. Ulah Mantan Suami


__ADS_3

Meskipun perut menmbuncit Elfa masih bisa berlari kencang. Bersamaan dengan Juan Mahardika yang berlari dengan cepat. Disusul oleh Ibu Fitria yang ikut berlari secepat mungkin walau ketinggalan.


Admin kedai mie godog itu sedang di bekap dari belakang menggunakan dua tangan oleh laki-laki yang memakai topeng. Walau meronta-ronta Admin yang bernama Harun itu tidak berdaya. Tangan Harun mencoba membuka tangan yang ada di mulut dan hidung, tetapi tetap saja tidak kuat untuk dibuka.


Elfa menendang laki-laki bertopeng tanpa ragu. Perut yang buncit tidak menghalangi aksinya menendang dengan keras bagian tengkuk laki-laki bertopeng, "Hyiaaat!"


"Sayang, hati-hati!" teriak Juan Mahardika.


"Nyonya, aduuuh!" teriak Ibu Fitria.


"Uf ... uf ...uf!" Harun mengambil napas setelah tangan laki-laki bertopeng lepas dari mulut dan hidungnya.


"Brengsek, tengkukku ngilu!" teriak laki-laki pertopeng dengan keras.


Ibu Fitria berhenti sejenak saat mendengar suara teriakan laki-laki bertopeng. Seolah mendengarkan seksama suara yang tidak asing lagi di telinga. Wanita anggun itu kembali berlari dan menarik topeng itu dari wajah laki-laki yang berbadan kurus dan bertato.


"Kamu!" teriak Ibu Fitria.


"Manager Jio ...?" Juan Mahardika kaget.


"Tuan Juan, Anda di sini?"


Karena suara berisik perkelahian ada beberapa orang yang lewat dan membantu. Mereka menangkap mantan suami Ibu Fitria yang mencoba ingin mencelakai admin Harun. Laki-laki yang kini terlihat jelas wajahnya hanya bisa pasrah dan menunduk.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya Ibu Fitria dengan kesal.


"Apakah kamu akan berniat merampok ibu dari anak-anak sendiri, dasar bodoh!" teriak Juan Mahardika kesal.


Orang yang membantu menangkap Manager Jio langsung membelalakkan matanya, "Jadi ini siapa, Bu?"


"Mantan suamiku."


"Waaaah tega banget sih, laporkan saja pada polisi!"


"Jangan!" Manager Jio langsung berteriak.


"Apa mau kamu, ha?" tanya Ibu Fitria dengan kesal.


"Aku mendengar Mahardika Corp telah ...!" mantan manager itu tidak melanjutkan ucapannya setelah melirik Juan Mahardika.

__ADS_1


Saat mantan manager itu melirik, Juan Mahardika sengaja melotot tajam. Sudah bisa menebak laki-laki mantan manager itu ingin meminta bagian pesangon. Kemungkinan akan meminta bagian dengan cara yang tidak benar.


"Maksudnya mendengar mantan isrtimu mendapatkan pesangon dari perusahaan Maharadika Corp?" tanya Juan Mahardika.


"Iya."


"Dari mana kamu tahu informasi itu?"


"Dari karyawan Anda beberapa bulan lalu, tetapi sampai sekarang dia tidak berniat memberikan aku bagian." Manager Jio menunjuk ke arah Ibu Fitria.


Elfa yang paling emosi mendengar mantan karyawan Juan Mahardika. Wajah laki-laki itu ingin sekali di tendangnya lagi. Merasa tidak bersalah dengan perbuatannya yang merugikan anaknya sendiri.


"Tunggu Akak, El yang akan menjawab agar dia sadar!"


Dengan spontan mantan suami Ibu Fitria mundur beberapa langkah. Teringat tengkuknya ngilu karena ditendang. Tidak menyangka walau hamil besar memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Maksud Anda mau meminta bagian uang pesangon begitu?" tanya Elfa sambil bertolak pinggang.


"Iya."


"Apakah Anda pernah tahu ada orang dipecat akan mendapatkan pesangon?" Laki-laki mantan manager itu menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Perlu Anda tahu, perusahaan Mahardika Corp tidak memberikan pesangon kepada orang yang bersalah, seharusnya dijebeloskan ke penjara."


"Itu bukan pesangon, tetapi uang modal usaha agar anak-anak bisa meneruskan pendidikan walau tanpa memiliki ayah yang berkelakuan bejat."


Manager Jio langsung menegok ke arah Juan Mahardika. Laki-laki itu secara tidak langsung menduka perkataan Elfa juga berlaku untuk pemilik perusahaan tempat bekerja dulu. Karena dulu memiliki hobi sama dan sering berpetualang bersama.


Hanya dengan pandangan mata itu Elfa sangat tahu jalan pikiran mantan suami Ibu Fitria, "Jangan menuduh pemilik perusahaan, dia sudah taubat sekarang."


"Sayang, sudah jangan marah-marah. Sebaiknya kita laporkan saja ke pihak yang berwajib dengan tuduhan pemerasan dan perampokan."


"Saya setuju, kirim saja dia ke penjara." Ibu Fitria berbicara dengan tegas.


"Iya, harus ada efek jera menghadapi laki-laki yang tidak menyayangi anak-anaknya." Elfa masih menahan emosi.


Manager Jio hanya terdiam dan tidak berani berkata sepatah kata pun. Semua yang dikatakan istri dari mantan atasannya semua benar. Hanya diam dan pasrah serta merasa bersalah sudah memiliki pikiran buruk ingin merampok ibu dari anak-anaknya.


Dengan berat hati Ibu Fitria menyaksikan mantan suami dijemput oleh anggota kepolisian. Masih bingung bagaimana nanti jika anak-anak bertanya tentang papanya. Apalagi jika mereka bertanya alasan tentang mantan suami ditangkap polisi, pasti anak-anak akan meminta untuk dibebaskan.

__ADS_1


Setelah mantan suami Ibu Fitria di gelandang ke kantor polisi. Elfa dan Juan Mahardika berpamitan pulang ke rumah miliknya sendiri. Hampir menjelang pagi mereka baru tiba di rumah.


Sebelum pulsng Elfa meminta nomor ponsel Ibu Fitria. Berpesan untuk menghubungi jika ada masalah dengan mantan suami. Ingin membantu jika terjadi sesustu tentang mantan suami yang ingin berulah lagi.


Dalam perjalanan pulang, Elfa termenung teringat mantan suami dari Ibu Fitria. Laki-laki yanng berbadan kurus dan bertato itu terlihat pasrah saat digelandanng ke kantor polisi. Berharap dari peristiwa ini bisa sadar dan menyesali perbuatannya.


Teringat cerita Mami Mitha tentang Papi Alfarizi dan Abah Asep. Semua manusia memang tidak sempurna, tetapi sebaik-baik manusia adalah orang yang bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan buruk lagi.


Sampai di rumah dan masuk kamar Elfa masih banyak diam dan termenung. Membuat Juan Mahardika bigung dan khawatir. Saat Elfa berbaring Juan Mahardika memeriksa kaki Elfa dari ujung kaki sampai pangkal kaki bagian atas dengan membuka gaun hamilnya.


"Akak, mau ngapain buka gaun El?"


"Akak takut kaki El sakit, dari tadi diam saja setelah memukul manager itu di tengkuk."


"El tidak apa-apa, jangan dibuka!"


"El diam saja, Akak tidak mau ada luka sedikit pun kaki El."


Juan Mahardika memeriksa dengan teliti setiap inci lekuk kaki Elfa. Tidak ingin kakinya terluka sedikt pun. Sampai Elfa tergelak karena geli, "Akak, El tidak apa-apa."


"Lain kali jangan berlari dan menendang seperti itu!"


"El hanya spontan aja, Akak."


"Tetap aja itu bahaya demi twins baby kita."


"Iya maaf."


"Apa perlu Akak panggil tim dokter?"


"Tidak perlu, El mau istirahat dulu!"


Baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk istirahat. Ada suara notifikasi pesan masuk di ponsel Elfa. Pesan WA dari Ibu Fitria tentang mantan suami.


Yang membuka pertama adalah Juan Mahardika. Baru membaca saja suami Elfa itu sudah emosi dan marah sendiri, "Waduh, laki-laki tidak tahu diri, bukannya melindungi anak-anak ini malah dipakai untuk senjata," gerutu Juan Mahardika kesal.


"Pesan dari siapa sih, Akak?"


"Pesan dari Ibu Fitria."

__ADS_1


"Coba lihat apa pesannya?"


"Ini baca sendiri, Sayang!"


__ADS_2