Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 113. Sudah Beres


__ADS_3

Wanita seksi itu tercengang melihat ada empat orang yang mendekati. Suara ponsel yang berdering dari ponsel yang diangkat tinggi-tinggi. Tidak menyangka pesan WA yang dikirim ternyata hanya asisten dari orang yang baru saja dihubungi.


"Mengapa ponsel ...?" Wanita seksi itu tidak melanjutkan ucapannya saat melihat ada dua pengawal yang berdiri di belakang Asisten Dwi Saputra dan Andi.


"Ponsel yang kamu kirim pesan milik saya, bukan milik Tuan Juan," jawab Asisten Dwi Saputra dengan tegas.


"Apa mau kamu sebenarnya?" tanya Andi sambil melotot.


"Saya ... saya?" Wanita seksi itu seperti orang gagap saat berbicara. Menyadari salah sasaran pesan yang dikirim.


"Kamu tahu apa akibat jika pesan WA kamu ini sampai kepada Tuan Juan, apalagi istri Tuan Juan juga bukan sembarangan?" kata Andi mendekatkan badannya pada wanita seksi itu.


"Saya hanya ingin bertemu saja dengan Ju ... Ee, Tuan Juan."


"Hanya bertemu, bertemu seperti apa maksud kamu?" tanya Asisten Dwi Saputra.


Tatapan mata dari empat pasang laki-laki itu seolah ingin menelan hidup-hidup. Membuat wanita seksi itu semakin grogi dan minder. Tidak menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Asisten Dwi Saputra.


"Kamu masih berniat ingin bertemu dengan Tuan Juan?" tanya salah satu pengawal.


"Apakah masih boleh?"


Sambil tersenyum devil, dua pengawal menggelengkan kepala, "Dasar bodoh, kamu harus berhadapan dengan kami terlebih dahulu, mengerti?"


"Maaf, saya hanya ingin bertemu saja."


"Jika berniat hanya ingin bertemu bukan waktu hampir tengah malam begini, dasar wanita murahan," kata salah satu Pengawal dengan mengeratkan giginya.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, jangan sekali-kali mencoba menghubungi Tuan Juan!" perintah Asisten Dwi Saputra dengan suara yang tegas dan mata yang melotot.


"Sekali kami lihat kamu berusaha mendekati Tuan Juan atau istrinya, kamu tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi esok harinya. Sana pergi!" perintah Pengawal yang berbadan tegap dan bertato.


"Tetapi ...?" Wanita itu langsung berdiri dan memundurkan badan dan tidak melanjutkan ucapannya karena pengawal itu maju mendekat.

__ADS_1


"Pergi dari sini dan jangan menghubungi Tuan Juan kalau kamu ingin selamat!" perintah salah satu Pengawal sambil bertolak pinggang.


Wanita yang tidak diketahui namanya oleh Asisten Dwi Saputra itu bergegas ke luar lobi hotel. Di Rusia Pengawal bertampang garang dan bertato adalah orang yang paling ditakuti. Banyak yang enggan berurusan dengan mereka karena sering bertindak dengan tegas.


Keempat laki-laki memandang wanita seksi itu sampai tidak terlihat lagi dari hotel. Masih terus dilihat sampai dia menyeberang jalan melewati zebra cross. Masuk mobil pribadi yang tidak diketahui identitasnya juga masih diperhatikan.


Sementara saat Juan Mahardika masuk kamar perlahan. Mengira Elfa masih terlelap, tersentak kaget saat ditanya oleh Elfa dari balik selimut, "Dari mana malam-malam begini, Akak?"


"Astagfirullah, mengapa ada suaranya orangnya masih terlelap?" tanya Juan Mahardika sambil mengusap dada.


"El tidak tidur," jawab Elfa langsung membuka selimut dan duduk.


"Eee ...?" Juan Mahardika langsung maju dan duduk menghadap Elfa.


Saat Elfa terduduk dan membuka selimut terlihat jelas dua gundukan kembar. Elfa lupa jika saat tertidur tadi masih polos dan belum sempat mengenakan sehelai benang pun. Sehingga memudahkan Juan Mahardika langsung beraksi.


"Aduh Akak!" teriak Elfa saat Juan Mahardika langsung bermain ujung gundukan seperti anak kecil.


Juan mendongak dan tersenyum, gantian tangan yang bermain, "Salah sendiri membangunkan pusaka bumerang Akak!"


Juan Mahardika bercerita jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi sedikit pun. Sampai sekarang ponsel masih dipegang oleh sang asisten, "Sekarang mana ponsel Akak, El mau lihat dan membaca sendiri!"


"Masih dibawa oleh Dwi, AKak tidak membawanya."


"Cepat ambilkan baju, El mau melihat wanita itu sekarang!"


"Baik, duduklah. Akak bantu El memakainya!"


Elfa menggelengkan kepala, "Ogah, nanti Akak beraksi lagi kalau El bangun masih polos seperti tadi."


Juan Mahardika tergelak sambil memunguti semua baju milik Elfa yang tergeletak di lantai. Diri sendiri juga masih polos seperti istri saat berjalan dan mengambil baju Elfa, "El boleh balas beraksi saat Akak juga masih polos seperti El tadi!"


"Idih, ogah banget. Keenakan Akak."

__ADS_1


Semakin tergelak Juan Mahardika setelah Elfa menjawab sambil mengerucutkan bibirnya. Ikut memakai baju sendiri di depan Elfa setelah memberikan baju. Tidak ingin membiarkan Elfa ke luar kamar sendiri.


Sampai di lobi hotel bertepatan saat wanita seksi itu ke luar dan meninggalkan lobi hotel. Elfa dan Juan Mahardika hanya sekilas melihat wanita itu menyeberang jalan dan naik mobil. berdiri di belakang empat orang laki-laki yang sedang melihat arah luar.


"Apa yang terjadi, Dwi?" tanya Juan Mahardika mengagetkan keempat orang itu sambil berbalik badan.


"Astagfirullah, Tuan bikin kaget saja. Sudah beres," jawab Asisten Dwi Saputra sambil mengusap dada.


"Mari kita duduk dulu, Tuan dan Nyonya. Kami ceritakan!" ajak Andi sambil membungkukkan badan.


Sambil mendengarkan cerita bergantian, Elfa membaca pesan WA di ponsel Juan Mahardika. Di blokir dan hapus nomor ponsel itu agar tidak ada masalah lagi. Akan mulai ngangantisipasi mulai dari sekarang setelah tiga negara selalu menemui wanita masa lalu.


Yang pertama Elfa lakukan membuka ponsel dan mengambil kartu milik suami. Dipindahkan ke ponsel sendiri yang yang memiliki nomor ganda. Juan Mahardika hanya terdiam dan pasrah tanpa kata.


"Mulai sekarang Akak jangan memakai nomor ini, pakai nomor baru untuk urusan bisnis."


"Mengapa tidak dibuang saja nomor itu, Sayang?"


"Tidak, nanti kalau ada kejadian seperti ini bukan Asisten Dwi yang akan mengatasi, tetapi El sendiri yang akan mengatasi."


Asistern Dwi Saputra tersenyum dan mengangguk. Bahkan, tidak berani bertanya dan juga tidak berani memandang Elfa yang berbicara dengan tegas. Hanya berani melirik pada Juan Mahardika yang terlihat pasrah dan mengikuti apa yang menjadi keputusan sang istri.


Beda lagi dengan Andi yang memandang penuh kekaguman kepada Elfa. Istri tuannya yang bersikap tegas, terlihat sangat berwibawa dan penuh karisma. Tidak menyikapi masalah dengan emosi, tetapi menyelesaikan dengan tepat.


"Asisten Dwi," panggil Elfa dengan tegas.


"Ya, saya, Nona?"


"Negara mana lagi setelah dari sini, apakah bisa kamu kirim jadwal itu ke nomor ponsel Kak Juna yang tadi!"


"Tentu saja, Nona. Saya kirim sekarang."


Hanya dalam hitungan detik, jadwal kunjungan kerja dan bulan madu selama dua minggu ke depan terkirim. Sudah masuk di ponsel Elfa dengan nomor ponsel milik suami. Langsung dibaca dan dipahami semua jadwal yang sudah tersusun rapi.

__ADS_1


"Apakah El menginginkan perubahan dalam jadwal itu?" tanya Juan Mahardika dengan sabar.


__ADS_2