Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 124. Menahan Ditengah Rasa


__ADS_3

Juan Mahardika benar-benar melakukan apa yang dikatakan Elfa. Malam hari berangkat ke Ngawi mengantar istri dan pagi hari terbang lagi ke Jakarta menggunakan helikopter untuk bekerja. Dan sore harinya langsung menyusul ke Ngawi kembali setelah selesai bekerja.


Hari pertama dan kedua bolak-balik Jakarta Ngawi masih tidak terasa dan biasa saja. Namun, pada hari ketiga badan mulai merasakan tidak karuan, bukan karena capek dalam perjalanan dan bekerja. Namun, perjalanan menggunakan helikopter tidak senyaman menggunakan pesawat besar.


Mulai dari tekanan udara yang sangat berbeda karena pesawat helikopter cenderung terbang tidak terlalu tinggi. Suara bising dari baling-baling helikopter yang sangat keras. Sampai kondisi cuaca yang dingin saat pagi atau malam hari, membuat tubuh mudah lelah dan daya tahan menurun.


Pada hari ke tiga, Juan Mahardika langsung tertidur pulas setelah datang dari Jakarta pukul sembilan malam. Tidak melakukan rutinitas beraksi sebelum tidur. Hanya mampu memeluk istri langsung terlelap dalam mimpi.


Sebelum subuh terpaksa sudah harus berangkat karena pukul tujuh pagi harus sudah meeting. Hanya mengecup bibir Elfa sekilas tanpa membangunkan Elfa sebelum berangkat. Berpamitan dan meninggalkan pesan dan rayuan lewat pesan WA di ponsel saja.


Hari keempat badan rasanya remuk redam, campur aduk antara capek, tidak enak badan dan terlalu banyak pikiran. untung besoknya hari Sabtu dan Minggu sehingga bisa beristirahat total. Dari hari pertama Elfa merawat Abi Ali sudah sembuh, pada hari keempat merawat suami.


Merawat Abi Ali dan merawat suami sangatlah beda. Abi Ali yang menurut dan cepat melakukan semua yang dilakukan Elfa, makan, minum obat dan terkadang diberikan jamu cepat langsung habis. Membuat Abi Ali cepat sembuh dan bisa beraktifitas seperti semula.


Juan Mahardika selalu penuh drama saat diperhatikan. Seolah enggan sembuh agar terus diperhatikan dan disayang. Maunya dipeluk dan tidak mau ditinggal sedetik pun.


"Kayak anak kecil aja sih, Akak. El hanya mau ambil charger ponsel yang tadi ketinggalan di kamar Opa," kata Elfa saat Juan Mahardika tidak mau ditinggal sendirian di kamar.


"Nanti dulu, Sayang. Akak maunya dipeluk biar cepat sembuh."


"Bagaimana cepat sembuh, Akak minum obat aja drama dulu?"


"Sayang, Akak ini sembuhnya bukan sama obat, tetapi ...?"


Juan Mahardika tersenyum devil tidak melanjutkan ucapannya. Teringat aksi Elfa yang dulu bersemangat memimpin permaian. Sengaja melakukan drama karena ingin menikmati aksi itu lagi.


"Tetapi apa?" tanya Elfa dengan sudah mulai mencium modus suami.


Sambil tangan melingkar di pinggang Elfa yang berdiri di pinggir tempat tidur, "Akak mau El yang memimpin permainan memanjakan pusaka bumerang. Pasti Akak langsung sembuh!"

__ADS_1


Elfa mengerucutkan bibirnya sambil melepas tangan suami yang ada dipinggang, "Akak coba lihat sekarang jam berapa? Coba ingat waktu kalau modus."


Juan Mahardika tersenyum dan melirik saja jam yang ada di atas pintu. Waktu menunjukkan hampir menjelang magrib tiba, "Baiklah, nanti saja setelah solat isya. Ingat harus El yang memimpin!"


Elfa pergi begitu saja ke luar kamar, enggan menjawab atau menolak. Percuma juga dijawab karena sudah bisa menebak pasti akan terus merayu sampai keinginannya tercapai. Berbagai alasan dan yang paling ampuh pasti beralasan sebagai obat.


"Sayang ...!"


"Emboh ora weruh," jawab Elfa sekenanya diikuti gelak tawa Juan Mahardika.


Juan Mahardika melakukan solat magrib dan isya berjamaah seperti biasa. Jika di luar kamar dibuat seolah-olah sehat dan tidak terjadi apa-apa. Namun, jika di dalam kamar akan kembali membuat drama dengan harapan modus berhasil.


Elfa masuk kamar setelah selesai memberikan obat dan vitamin untuk Abi Ali. Berharap sang suami sudah lupa dengan permintaan aneh obat untuk menyembuhkan sakit tadi sore. Pura-pura lupa dan langsung duduk di kursi meja rias untuk membrsihkan wajah sebelum tidur.


Awalnya Juan Mahardika hanya tersenyum sambil menunggu Elfa selesai. Memandang istri dengan penuh cinta dan tanpa kata. Seolah sabar menunggu seperti biasa.


Sudah hafal tahapan kegiatan Elfa saat menjelang tidur. Baru saja selesai mengoleskan krim malam dan pelembab kulit, Juan Mahardika mulai membuat ulah, "Aduh!" teriaknya.


"Sayang, sini sebentar, ada bentol pinggang Akak digigit nyamuk!"


Tanpa curiga Elfa mendekati suami yang tidur miring menghadap ke belakang, "Mana sih, Akak?"


"Ini lo, Sayang!" Tanpa diduga Juan Mahardika berbalik badan dan membawa sang istri dalam pelukan.


"Akak!" teriak Elfa.


Juan Mahardika tergelak dan langsung beraksi seperti biasa. Elfa tersenyum karena menduga sang suami lupa tentang permintaan untuk memimpin beraksi. Elfa seperti biasa, menikmati dan mengimbangi aksi suami sampai rasa ingin terus berlanjut.


Setelah di pertengahan rasa, tiba-tiba Juan Mahardika dengan sengaja menghentikan aksinya, "Akak capek, Sayang. Badan Akak belum fit benar, tolong lanjutkan dong, please!" pinta Juan Mahardika sambil tersenyum devil.

__ADS_1


Elfa sebenarnya mulai faham trik dan modus suami, tetapi rasa itu sudah tidak bisa ditunda lagi. Menahan ditengah rasa sangat tidak enak. Tanpa bisa dicegah dan tanpa bisa ditahan, Elfa langsung memimpin aksi sampai di puncak nirwana.


Permainan Elfa kali ini lebih lepas dan tidak malu-malu lagi. Bukan puas lagi bagi Juan Mahardika, tetapi sangat mengesankan dan membuat ketagihan. Saat Elfa tumbang di samping sang suami, Juan Mahardika tergelak dan mengacungkan dua jempolnya.


"I love you, Garwoku. Ini obat yang paling mujarab seperti yang Akak harapkan," bisik Juan Mahardika di telinga Elfa.


Elfa yang bermandikan keringat tidak menjawab bisikan sang suami. Elfa langsung menarik selimut sampai menutupi wajah. Setelah selesai baru merasa malu dan menyadari yang dilakukan terlalu bersemangat.


Juan Mahardika semakin menggoda sang istri yang malu-malu kucing. "Sayang, mengapa malu tidak perlu ditutup wajah cantiknya, Akak sangat suka melihat wajah El yang merah merona!"


"Akak curang sih."


"Akak tidak curang." Juan Mahardika membuka sedikit selimut yang menutup wajah Elfa.


Elfa kaget saat wajah sang suami hampir menempel hidung. Memandang dengan penuh cinta dan sangat terlihat akan melanjutkan ronde ke dua.


"Akak mau ngapain?"


"Akak sedang dalam mode ketagihan aksi El. Apakah boleh berlanjut?"


"Tuggu dulu, Akak mundur!"


Dengan patuh Juan Mahardika mundur dan menunggu. Hanya menunggu dengan kembali memandang wajah istri yang masih bercucuran keringat. Mengusap dengan lembut menggunakan tisu yang diambil di samping tempat tidur.


Elfa tersenyum mendapatkan ide setelah sang suami pengusap keringat di wajah. Sedangkan, di badan masih bercucuran keringat karena aksi barusan, "Akak ingin El beraksi seperti tadi?"


"Iya, Akak mau banget."


Elfa beraksi seperti Juan Mahardika memulai aksinya sambil memindahkan keringat ke badan suami. Memancing sampai ditengah rasa seperti yang dilakukan suami tadi. Langsung turun dari tempat tidur setelah sang suami mulai terlena, "Aduh, maaf Akak. El mau ke kamar mandi dulu," pamit Elfa melenggang masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana ini badan Akak basah, tetapi ...?"


__ADS_2