
Juan Mahardika jalan mundur sambil menarik Papi Alfarizi melihat laki-laki gemulai penjual roti kopi, "Pi, Juan menyerah kalu suruh menghadapi laki-laki letoy seperti itu."
"Papi juga geli, tunggu Papi panggil Mami saja!"
Mami Mitha yang awalnya duduk, jadi tergelak melihat suami dan menantu mundur teratur, "Mami saja yang membeli rotinya, coba lihat mereka!"
"Iya, Mami. El tunggu di sini saja!"
Mami Mitha langsung melangkah dan memesan roti kopi, "Sini uangnya Mami saja yang beli!"
"Ini uangnya, Maaf Juan jadi geli lihat dia, Mami." Juan Mahardika memberikan uang merah bergambar Soekarno dan Mohammad Hatta.
"Sana kalian duduk saja!"
Dengan cepat laki-laki gemulai mengambilkan kue pesanan Mami Mitha sambil melirik dua laki-laki bule yang sedang menjauh. Mulutnya komat-kamit seperti wanita yang sedang memarahi anaknya yang nakal. Mami Mitha hanya tersenyum tanpa menanggapi ocehan penjual roti kopi.
"Ini silakan dimakan, Nak!" Mami Mitha memberikan tiga bungkus roti bulat beraroma kopi yang sangat menggugah selera.
"Terima kasih, Mami. Baunya sangat harum."
Hampir setengah jam Elfa duduk menimkati nikmatnya roti kopi, ditampah cokelat hangat yang dipesan di samping roti kopi. Di bandara ada banyak sekali restoran yang menjajakan berbagai menu masakan nusantara. Seolah semua melambai-lambai ingin dinikmati.
Elfa memperhatikan restoran yang ada setiap dilewati. Juan Mahardika sekalu memperhatikan Elfa yang melihat dengan teliti, "Ada yang diinginkan lagi, Sayang?"
"Tidak, El tiba-tiba pingin makan opor ayam buatan Mami."
Mami Mtha yang mendengar keinginan Elfa tersenyum simpul, "Kita pulang saja, Mami sudah masak opor ayam tadi pagi."
Hampir satu minggu ini, Elfa tinggal di Bekasi bersama Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Karena kantor sering ditinggal oleh Juan Mahardika, pekerjaan sangat menumpuk. Setiap hari terpaksa suami Elfa selalu pulang terlambat.
Malam ini, Juan Mahardika sampai di Bekasi pukul sepuluh malam. Masuk kamar ingin segera bertemu dengan istri tercinta. Menduga pasti istri tercinta sudah terlelap dalam mimpi.
Membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan istri yang sudah terlelap. Namun, saat masuk tidak ada Elfa di kamar. Tempat tidur masih bersih dan rapi belum ditempati, "Sayang, El ke mana?"
Sengaja bergegas ke kamar mandi menduga sekarang ini berada di sana, "Di sini kok juga tidak ada, El kemana sih jam segini?"
Ada suara orang berbincang dan tertawa di belakang rumah dekat kolam renang. Melihat ada juga bibi yang masih sibuk di dapur, "Bibi!"
"Anda mencari Non El, Tuan?"
"Iya, ke mana diia?"
"Ada di belakang rumah dekat kolam renang."
"Mengapa jam segini masih di luar sih?" gerutu Juan Mahardika dengan khawatir.
__ADS_1
"Ada tamu, Tuan. Seluruh keluarga masih berbincang di sana."
"Dari mana tamunya, Bibi?"
"Saya tidak mengenal dia, tetapi Non El sangat senang tamu itu datang."
Juan Mahardika langsung berlari ke rumah halaman belakang. Ada suara canda dan tawa keluarga dan mendengar suara yang pernah didengarnya, "Kok suara itu tidak asing sih?"
Kembali Juan Mahardika berlari mendekati kolam renang, "Sayang!" teriaknya.
"Akak, kemarilah dan lihat siapa yang datang!"
Elfa sedang duduk di pinggir kolam renang sambil meluruskan kakinya. Ada wanita berhijab yang sedang memberikan terapi pijat kaki Elfa. Wanita paruh baya yang dulu pernah di temuai saat ada di Kalimantan.
"Assalamualaikum, Tuan."
"Walaikum salam Nany Sofia, kapan datang?"
"Tadi sore, Tuan."
"Akak mau diterapi juga? tadi Mami dan Papi juga diterapi kakinya sama Nany Sofia, El sudah dua kali ini diterapi."
"Tidak, Akak tidak capek. Mengapa terapinya sampai dua kali?" tanya Juan Mahardika.
"Karena twins baby, jadi El mau diterapi dua kali."
"Iya sebentar lagi, Akak duduk dulu sebentar!"
Setelah sepuluh menit berlalu, Elfa berpamitan untuk istirahat terlebih dahulu. Juan Mahardika menggandeng Elfa berjalan menuju kamar, "Enakan mana sama terapi Akak?"
Elfa hanya nyengir kuda mendengar pertanyaan suami, sangat besar perbedaan dari keduanya, "Enakan mana ya? menurut El dua-duanya enak sih, cuma kalau Akak yang terapi pasti ada plus-plusnya."
"El mau Akak terapi lagi?"
"Boleh saja sih, asal jangan ada plus-plusnya."
"Seandainya Akak balik bagaimana?"
"Maksud Akak apa?"
"Hanya plus-plus aja tanpa terapi."
"Dasar tukang modus, sana mandi dulu, Akak bau!"
Juan Mahardika tergelak sambil mengusap perut buncit Elfa, "Daddy sangat merindukan kalian."
__ADS_1
Juan Mahardika masuk kamar mandi, Elfa duduk di atas tempat tidur sambil meluruskan kaki. Rasa rileks dan tidak tegang kaki yang diterapi oleh Nany Sofia. Membuka ponsel dan ingin mencari berita sekitar Indonesia.
Belum saja mendapat berita penting tentang Indonesia. Elfa melihat ada menu mie godog asli Jogja yang sangat menggugah selera. Ada salah satu artis yang sedang menikmati satu mangkuk mie itu dengan lahap.
"Ya Allah, enak sekali sepertinya. Di mana belinya itu?" monolog Elfa terus memperhatikan sampai selesai si artis menikmati menu makan itu.
Juan Mahardika mendengar Elfa berbicara sendiri langsung berdiri di samping tempat tidur, "Apanya yang enak?"
"Akak, El mau makan mie godog ini!" pintanya dengan suara manja.
"Di mana belinya, coba Akak lihat!"
Elfa memberikan ponsel miliknya pada Juan Mahardika. Tanpa sengaja tangan Elfa menyenggol handuk yang melingkar di pinggang suami tercinta, "Eee maaf!"
Handuk yang melingkar melorot terjatuh di lantai, "Aduh, El pingin ya?" goda Juan Mahardika berdiri masih polos.
Elfa langsung menutup wajahnya dengan dua tangan, "Kagak, El tidak sengaja!"
Juan Mahardika tergelak membuka jari Elfa sedikit, "Kelihatan tidak pusaka bumerang Akak?"
"Iiiih, Akak. Disarungin dulu itu pusaka!"
"Dia sudah bangun."
"Nanti saja beraksinya, El mau makan mie godog Jogja dulu!"
Juan Mahardika perlahan naik ketempat tidur dan sengaja berada di atas Elfa yang masih meluruskan kaki. Sengaja pusaka bumerang itu digosokkan di atas kaki bagian atas, "Mie godog itu berada di Jakarta Barat, restoran itu buka dari jam sembilan pagi sampai jam delapan malam."
"Waduh, berarti sekarang sudah tutup dong?"
"Iya beraksi saja dulu ya?" Kembali pusaka bumerang itu digosok perlahan.
"Aaaa Akak, jangan di gosok begitu!"
"Kalau El masih menutup mata, Akak akan terus menggosokkan ini!"
"Iya, baik beraksi dulu, tetapi setelah itu kita berangkat ke Jakarta Barat ya?"
"Ok, siapa takut!"
Juan Mahardika menyetujui permintaan Elfa karena sudah mulai menahan rasa. Tanpa menyadari menjanjikan berangkat setelah beraksi. Juan Mahardika lupa kalau kedai mie godog akan buka besok pagi.
Dengan tersenyum mengembang Elfa mengimbangi permainan suami. Walau seperti biasa pelan-pelan,tetapi pasti bisa mencapai puncak dengan puas. Elfa bergegas menagih janji setelah selesai satu ronde, "Ayo kita berangkat sekarang, Akak?"
"Lo mau ngapain berangkat sekarang bukanya masih besok pagi?" Suami tercinta baru sadar setelah tidak menahan rasa.
__ADS_1
"Pokoknya El tidak mau tahu, harus berangkat sekarang seperti janji Akak sebelum beraksi tadi."
"Waduh ... piye iki?"