Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 189. Kontraksi


__ADS_3

Juan Mahardika bingung menjawab saat ditanya oleh Elfa. Tadi terasa melilit sakit seperti diaduk rasanya perut. Namun, setelah masuk kamar mandi tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada tanda apapun.


"Tiba-tiba sakitnya menghilang tanpa bekas, Sayang."


"Kok aneh sih, Akak. Tadi penyakitnya bohong sekarang hilang tanpa bekas. Kayak peminjam online aja sih."


Hanya nyengir kuda saja Juan mahardika mendengar ucapan Elfa. Baru kali ini merasakan sakit yang aneh, "Sudah tidak usah dipikir, sini kaki El, Akak oles menggunakan minyak zaitun!"


Elfa sampai tertidur saat jari Juan Mahardika memberikan terapi dengan lembut. Langsung ikut berbaring di samping sang istri sambil mengusap perutnya yang membuncit. Mencurahkan kasih yang selalu menggebu di dalam hati.


Setelah tertidur tiga jam lamanya atau tepatnya satu jam lebih dari tengah jam. Juan Mahardika langsung terduduk karena merasakan sakit melilit seperti tiga yang lalu. Bahkan, ini semakin sakit lagi dari yang pertama tadi.


Berkali-kali Juan Mahardika mengambil napas panjang. Tidak ingin bergegas ke kamar mandi hanya meluruskan kaki dan mencoba untuk tenang. Berangsur-angsur sakitnya menghilang seperti tadi.


Terdiam dan mengatur napas agar teratur. Mengerutkan kening mengingat saat awal kehamilan Elfa dahulu. Saat muntah pada pagi hari juga merasakan melilit sakit perut. Namun, sakit itu sangat berbeda dan tidak sesakit hari ini.


Ingin melakukan ibadah malam hari masih belum diwaktu yang terbaik. Kembali berbaring dan memeluk Elfa yang masih tertidur pulas. Mencoba untuk memejamkan mata sambil berdoa dan bermunajad pada Ilahi Robbi semua akan berjalan dengan lancar.


Tepat di sepertiga malam, Juan Mahardika mengalami hal sama seperti tadi. Hanya bedanya jaraknya yang berbeda dari yang pertama, "Ini jam tiga, berarti dua jam yang lalu mengalami sakit seperti ini. Tadi berjarak tiga jam, ada apa sebenarnya ini?" monolog Juan Mahardika sendiri sambil mengatur napas agar sakitnya berkurang.


Turun dari tempat tidur perlahan, melihat istri tercinta tidur dengan lelap. Mengusap pipinya dengan lembut dan tersenyum sendiri, "Alhamdulillah malam ini tidur nyenyak."


Juan Maharidika ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Menggelar sajadah di samping sang istri yang terlelap. Merayu Yang Maha Kuasa untuk memberikan kelancaran istri tercinta melahirkan.


Menengadahkan tangan memohon ampunan, memohon kesehatan dan keselamatan untuk orang tua, istri dan bayi yang belum lahir. Untuk keluarga besar dan leluhur yang telah berpulang terlebih dahulu. Bermunajat mengharapkan keridhoan, ampunan, bantuan dan hidayah hanya kepada yang maha Khaliq.


Baru saja Juan Mahardika melipat sajadah, Elfa terbangun dengan keringat yang becucuran padahal AC masih menyala, "Akak, kok panas sekali, apakah AC nya mati?"


"Tidak, Sayang. AC masih on, El keringetan banyak ya?"


"Iya, bantuin bangun, Akak!"

__ADS_1


"Ayo!"


Sambil memeluk punggung Elfa, Juan Mahardika membantu Elfa duduk di pinggir tempat tidur. Bergegas mengusap keringat yang ada di wajah istri tercinta menggunakan tisu. Memeriksa suhu tubuh dengan menempelkan tangan pada dahi dan telapak tangan Elfa.


"Apa yang dirasakan, Sayang?"


"Tidak merasakan apa-apa, Akak. Hanya merasa udara panas saja."


"Mau minum air putih?"


"Boleh."


Elfa minum satu gelas air putih, keringat semakin bercucuran. Seolah merasakan saat ini berada di tengah hari yang sangat panas. Suhu tubuh tidak tinggi dan tidak keringat dingin, hanya keringat seperti biasa saja.


"Apakah perlu kipas angin, Sayang?"


"Tidak usah, Akak. El mau ke kamar mandi saja."


Setelah ke luar dari kamar mandi, Elfa terus mengeluarkan keringat tanpa henti. Juan Mahardika memanggil Nany Sofia yang kamarnya tidak jauh dari kamar twins baby. Ingin meminta pertimbangan langkah selanjutnya.


Tepat Nany Sofia masuk kamar dan memeriksa suhu tubuh Elfa. Juan Mahardika menjerit karena perut melilit kembali seperti tadi, "Auw perut Akak, Sayang!" teriaknya.


"Ada apa, Akak?"


"Tuan, ambil napas panjang!" perintah Nany Sofia.


Sama seperti biasa sakit itu lama-lama menghilang. Jaraknya sekitar satu jam lebih empat puluh lima menit dari jarak sakit terakhir. Juan Mahardika bercerita semua yang dialami dari awal sampai akhir termasuk doa meminta agar sakitnya berpindah saat melahirkan.


Nany Sofia langsung tersenyum mendengar cerita Juan Maharika. Pengalamannya menjadi seorang ibu sangat tahu yang dialami, "Doa Anda terkabul, Tuan. Kemungkinan itu tanda-tanda kontraksi, Nyonya akan melahirkan sebentar lagi."


"Benarkah, Subhanallah sesakit itu melahirkan, Nany?" tanya Juan Mahrdika.

__ADS_1


"Itu belum ada seper sepuluhnya, Tuan. Sakitnya akan sepuluh kali lipat dari yang Anda rasakan. Saya panggil tim dokter untuk memeriksa Nyonya El, Tuan."


"Ya sana cepat!"


Tim dokter memeriksa Elfa dengan teliti. Dokter mengatakan sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, tetapi baru tanda awal. Jika dilihat dari tanda-tanda kontraksi yang dialami Juan Mahardika kemungkinan Elfa akan melahirkan sore atau malam hari.


Juan Mahardika langsung menghubungi seluruh keluarga tanpa kecuali. Rasa sakit yang diurasakan semakin membuat suami Elfa itu sangat khawatir. Rasa sakitnya lebih dari meminum obat penguras perut melilit sakit sampai ke pinggul.


Mommy Vera dan Daddy Hans Mahardika langsung terbang dari Australia menggunakan pesawat pribadi. Mami Mita, Papi Alfarizi dan Alfian Alfarizi memerintahkan Juan Mahardika untuk ke rumah sakit Aljuzeka saja.


Sudah di persiapkan oleh kakak kandung Elfa dengan peralatan yang canggih untuk melahirkan. Tim Dokter juga menyetujui Elfa ke Bogor menggunakan ambulance saja. Elfa masih terlihat sehat dan bersikap biasa hanya mengeluarkan keringat saja, sedangkan yang mengalami kesakitan suami tercinta.


Mami Mitha dan Papi Alfarizi memilih naik helikopter dari Bekasi ke Bogor. Rena dan Asisten Dwi Saputra langsung meluncur menggunakan mobil pribadi berangkat menyusul ambulance. Bahkan, Pakde Sarto dan Bude Marmi langsung membeli tiket pesawat melalui bandara Adi Sumarmo Solo.


Dalam ambulance yang berjalan lancar tanpa hambatan, Elfa duduk anteng bersandar pada bahu Juan Mahardika. Elfa sangat santai tidak merasakan apapun juga kecuali hanya berkeringat. Kontraksi yang dialami oleh Juan Mahardika masih jarang karena selama dalam perjalanan tidak mengalami kontraksi lagi.


Juan Mahardika hanya terus mengusap keringat yang terus mengucur di wajah, lengan dan badan Elfa. Keringat itu sampai membasahi gaun hamil Elfa, padahal tadi sesaat sebelum berangkat ke Bogor Elfa sudah berganti baju. Sekarang belum ada setengah perjalanan gaun hamil yang dikenakan sudah basah kembali.


"Akak, panas banget. El mau kipas?"


Nany Sofia hanya membawa kipas angin portebel kecil yang dimasukkan dalam tasnya, "Ini ada kipas portebel, Tuan."


"Ini juga sudah lumayan terima kasih, Nany."


Kipas angin hanya mengurangi keringat Elfa sedikit saja. Nany Sofia ikut membantu mengurangi suhu panas yang dirasakan Elfa dengan kertas kardus dan digerakkan tangan. Ambulan sampai di depan rumah sakit, Elfa merasa nyaman karena ada kipas portebel dan kipas alami.


Ambulance berhenti di depan UGD, "Ayo turun, Sayang!"


Baru saja kaki Juan Mahardika turun satu menginjak lantai. Perut mengalami kontraksi seperti tadi. Rasa itu semakin sakit melilit tidak tertahankan.


"Auw, ya Allah ya Rob sakit sekali perut Akak, Sayang!" teriak Juan Mahardika kembali duduk di dalam ambulance sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2