
Dengan spontan Juan Mahadika bangun dan duduk disamping Elfa, "Sini Akak lihat sebentar!"
Ada air yang mengalir dari sela dua kaki. Terlihat air yang sedikit keruh dan tidak berbau. Membasahi gaun Elfa bagian belakang sampai ke celana yang dipakai.
"Mami, ini bagaimana?" tanya Juan Mahardika.
"Ini air ketuban sudah pecah, tunggu Mami panggil Kak Atha dulu!"
Hanya kurang dari satu menit tim dokter datang. Mereka stand bye di samping kamar Elfa sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk datang. Langsung memeriksa dengan teliti keadaan Elfa karena pecah ketuban berarti tanda-tanda akan segera melahirkan.
Tiba-tiba Elfa merasakan sakit bersamaan dengan Juan Mahardika yang merasa perut seperti diaduk, "Aaaa Akak perut El sakit!"
"Aduh jangan sakit, Sayang. Akak saja yang sakit. Kakak Atha jangan biarkan El yang sakit!" Juan Mahardika bingung dan panik melihat istri tercinta akhirnya merasakan kontraksi seperti yang di rasakan hampir seharian ini.
"Tidak bisa Adik Ipar, itu sudah resiko seorang ibu yang akan melahirkan. Ayo kita siap-siap ini sudah pembukaan lengkap sebentar lagi twins baby lahir!' perintah Dokter Atha dengan tegas.
"Maaf, Sayang. Sini tangannya pindahkan semua sakit itu pada perut Akak!" Juan Mahardika meraih tangan Elfa dan meletakkan tangan di perut sendiri.
"Ayo kita siap, Adik Ipar mau mendampingi atau akan ke luar dari sini?"
"Tidak mungkin Juan meninggalkan El, Kak Atha!"
"baik kalau begitu, ayo kita bersiap-siap!"
Elfa sudah berbaring di tempat tidur khusus untuk ibu melahirkan secara normal. Juan Mahardika duduk memangku kepala Elfa dengan kaki di buka selebar bahu. Selalu berdoa semoga diberikan kelancaran istri tercinta melahirkan dua yang diprediksi kembar laki-laki dan perempuan.
Elfa menjerit kesakitan melebihi Juan Mahardika saat kontraksi tadi. Juan Mahardika tidak mengalami sakit setelah memangku Elfa. Seolah sakit itu ditransfer pada istri saat memangku kepalanya.
"Sayang, maaf jangan menangis. Ayo berdoa semoga semua berjalan dengan lancar!"
"Iya baik, Akak. Aamiin ya robbal alamin." Elfa terus meneteskan air mata.
"El, nanti kalau ada rasa ingin pup, bilang Kak Atha.Itu tandanya baby akan lahir!"
__ADS_1
"Iya, Kak. Mengapa sakit sekali?" tanya Elfa sambil meringis kesakitan.
"Sabar ya Sayang!"
Lebih dari sepuluh menit, Elfa berteiak-teriak kesakitan. Saat sakit itu datang tangan Elfa mencengkeram lengan Juan Mahardika. Walau kuku tidak seberapa panjang, tetap saja ada bekas yang menancap di lengan.
Hanya dalam sepuluh menit, sudah ada tiga luka bekas kuku yang menancap di kulit lengan. Terkadang saat sakit tidak tertahankan tanpa sadar tangan Elfa menarik rabut, telinga dan bahkan kerah baju suami tercinta. Sedangkan Juan Mahardika menerima dengan pasrah menganggap sebagai ganti karena tidak merasakan lagi kontraksi seperti tadi.
Tangan yang terluka, rambut yang ditarik rasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit yang tadi. Juan Mahardika ikut meneteskan air mata sambil mengusap pipi Elfa dengan lembut, "Sabar, Sayang. semoga sebentar lagi baby kita lahir sehat dan selamat."
"Aamiin." Dokter Atha yang menjawab.
Air ketuban masih saja mengalir tanpa terasa. Hanya terasa semakin waktu semakin basah gaun hamil yang dikenakan. Setelah perut terasa melilit tiba-tiba ingin pup yang tidak tertahankan.
"Kak Atha, El mau Aaaa ...!" teiaknya dengan suara kencang.
"Tunggu dulu, jangan sekarang!" perintah Dokter Atha.
"Uf ft ft ...." Napas Elfa terengah-engah karena belum bisa mengendalikan rasa yang terus bertambah sakit ditambah ingin pup tetapi tidak juga keluar.
"Hhmm."
"Akak, sakit!" teriak Elfa.
"Ambil napas panjang, Sayang!" perintah Juan Mahardika.
"Sekarang mau ... aaah!"
"Ambil napas panjang, El!" perintah Dokter Atha.
"Ya sudah betul begitu, dan dorong!" perintah Dokter Atha!"
"Aaaaaa ... ft ... ft," Belum juga napas Elfa kuat mendorong baby untuk keluar.
__ADS_1
"Istirahat dulu, setalah napas sudah teratur. El boleh mengejan dengan sekuat tenaga, El mengerti?"
"Iya Kak Atha."
Juan Mahardika mengusap keringat Elfa yang terus mengucur deras. Mengecup kening Elfa untuk memnyalurkan rasa cinta yang ada, "Ayo semangat, Sayang!"
"Iya ... rasanya ingin Aaaaaaa!"
"Cepat dorong El!" teriak Dokter Atha.
"Aaaa ...!"
"Oek oek oek." Suara bayi menangis dengan kencang.
"Alhamdulillah baby boy sudah ke luar." Dokter Emy yang menyambutnya.
Bidan dan dua suster langsung menangani baby boy. Dokter Emy kembali membantu Dokter Atha untuk mempersiapkan bayi perempuan yang belum lahir. Selalu waspada dan membiarkan Elfa untuk beristirahat sebentar.
"Alhamdu ... Aaa mau lagi, Akak!"
"Ambil napas panjang dulu, Sayang!" Juan Mahardika sampai ikut mengambil napas panjang.
"Aaaaaa ...!"
"Oek oek oek." Suara bayi kedua lahir dengan tangis yang lebih kenang lagi.
"Alhamdulillah baby girlnya juga sehat," kata Dokter Atha yang menangani bayi perempuan yang baru saja lahir.
Yang tadinya tangisan karena sakit sekarang tangisan kebahagiaan. Dengan mencium seluruh wajah Elfa, Juan Mahardika terus meneteskan air mata dengan mulut berucap syukur dan terima kasih. Baik untuk yang maha Khaliq ataupun untuk istri tercinta atas anugerah yang tidak ternilai.
Suara dua tangisan yang bersahutan terdengar merdu di telinga kedua orang tua baru. Walau memandang dua buah hati dari kejauhan karena masih dibersihkan. Namun, kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Sayang. Sakit itu berbanding lurus dengan kebahagiaan sekarang ini, lihatlah Twin Baby kita," kata Juan Maharika dengan linangan air mata kebahagiaan.
__ADS_1
"Sama-sama, Akak. Melihat mereka seolah lenyap semua rasa sakit yang tadi. Terima kasih, I love you so much."
Dokter melanjutkan menanganan paska melahirkan pada Elfa selama seperempat jam. Kemudian berganti baju dan berpindah kembali ketempat tidur. Dua dokter menggendong twins baby setelah selesai di bersihkan. "Lihatlah baby kalian berwajah bule tetapi matanya khas keturunan arab!"