Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 166. Seperti Tiga Pasang Suami Istri


__ADS_3

Sambil mengusap pipi Elfa yang basah, Juan Mahardika menggelengkan kepala, "Akak tidak bilang El gemuk, jangan sensi dong. El tetap seksi kok."


"Modus aja paling, cepat lanjutkan di sebelah sini belum!" perintah Elfa sambil menunjuk pundak.


"Kalau terapi pundak enaknya dari depan, ada pemandangan plus yang sangat indah."


"Eee ...?" Elfa langsung menyilangkan dada, padahal dua gundukan tidak terlihat karena sedang berendam di buth-up.


Juan Mahardika tergelak mengurut pundak Elfa perlahan. Terkadang hanya mentowel puncak gundukan dengan tersenyum devil. Ingin segera bisa menikmati indahnya berdua, tetapi harus membuat sang istri rileks terlebih dahulu.


Juan Mahardika mendapatkan buah usaha yang manis setelah memberikan terapi yang membuat tubuh Elfa rileks. Pusaka bumerang bisa bergoyang dan mendapatkan kepuasan seperti keinginan. Walau harus melakukan perlahan agar tidak menyakiti buah hati yang sedang tumbuh.


"Terima kasih, Sayang. Ayo kita mandi bersih dulu!"


Elfa selalu mendapatkan perlakuan istimewa setelah bisa mensejaterakan pusaka bumerang. Mandi bersih dibantu mulai dari memakai sabun dan sampo. Mengeringkan rambut setelah selesai mandi juga dilakukan oleh suami tercinta, Elfa hanya duduk di kursi meja rias, semua dilakukan oleh Juan Mahardika dengan sabar.


Sore ini Elfa duduk di ruang keluarga bersama Juan Mahardika. Menikmati buah melon dan mangga yang sudah di potong dadu untuk Elfa. Nanas juga dipotong dadu untuk Juan Mahardika.


"Sayang, menurut El apakah kemungkinan Kris bersedia ikut Mama Cristine dan Henry ke Eropa?"


"Kalau boleh jujur, El memilih Kris bersama kita. Dia akan aman dan tidak akan kekurangan suatu apapun. Namun, kalau melihat sifat Kris kemungkinan dia akan memilih ikut ke Eropa."


"Maksudnya apa Sayang?"


"El melihat Mama Cristine sangat tulus pada Kris. Sifat Kris yang mandiri dan Mama Cristine yang penyabar sepertinya klop seolah botol mendapatkan tutup yang pas saat berbincang."


"Seandainya dia ikut ke Eropa, apakah El setuju jika Ibu Prayuda dan dua adik Kris kita jemput dan ikut juga?"


"El sangat setuju, Akak. Ada apartemen Akak di sana jadi mereka bisa tinggal di sana."


"Ok, kita tunggu keputusan Kris saja."


"Iya, Akak."


Selama tiga hari berturut-turut, Hendry Alexander dan Mama Cristine selalu datang setiap pagi hari. Mereka selalu membawa buah tangan untuk Kris. Terkadang stim ikan barramundi terkadang buah-buahan segar yang sudah dikupas dan dipotong dadu.

__ADS_1


Mama Cristine semakin akrab dengan Kris. Mereka selalu berbincang dan bercanda seolah ibu dan putrinya yang sedang bercengkrama. Terkadang Henry Alexander menjadi orang ketiga diantara keduanya.


Elfa dan Rena semakin tenang saat melihat Kris sangat bahagia selama tiga hari terakhir ini. Wajahnya jarang terlihat murung, sangat optimis menyongsong masa depan. Tidak lagi merasa ragu dan bimbang seperti kemarin lagi.


Hari ini hari terakhir Mama Cristine dan Henry Alexander ada di Australia. Mama dan putranya itu mengundang dua pasangan sahabat Kris dan Kris makan siang di restoran ternama. Hari ini juga Kris pertama kali ke luar dari rumah mewah milik Elfa dan Juan Mahardika.


Berangkat satu mobil berlima ke restoran. Setelah sampai di restoran duduk berdampingan tiga pasangan dan satu orang tua. Jika dilihat sekilas mereka seperti satu keluarga yang sedang makan bersama ibu tercinta.


Kris terlihat nyaman duduk dan berbincang dengan Henry Alexander. Wajahnya terlihat bersinar, senyumnya selalu mengembang. Tidak ada rasa sedih dan duka lara karena ayah dari putra yang di kandungan.


"Nanti sore kami akan pulang, terima kasih sudah menganggap Mama seperti keluarga kalian."


"Sama-sama, Ma. Kris sangat bahagia kenal dan bisa bersama Mama."


"El juga terim kasih Mama mau menyayangi kami."


"Rey minta doa restu, Mama. Semoga bisa menyusul Kris dan El memiliki momongan."


"Iya, semoga Rey cepat mendapatkan keturunan. Jangan lupa berdoa dan berusaha!"


"Kalau itu sudah pasti," jawab Asisten Dwi Saputra.


Sedang asyik menikmati hidangan yang ada, Asisten Dwi Saputra tiba-tiba iseng melihat berita di dunia maya. Sherly Crash tadi pagi sudah bebas dan ke luar dari penjara. Model majalah dewasa itu langsung trending dan disorot media.


"Tuan, lihatlah berita ini!" Asisten Dwi Saputra menunjukkan berita yang ada di dunia maya yang ada di ponsel.


"Ada apa, Akak?"


"Ini berita tentang model yang pernah masuk bui itu."


"Sherly Crash?"


"Iya."


Elfa bergegas membuka ponsel milik sendiri. Membuka media sosial mencari berita tentang mantan tunangan Juan Mahardika. Model itu sedang trending karena tadi pagi telah bebas dari penjara.

__ADS_1


Ke luar penjara di jemput sang asisten pribadi saja. Tidak ada putri kecilnya yang lahir sebelum masuk bui. Padahal dulu saat divonis penjara dia melakukan drama untuk meminta penangguhan sementara karena memiliki bayi.


Elfa terus mencari informasi tentang putri model dewasa itu di media sosial. Dari berita didapat, saat ini sang putri berada di Indonesia. Model dewasa itu menyerahkan pengasuhan kepada ayah biologis dari putrinya.


Laki-laki dewasa model Indonesia yang sekarang menjadi wali sah putrinya sejak bayi itu berumur empat bulan. Saat Sherly Crash ke luar penjara sang putri tidak datang untuk menyamput ibu kandung. Jika dilihat sekilas dari berita itu, wanita model dewasa itu sudah tidak perduli dengan putrinya lagi.


"Lebih baik hindari wanita model itu, Sayang!"


"Hhmm, El hanya mencari Informasi aja kok, Akak. Kasihan putrinya tidak mendapat kasih sayang dari ibu kandung."


"Iya semoga putra Kris tidak mengalami seperti itu!"


Kris yang mendengar ucapan Juan Mahardika langsung menggerakkan kepala bertanya menggunakan kode saja. Elfa tersenyum sambil menunjukkan foto dari Sherly Crash. Tidak hanya Kris yang melihat, Henry Alexander dan Mama Critine juga ikut melihatnya.


"Siapa dia, El?" tanya Kris.


"Mantan tunangan Akak JM, punya satu putri dengan model Indonesia, tetapi memilih diberikan kepada ayah biologis."


"Ya Allah ya Rob, tega banget sih jadi seorang ibu. Apakah tidak kasihan punya keturunan tetapi tidak mau merawat?" tanya Rena.


Kris merasa nyeri dan ngilu mendengar cerita Elfa. Teringat saat masih berjuang sendiri mempertahankan janin yang tidak diinginkan. Sempat frustasi dan ingin menyerah untuk berjuang.


Pernah juga berpikir untuk menyetujui penolakan yang dilakukan oleh Mr. Yo. Namun hati kecil seolah langsung terhubung dengan bayi yang masih ada di kandungan. Seolah bayi itu memohon untuk bisa menikmati indahnya dunia.


"Nak Kris!" panggil Mama Cristine.


"I ... iya ada apa, Ma?" tanya Kris tersentak kaget.


"Jangan sampai Nak Kris seperti itu ya!"


"Insyaallah tidak, Ma. Kris akan merawat bayi ini sampai dia dewasa."


"Aku juga mau merawatnya jika Kris tidak mau merawat bayi itu," kata Henry Alexander dengan serius.


BERAMBUNG

__ADS_1


Yok mampir di novel teman yang rekomen ini



__ADS_2