
Henry Alexander terduduk lemas mendengar suara azan yang sangat merdu. Hati seolah terpanggil dan ingin segera masuk ke dalam masjid. Berjalan perlahan memasuki area halaman masjid dengan menarik kopernya.
Yang pertama ditemui adalah laki-laki tua dengan memakai sorban putih. Berbadan tinggi besar dan berjenggot serta berambut putih. Sopan, bersahaja dan tersenyum kepada siapapun yang ditemui.
"Assalamualaikum, Ustad," sapa Henry Alexander sambil mengulurkan tangan.
"Walaikum salam, Anda musyafir dari mana?"
Untung dari kecil Henry Alexander tinggal di Singapura sehingga menguasai bahasa melayu yang hampir sama dengan bahasa Indonesia, "Saya dari Italia Eropa, Ustad."
"Anda bisa bahasa Indonesia?"
"Perkenalkan nama saya Henry Alexander, saya keturunan melayu Singapura dan Italia."
"Panggil saya Kyai Din."
Baik Kyi Din, terima kasih."
"Ada yang bisa dibantu, Nak Hendy?"
__ADS_1
"Saya ingin memohon petunjuk dan nasihat, Kyai."
"Tentu dengan senang hati, tetapi kami solat dulu ya!"
"Silakan, Kyai Din. Terima kasih."
Seperti yang selalu dilakukan Henry Alexander dua bulan terakhir ini. Hanya memandang Kris yang melakukan ibadah dari belekang saja. Memperhatikan gerakan mulai dari takbir sampai salam.
Ada perbedaan yang sangat menyentuh dilihat dan didengar oleh Henry Alexander. Saat Kris melakukan solat sendiri tidak pernah mengeraskan suara bacaan. Namun yang sekarang disaksikan suaranya keras dan sangat merdu.
Suara merdu itu hampir sama seperti saat Krim sedang membaca ayat suci setelah melaksanakan solat isya. Hanya satu yang dikenali Henry Alexander adalah surah Al fatiha. Karena dari kemarin sering mendengar surah pertama dalam kitab suci itu dan sering mencoba memahami artinya.
Kyai Din mengajak Henry Alexander untuk sarapan bersama dengan pengurus masjid yang lain. Berbincang dengan akrab padahal baru kenal satu jam yang lalu. Semakin menambah kekaguman Henry Alexander menilai tentang keramah-tamahan masyarakat Indonesia.
Hampir pukul enam pagi, Henry baru berkesempatan untuk mengutarakan maksud dan tujuan datang. Yang awalnya berniat melihat kemegahan tempat beribadah. Kini semakin menambah keyakinan untuk segera memantapkan hati hijrah satu keyakinan dengan Kris.
"Apa yang menjadi motifasi Nak henry berpindah keyakinan?" tanya Kyai Din.
"Terus terang awalnya karena seorang wanita yang Henry cintai, tetapi setelah lebih dari dua bulan mempelajari hati mulai yakin."
__ADS_1
"Alhamdulillah, Selama ini dari mana saja Nak Henry mempelajari keyakinan yang sekarang?"
"Henry belajar dari buku, petunjuk dari teman dan melihat kesehsrian teman saat melakukan ibadah dan sering mencari jawaban di media sosial jika ada keraguan."
"Apakah ada kendala selama mempelajari keyakinan itu?"
"Sebenarnya tidak ada, tetapi ada yang menjadi kendala terbesar saat Henry akan melangkah untuk ke tahap selanjutnya."
"Apa itu, Nak Henry?"
Henry bercerita kendala terbesar adalah keluarga besar dari Mama Cristine. Jika nekat melakukannya akan ada perpecahan besar pada keluarga besar nanti. Tidak ingin keluarga terpecah-belah hanya karena masalah keyakinan hati yang tidak bisa dipaksa.
"Sejatinya keyakinan itu adalah hak milik semua orang, keluarga tidak berhak menentukan di mana keyakinan itu tumbuh, tetapi alangkah baiknya dimusyawarahkan dan duduk bersama untuk membicarakan hal itu," nasihat Kyai Din.
"Itu yang terkadang yang bembuat Henry ragu, Kyai. Disamping itu wanita yang Henry cintai akan mundur jika tidak mendapatkan restu dari keluarga."
"Apakah Nak Henry masih berniat pindah keyakinan karena ingin menikah?"
BERSAMBUNG
__ADS_1