Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 88. Cerita Abi Ali


__ADS_3

Sesaat Juan Mahardika kaget dan terpana, tidak menyangka mendadak Elfa datang dan langsung duduk di sampingnya, "Sayang, ini bukan ...!" Juan Mahardika tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Elfa berdiri sambil mengerucutkan bibirnya.


"Akak ternyata masih seperti yang dulu, El marah sama Akak!" Elfa berlari menuju kamar.


Berkali-kali Juan Mahardika mengetuk pintu kamar yang di kunci dari dalam, "Sayang, tunggu penjelasan Akak dulu!"


Hampir setengah jam Juan Mahardika berdiri di depan pintu. Mengetuk dan memanggil meminta dibukakan pintu. Memanggil dengan suara lembut dan menahan emosi agar tidak terjadi salah paham.


Datang Abi Ali menepuk pundak Juan Mahardika perlahan, "Biarkan El tenang dulu, Juan sabar saja. Ayo duduk di ruang keluarga, Opa mau ngomong sebentar!"


"Baik, Opa. Juan pamit El sebentar ya!"


"Iya, silahkan."


Juan Mahardika kembali mengetuk pintu, "El Garwoku Sayang, Akak mau berbincang dengan Opa sebentar. Nanti tolong buka pintu ya, Akak mau menjelaskan tentang tadi."


Juan Mahardika duduk di samping Abi Ali. Jantung rasanya lebih terpacu dan berdegup kencang. Sangat takut terkena amarah dari opa kesayangan istri tercinta.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Abi Ali.


"Hanya salah paham saja kok. Opa."


"Coba kamu ceritakan, Opa ingin tahu ceritanya agar bisa membantu menyelesaikan masalah kalian!"


"Ceritanya begini, Opa."


Juan Mahardika bercerita mulai dari awal tentang pesan WA dari Alfian Afarizi. Rencana mencari tahu sendiri tentang Dokter Yohan Charnett dengan meminta bantuan teman. Terakhir bercerita tentang syarat yang diajukan oleh Jonny Evans.


"Kamu harus sabar menghadapi El, cucu Opa itu hatinya sangat perasa dan lembut."


"Juan harus bagaimana, Opa?"


"Tunggu sampai El tidak emosi, nanti Opa bantu menasihati El."

__ADS_1


"Terima kasih, Opa."


"Sama-sama."


"Oya, Opa. Tolong ceritakan El dari kecil dong, Juan ingin sekali mengenal El langsung dari Opa!"


Abi Ali bercerita saat kecil Elfa sangat dimanja oleh Almarhumah Nenek Ani sampai lulus sekolah dasar. Kemanapun dan berkegiatan apapun selalu di dampingi nenek tercinta. Awal sekolah SMP sang nenek tercinta meninggal dunia, Elfa baru mandiri dan hanya sesekali ditemani Umi Anna.


Setelah mandiri itulah Elfa digembleng oleh Alfian Alfarizi dengan bela diri. Mengikuti kegiatan sosial di sekolah, mulai dari palang merah remaja, dokter kecil dan kegiatan sosial lainnya. Sering membantu teman sekolah yang kesusahaan menggunakan uang jajan sendiri.


Kepribadian Elfa yang sederhana seperti Mami Mitha. Royal dan tidak pernah perhitungan saat membantu seperti Papi Alfarizi adalah hal yang sangat menonjol dalam diri Elfa. Perpaduan sifat dari kedua orang tua yang sangat dikagumi oleh banyak teman.


Saat awal SMA Elfa mengetahui kisah masa lalu kedua orang tua dan kakak ipar. Diceritakan dengan detail dan rinci setelah Elfa menyaksikan sendiri anak dari pembantu rumah tangga Mami Mitha yang ada di villa. Teman bermain saat di villa dinikahkan sirri oleh ayahnya saat baru saja lulus SMP.


Pribadi Elfa semakin terasah setelah di bangku SMA. Melalui kegiatan sosial yang diikuti, Elfa mulai tidak tertarik denga dunia bisnis yang digeluti oleh kedua orang tua dan abangnya. Lebih memilih bekerja dan berkegiatan sosial daripada memilih seperti teman-teman yang asyik berpacaran dan berfoya-foya.


Menyembunyikan identitas sendiri untuk mencari jati diri, teman sejati dan lingkungan yang sehat saat kuliah S1 di Australia. Walau banyak yang mendekati dan menyukai Elfa, tetapi tidak pernah ditanggapi oleh Elfa. Banyak yang patah hati karena tidak satupun yang bisa menakhlukkan hatinya.


Di Australia, Elfa memilih tinggal di kos-kosan satu kamar bersama dua sahabat. Sebenarnya sudah dibelikan apartemen mewah oleh Mami MItha. Elfa memilih apartemen itu dikontrakkan kepada orang lain.


Elfa sering membantu rumah sakit Aljuzeka setelah mempelajari ilmu hypnoterapi. Ilmu itu dimanfaatkan untuk menyembuhkan pasien yang depresi ataupun kecanduan narkoba. Sering bolak-balik Australia Bogor sampai lulus kuliah S1.


Cerita Abi Ali berakhir setelah mendadak Elfa memutuskan melanjutkan kuliah S2 dengan menggunakan bea siswa. Tidak pulang selama dua tahun di Australia seolah bersembunyi dari seseorang. Padahal awalnya hanya akan berjuang dalam bidang sosial di desa Mami Mitha, dan tidak akan melanjutkan kuliah lagi.


"Jadi El tidak pernah pacaran sekalipun ya, Opa?" tanya Juan Mahardika setelah selesai Abi Ali bercerita.


"Tidak pernah, Opa melihat cucu kesayangan Opa itu membentengi diri dengan kuat, dan berusaha tidak berniat pacaran."


"Juan sangat beruntung sekali menikah dengan cucu Opa."


"Makaitulah, Opa minta Juan bersabar. Opa hampir dua tahun tidak bertemu dia saat kuliah di Australia, pertama bertemu saat Umi Anna meninggal dunia, wajah dan sikapnya sangat jauh berbeda."


"Bebeda bagaimana, Opa?"

__ADS_1


"Opa melihat ada sesuatu yang disembunyikan El dari kami, sampai sekarang El tidak pernah bercerita sama sekali."


Juan Maharika mengangguk dan termenung, seolah bisa menyambungkan cerita Abi Ali dengan kesalahan yang dilakukan dulu di villa, 'Ya Allah ya Rob, berarti El bersembunyi di negaraku sendiri, pantesan mencari dia selama satu tahun tidak pernah ditemukan oleh Dwi' gumam Juan Mahardika dalam hati.


"El memang sangat tertutup, Opa. Juan susah sekali mendekati dan meyakinkan dia sebelum menikah kemarin."


"El hanya terbuka dan bercerita sama Almarhumah nenek dan omanya saja."


"Apakah El tidak dekat dengan Mami MItha, Opa?"


"Sangat dekat, hanya selama dia kuliah S2 saja dia terlihat tertutup."


Juan Mahardiksa kembali termenung, mengingat trauma yang dialami El saat berdekatan dengan pusaka bumerang. Mungkin karena persoalan itu disembunyikan sendiri tanpa dibagi dengan siapapun juga termasuk Mami MItha. Rasa hati semakin merasa bersalah setelah mendengar cerita Abi Ali tentang pujaan hati.


"Bagaimana cara meyakinkan El agar tidak marah lagi, Opa?"


"Tunggu sampai emosi El mereda, pasti dia nanti juga keluar kamar, Juan jangan terlalu memaksa ya. El paling tidak suka jika dipaksa."


"Baik, Opa. Juan akan berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan kepada El nanti."


Abi Ali berpamitan untuk beristirahat di kamar. Juan Mahardika masih termenung sambil melihat pintu kamar terlihat masih ditutup. Berharap pintu dibuka dan bisa meluruskan semua kesalahfahaman yang terjadi.


Juan Mahardika bersembunyi dibalik kursi Saat mendengar pintu terbuka dari dalam. Kepala Elfa melihat kanan dan kiri sebelum ke luar kamar. Matanya terlihat sebab karena menangis.


Sengaja tidak menampakkan diri, hanya akan melihat istri tercinta pergi ke mana. Akan mengikuti setelah ke luar dari kamar agar mudah untuk mengajak bicara empat mata.


Melihat Elfa ke luar rumah menuju belakang rumah, "Sayang, tunggu Akak!"


BERSAMBUNG


shobat Anna, yok mampir di sebelah, novel yang berjudul "Pakar Cinta Terkena Karma" Sekarang sudah up setiap hari lo, tetapi covernya ganti ya


__ADS_1


__ADS_2