Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 9. Itu Bukan Salahku


__ADS_3

Elfa tidak bisa mengontrol pikiran dan hasrat sendiri. Badannya selalu di gerakkan seolah berjoget erotis. Antara pikiran dan keinginan tidak bisa sejalan dan seolah berseberangan.


Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Elfa sudah berada di kamar yang ada di villa milik Juan Mahardika. Kamar yang sama saat menyelamatkan  Atin dari jeratan si casanova.


Dan lebih parahnya lagi Elfa sedang berada di kamar berdua dengan pemilik villa. Wajahya tidak asing lagi karena baru saja menyelidiki laki-laki itu. Antara bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa Elfa terus merasakan panas dalam tubuhnya.


Juan Mahardika hanya mengenakan celana panjang saja. Memandang Elfa yang terus bergerak dan tidak bisa mengontrol diri. Bibirnya menyunggingkan senyuman devil.


"Siapa lo, awas El mau pergi!" teriak Elfa seperti orang yang sedang mabuk.


"Enak saja ... Elo harus membayar apa yang elo lakukan kemarin!"


Juan Mahardika menarik tangan Elfa dengan paksa. Dipeluknya dengan erat Elfa yang terus menggeliat. Seolah pikirannya sadar tetapi tidak bisa menahan hastrat hati yang menggebu.


"Layani gue dulu sekarang!"


Juan Mahardika langsung menarik buah baju yang ada di kemeja milik Elfa. Dengan sekektika berhamburan dan menggelinding entah ke mana. Terlihat bra dan gundukan kembar yang menutupinya.


Dengan tidak sabar Juan Mahardika menikmati gundukan itu kanan dan kiri. Elfa bukannya menolak tetapi dia seolah menikmati dengan mengeluarkan suara yang menggoda.


Setelah satu jam berlalu, Juan Mahardika tumbang disamping Elfa. Kepuasan dan ******* yang baru saja dirasakan. Membuatnya puas sudah bisa balas dendam. Tersenyum devil saat teringat peristiwa di kafe.


Setelah mendapatkan kabar jika sudah menemukan gadis yang dicari. Juan Mahardika langsung memerintahkan kepada anak buah Jonny Evans. Untuk membawa ke villa dengan keadaan yang diinginkan.


Anak buah Jonny Evans harus mengambil bungkusan kecil yang diantar oleh security. Diperintahkan untuk memyampurkan di minuman Elfa. Dengan memberikan uang sogokan kepada pramusaji.


Tanpa diketahui pramusaji, Juan Mahardika memberikan obat perangsang yang dosisnya tiga kali lipat. Seperti Elfa menggagalkan tiga kali aksi menikahi gadis desa. Yang pramusaji tahu hanya mendapatkan uang lebih tanpa memikirkan akibatnya.


Juan Mahardika terlelap setelah melamun sambil memandang wajah Elfa yang masih belum sadar. Tubuhnya yang polos dibiarkan begitu saja tidak perduli apapun. Seolah sengaja untuk teman dalam mimpi indah.

__ADS_1


Sampai menjelang sepertiga malam, Elfa mengerjapkan mata. Langsung tersentak kaget melihat ada laki-laki yang terlelap di sampingnya. Tubuhnya polos tanpa ada sehelai benangpun yang menempel pada laki-laki itu.


Elfa langsung terduduk dam melihat badannya sendiri. Sekali tiga uang ternyata sama saja polos tanpa ada penghalang sedikitpun. Ditambah kepada pusing yang tak tertahankan.


Elfa melihat sekeliling kamar yang ditempati. Kamar yang tidak asing baginya. Baru kemarin menolong Atin kabur dari laki-laki yang akan menikahi sirri.


Elfa menarik selimut dan melilitkan di badan. Dengan penuh emosi langsung menendang Juan Mahardika dengan membabi buta. Tidak cuma sekali, menendang menggunakan kaki atau meninju dengan tangan kosong, "Brengsek lo!"


Bukannya marah, Juan Mahardika malah tergelak. Walau baru terjaga dari tidur, tetapi Juan Mahardika tidak membalas sekalipun tendangann dan pukulan Elfa.


"Silahkan marah sesuka elo, itu akibatnya elo berani main-main sama gue."


Elfa terus menendang dan memberikan bogem mentah pada Juan Mahardika sekenanya. Muka, badan kaki bahkan di perut juga terkena sasaran amukan Elfa. Sambil memaki dan mengumpat dengan bahasa yang sangat kasar.


"Percuma elo ngamuk semua sudah gue ambil," kata Juan Mahardika sambil mengusap bibirnya yang berdarah karena bogem mentah Elfa.


"Brengsek lo ... apa salah gue?" Kembali Elfa memukul perut Juan Mahardika yang tidak terhalang benang sehelaipun.


"Menjijikkan ... brengsek!"


"Salah sendiri elo sudah menggagalkan gue menikah dengan gadis desa itu tiga kali."


Sambil terus memukuli laki-laki yang masih berbaring di tempat tidur. Elfa kaget dan bingung karena mendengar ucapan sudah tiga kali menggagalkan rencananya. Seingat Elfa baru sekali kemarin saat menolong Atin di villa.


"Dasar brengsek ... itu bukan salah gue."


"Salah elo lah, salah siapa lagi?"


"Dari mana elo tahu jika itu gue?"

__ADS_1


"Juan Mahardika memiliki banyak mata-mata, elo berani berurusan sama gue jadi elo yang harus membayar akibatnya."


Juan Mahardika tergelak lagi sambil duduk di pinggir tempat tidur menarik selimut yang melingkar di tubuh Elfa, "Dua kali di kafe Jonny." Juan Mahardika mencoba mendekatkan bibirnya dengan paksa di bibir Elfa.


Elfa memukul pipi Juan Mahardika dengan keras. Selimut yang melingkar di tubuh hampir terlepas. Dengan cepat Elfa menarik selimut dan dikenakan kembali.


"Ha ha ha jangan malu, Cantik. Gue sudah melihat dan sudah menikmati setiap incinya."


Kembali Elfa memukul Juan Mahardika tanpa henti. Yang dipukul seolah memiliki tenaga yang kuat. Tanpa membalas dan membiarkan pukulan itu terus menerus tanpa henti.


"Lakukan sekuat elo, gue sangat menyukainya."


"Laki-laki biadap, itu bukan salah gue. Mengapa gue yang harus membayar semua ini!" Elfa terus memukul Juan Mahardika sampai dia kelelahan.


Elfa terduduk di lantai sambil mengeluarkan air mata. Menangisi nasib yang kehilangan hal yang berharga dalam hidup. Sekarang sudah tidak suci lagi karena bukan seluruhnya kesalahan sendiri.


"Elo menangis darah pun tidak akan kembali."


Elfa terus tergugu dan duduk di lantai. Baru menyadari kemungkinan di kafe tadi minuman yang di beli telah diberikan obat perangsang. Dua laki-laki yang menarik tadi berarti anak buahnya.


Dengan santai Juan Mahardika kembali berbaring. Tanpa sungkan terlentang dan memejamkan mata. Padahal badan masih polos tanpa sehelai benang.


"Gue masih ngantuk, nanti saja kita lanjutkan lagi," kata Juan Mahardika sambil tersenyum devil.


Hampir satu jam Elfa tergugu di lantai. Juan Mahardika mulai kembali terlelap. Elfa mengenakan kembali baju yang tadi berserakan entah kemana.


Elfa berniat pergi dan keluar kamar. Melihat Juan Mahardika yang tanpa malu terlelap tanpa selimut dan polos. Tersenyum devil karena memiliki ide konyol dalam hati.


Gadis lulusan universitas ternama di Australia jurusan psikologi itu langsung mendekati tempat tidur. Biasanya dia memakai hipnotis atau sugesti untuk pasien rumah sakit pimpinan Abang Alfian. Untuk mengobati pasien yang depresi.

__ADS_1


Dengan menggunakan trik khusus yang pernah dipelajari, "Dengarkan apa yang gue katakan, kalau elo mengerti mengangguklah!" perintah Elfa sambil mengusap lengan Juan Mahardika.


Dengan ajaib Juan Mahardika mengangguk, "Senjata bumerang elo mulai saat ini tidak akan berfungsi sampai kapanpun juga sampai elo bertemu gua!"


__ADS_2