
Elfa dan Rena saling pandang, mulai menyadari ternyata mimpi itu sebuah isyarat. Jawaban dari doa Kris di sepertiga malam. Ada rasa sedikit lega di dada saat mendengar keraguan Kris untuk melanjutkan pernikahan karena sesuatu yang ragu akan membuat penyesalan pada akhirnya nanti.
"Rey saja yang bilang, El tidak tega!"
"Ada apa sebenarnya El, Rey?"
"Firasat Kris ternyata benar ...?" Rena tidak melanjutkan ucapannya. Tidak menyangka Mama Cristine masuk tanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucap salam seperti biasanya.
"Putra Mama itu telah mengecewakan kita, Kris!"
"Mama, apa maksudnya?"
"Kemarin pagi dia sudah melakukan ijab qabul dengan gadis Indonesia tanpa restu Mama," jawab Mama Crstine dengan bibir bergetar.
Kris yang awalnya ingin berdiri menyambut calon ibu mertua langsung terduduk lemas. Kaki seolah tidak bertulang dan keringat dingin bercucuran. Pandangan mata seolah kosong seketika dan mulut terbuka, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Kris ...!" teriak Elfa dan Rena bersamaan.
"Alhamdulillah," kata Kris dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Eee ...?" Elfa dan Rena kaget dan tidak bisa berkata-kata.
Seharusnya berucap kata istirja' bukan kata tahmid atau syukur. Ekspektasi kedua sahabat seolah di luar nalar dan akal sehat. Sudah merasa takut sahabatnya syok dan terpukul, kini justru mengucap hamdallah.
"Kris, otakmu masih waras?" Rena menepuk pipi Kris yang masih terpaku dengan pandangan mata lurus ke depan tanpa ekspresi.
Kris masih terdiam dan tidak merespon sama sekali, tangan Rena yang menepuk pipinya berkali-kali. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tidak sepatah kata pun bisa terucap dari mulut Kris.
"Kris, sadar jangan membuat El takut!" Elfa mencubit lengan Kris dengan keras.
"Aduh, sakit, Dodol!" teriak Kris sambil mengusap lengannya.
"Alhamdulillah, syukurlah dia sadar." Rena mengusap dada berkali-kali.
Kris bercerita setelah kemarin curhat tentang mimpi dan Rena marah. Hati terus saja ragu karena mimpi datang lebih dari tiga kali. Mulai ragu untuk melanjutkan hubungnan dengan calon suami. Hanya mampu berdoa diberikan keajaiban dan jawaban tentang keraguan hati.
Allah memang Maha Mendengar pada setiap hamba yang memohon dengan tulus. Hari ini terjawab sudah doa yang terus dipanjatkan setiap saat. Bukan hanya di sepertiga malam saja doa itu diucapkan, tetapi setelah lima waktu juga terus bermohon.
"Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar, sahabat El kini setegar karang. Henry memang bukan jodoh Kris, yang sabar ya!" Elfa memeluk Kris dengan erat.
__ADS_1
"Kris memang penuh kejutan, salut untuk Kris yang sangat tegar. Rey sama sekali tidak menduga ini." Rena ikut memeluk Elfa dan Kris dengan erat.
Ketiganya tersenyum walau ada air mata yang menggenang di pelupuk mata. Saling menguatkan dan saling mendukung adalah sahabat sejati. Dengan kebersamaan masalah sebesar apapun akan bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
"Mamaafkan Mama, Nak!" Mama Cristine ikut memeluk tiga sahabat pejuang gadis dengan tangit yang tersedu.
Tiga sahabat berbalik memeluk Mama Cristine dengan erat, "Mama tidak bersalah, ini semua takdir yang Maha Kuasa," jawab Kris sambil tersenyum.
"Apakah Mama bisa minta tolong pada kalian?"
"Silakan, Mama. Apa yang bisa Kris bantu?"
"Apakah kalian bisa mendampingi Mama menjadi mualaf, melihat kalian Mama semakin yakin melangkah."
"Insyaallah, kami bisa, Ma."
"Apakah boleh Mama minta satu lagi?"
"Apa itu, Ma?" tanya Kris.
__ADS_1
"Setelah mualaf, apakah boleh Mama ikut Kris saja?"
"Eee ...?"