
Juan Mahardika melotot memandangi asisten yang keceplosan bertanya tentang malam pertama. Asistennya mengira sampai sekarang belum bisa membobol gawang pertahanan sang istri. Dari kemarin lupa memberitahukan jika sudah bisa menghilangkan trauma itu sedikit demi sedikit.
"Jangan ditanya, kalau itu lihat saja hasilnya. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi New daddy." Juan Mahardika tergelak sambil menepuk dada.
"Ooo kirain Anda tidak bisa menakhlukkan gadis kesayangan Tuan Al," kata Asisten Julio kaget dan heran.
"Saya tidak percaya kalau Anda tidak bisa menakhlukkan Nona El, saya tahu banget perjuangan Anda seperti Tuan Al saat mengejar Nyonya Mitha." Asisten Surya juga ikut berkomentar.
Juan Mahardika bergegas ke kamar setelah Elfa mengirim pesan minta di belikan mie ayam yang ada di deretan food courts lantai tiga mall. Ditambah es campur yang berada di sebelah gerai mie ayam.
Tanpa sungkan dan malu, Juan Mahardika membeli apa yang diinginkan Elfa. Laki-laki tajir dan tampan itu tidak pernah sekali pun melakukkan itu sebelum mengenal Elfa. Seringnya nongkrong di kafe terkenal atau restoran ternama.
Elfa sudah duduk di kursi panjang depan televisi. Menyiapkan dua mangkuk untuk mie ayam, dan dua mangkuk untuk es campur sebelum sang suami datang.
Saat pintu terbuka, bergegas Elfa berteriak memanggil suami dengan kencang, "Akak, bawa sini?"
"Apakah mangkuk dan sendoknya sudah siap, Sayang?"
"Sudah di sini semua!"
Sambil menikmati makan berdua, Juan Mahardika bercerita perkembangan dua kasus dokter urologi dan model majalah dewasa. Rencana satu bulan ke depan terutama bekerja sambil bulan madu. Tidak lupa membicarakan tentang new daddy seperti harapan untuk segera terwujud.
"Akak ini, El belum siap kalau untuk itu," jawab El sambil mengerucutkan bibirnya.
"El tidak harus mempersiapkan apapun, semua akan ada yang mengurus jangan khawatir,"
"Paling tidak harus siap mental, Akak. Sabar dan jangan buru-buru ya?"
"Sesuai keinginan Tuan Putri, yang penting tidak dilarang usaha."
"Eee itu bukan sesuai keinginan namanya," jawab Elfa sambil mengerucutkan bibirnya.
Ada saos di pinggir bibir Elfa saat mengerucutkan bibirnya, "Tunggu dulu, Sayang. Terus di monyongkan bibirnya karena ada saos!" Juan Mahardika langsung mengusap ujung bibir dengan bibirnya sendiri.
"Akak, kirain mau dibersihkan dengan tisu."
"Lebih bersih menggunakan bibir Akak dong, sini lagi belum bersih!" Kali ini Juan Mahardika tidak mengusap lagi, tetapi bergerilya dengan lembut.
__ADS_1
"Hhmm ...!"
Melanjutkan dengan beraksi di kursi panjang samping televisi. Membuat sensasi berbeda karena kursi yang sempit. Namun, tidak mengurangi indahnya menikmati beraksi kali ini.
Keesokan harinya Dokter Yohan di deportasi ke negara asalnya. Tiga asisten berhasil membuat perjanjian dengan dokter urologi itu. Harus berjarak tiga ratus meter jika bertemu Elfa. Di blacklist dan tidak bisa masuk ke Indonesia terutama Jakarta dan sekitarnya.
Laki-laki yang teropsesi dengan Elfa itu dibuat tidak berkutik oleh tiga asisten. Dibatalkan perjanjian kerja dengan rumah sakit yang ada di dekat villa. Pulang ke negara sendiri dengan kegagalan dan hati kecewa.
Sedangkan di Australia, pengacara wartawan dan perusahaan serta Sharly Crash terus berusaha menghubungi Juan Mahardika dan keluarga. Mengajak berdamai sebelum sidang di laksanakan. Namun, mereka tidak bisa menghubungi Juan Mahardika.
Siang sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Malam sibuk dengan istri tercinta. Itu yang membuat Juan Mahardika susah di temui dan dihubungi.
Peresmian penyatuan dua perusahaan dilakukan tertutup. Hanya ada beberapa wartawan yang meliput acara itu. Kini perusahaan Zulkarnain & Mahardika Corp menjadi salah satu perusahaan berskala internasional.
Pimpinan ada di tangan Alfian Alfarizi dan Juan Mahardika. Sedikit demi sedikit Papi Alfarizi akan rehat dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan cucu tercinta. Hanya akan menjadi penasehat dan pendamping pimpinan dalam mengelola perusahaan.
Negara dan perusahaan pertama yang didatangi Juan Mahardika dan Elfa saat ini adalah negara kincir angin Belanda. Keluarga Mahardika ada garis keturunan dari Belanda dari ibu kandung Daddy Hans Mahardika. Sehingga bagi Juan Mahardika Belanda adalah rumah ke tiga baginya selain Australia dan Indonesia.
Menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Mahardika. Baru saja mendarat di bandara dan keluar dari pintu khusus. Juan disambut oleh salah satu pramugari cantik yang akan masuk pintu khsusus.
Juan Mahardika yang berjalan keluar dari pintu khusus sambil menggandeng tangan Elfa. Menyelempangkan tas milik Elfa pada tubuh kekarnya. Tersentak kaget dan langsung menghentikan langkahnya.
"Akak, siapa itu?" tanya Elfa dengan suara manja.
"Entahlah, Akak lupa."
"Iiiih El marah."
Juan Mahardika memberikan kode kepada Asisten Dwi Saputra yang ada dibelakang. Elfa berjalan lebih cepat karena kesal. Langsung berlari melewati pramugari itu menyusul Elfa yang berjalan setengah berlari.
"Sayang, Akak sudah pernah bilang, jangan marah kalau Akak masih terkait dengan masa lalu."
Elfa langsung mengurangi langkahnya teringat dulu pernah diminta untuk tidak marah jika bertemu dengan masa lalu. Waktu itu mengatakan tidak bisa janji karena takut emosi. Ternyata benar sekarang ini terjadi, padahal baru keluar dari pintu bandara sudah mengalami sendiri.
"Garwoku Sayang, maafkan Akak. Itu masa lalu jangan cemburu, please!"
"El cemburu, Akak."
__ADS_1
"Cemburu boleh tetapi jangan marah."
Juan Mahardika kembali menggandeng tangan Elfa dengan mesra. Berjalan sambil sesekali menengok ke belakang melihat Asisten Dwi Saputra yang belum terlihat, "Tunggu Asisten Dwi dulu ya, Sayang!"
"Malas, El mau cepat keluar dari sini," jawab Elfa masih merajuk.
"Akak tidak tahu mobil di parkir di mana, hanya dia yang tahu."
"Iiiih Akak ini bikin El kesal saja, jalan pelan saja jangan berhenti!"
"Baiklah, kita jalan pelan."
Setelah sepuluh menit berjalan, Asisten Dwi Saputra belum juga terlihat batang hidngnya. Tanpa diduga ada lagi wanita yang menarik koper mengenali Juan Mahardika. Wanita seksi itu berjalan akan memasuki area bandara.
"Hai, Bang Juan. Apa kabar?" wanita itu mengulurkan tangannya.
"Maaf, saya tidak menganal Anda, permisi." Juan Mahardika terus melangkah sambil terus penggandeng tangan Elfa.
Wanita seksi itu tercengang seolah tidak percaya. Berkali-kali mengusap mata takut salah mengenali orang. Hanya bisa berdiri terpaku melihat Juan Mahardika menggandeng wanita berlalu begitu saja.
Yang tadinya hati Elfa mulai mencair, menjadi marah kembali. Belum saja ke luar dari area bandara sudah dua wanita yang mengenal sang suami. Kesal, cemburu dan emosi yang dirasakan Elfa saat ini.
"Sayang, maaf. Jangan marah lagi," rayu Juan Mahardika sambil mengecup punggung tangan Elfa berkali-kali.
"Sini tas El!"
"Buat apa, Sayang. Akak saja yang bawa?"
"El mau ambil masker."
"Ooo buat apa?"
"Tidak usah banyak tanya!"
"Baiklah, ini tasnya."
Elfa mengeluarkan masker yang berwarna pink dari tasnya, "Akak diam, pakai ini agar tidak dikenali orang!"
__ADS_1