Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 114. Hari Cinta


__ADS_3

Elfa tidak mengubah jadwal kunjungan kerja suami. Mengikuti saja pagi ini pesawat terbang ke Eropa utara tepatnya ke Denmark. Hanya sayangnya, di sana Juan Mahardika memilih untuk tidak tinggal dan menginap.


Hanya meeting selama tiga jam di satu perusahaan. Elfa juga ikut duduk di ruang meeting tanpa berpisah sedetik pun dengan sang suami. Sehingga tidak ada wanita masa lalu yang menemui Juan Mahardika saat di Denmark.


Selesai keluar dari ruang meeting, langsung terbang lagi ke Eropa selatan menuju Italia. Di negara ini yang paling lama jadwal Juan Mahardika. Ada tiga cabang perusahaan di negara ini dan sebenarnya Daddy Hans Mahardika yang memimpin.


Tujuan awal ke negara Italia hanya murni untuk bulan madu. Daddy Hans Mahardika memerintahkan untuk mewakili untuk melakukan meeting. Hanya akan memerlukan waktu dua hari dan sekali meeting selama dua jam saja.


Selama di Italia tinggal di apartemen milik keluarga Mahardika. Apartemen yang berada di tengah kota yang dibeli dari awal memiliki cabang perusahan. Biasanya Daddy Hans Mahardika dan Mommy Vera yang sering tinggal di sini saat melakukan kunjungan kerja.


Pukul sembilan pagi, Juan Mahardika sudah siap untuk berangkat ke perusahaan cabang, "Akak hanya akan meeting dua jam saja, kalau mau jalan-jalan tunggu Akak ya!"


"Hhmm, besok saja, El capek perjalanan jauh."


"Istirahat saja kalau begitu, kalau perlu apa pun ada pegawai dan pengawal yang ada di luar apartemen ini, minta antar mereka jika ingin ke luar!"


"Mengapa mereka tidak disuruh masuk?"


"Tidak boleh dong, Sayang. Mereka laki-laki semua."


"Ooo."


"Akak berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Walaikum salam, hati-hati."


Elfa memilih menghabiskan waktu dengan vedio call dengan keluarga saat senggang. Mulai dari Mami Mitha, Papi Alfarizi sampai pasangan abang dan istrinya. Menanyakan kabar keponakan si kasep Al dan si cantik Ar.


Menghubungi juga Rena dan Krisnawati dengan vedio call bertiga. Membicarakan banyak hal terutama rencana pernikahan Rena dan Asisten Dwi Saputra sepulangnya perjalanan bisnis ke Eropa. Rena bercerita jika dua bulan lagi akan melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Semua acara akan dilaksanakan di desa saja. Tidak akan dirayakan di kota tempat asal Asisten Dwi SAputra. Hanya akan dilakukan dengan sederhana seperti yang diidamkan selama ini.


Walau Asisten Dwi Saputra menawarkan pernikahan yang mewah. Karena gaji sebagai asisten pribadi sangat besar. Namun, Rena memilih pernikahan sederhana saja seperti prinsip Elfa.


Belum selesai berbincang dengan dua sahabat. Ada bel berbunyi dari luar pintu aparteman. Elfa mengintip dari lobang khusus sebelum membuka pintu. Memastikan orang yang datang adalah pegawai dari perusahaan milik suami.


Ada beberapa laki-laki kekar menggunakan seragam berlogo Mahardika Corp di dada. Ada juga laki-laki paruh baya memakai seragam koki dan memakai apron. Ada juga meja troli yang khusus membawa menu makan yang tertutup.


Elfa membuka pintu perlahan, "Permisi, Nyonya. Tuan Juan mengirim bunga, kado dan makanan ini untuk Anda!"


Dua laki-laki kekar itu memberikan buket bunga mawar merah dan satu lagi mengulurkan paper bag yang berisi kado, "Ini silahkan di terima, Nyonya!"


"Terima kasih."


"Sama-sama, Nyonya."


Koki mendorong meja masuk ke dalam apartemen. Menata meja dan mempersiapkan semua menu makan yang di pesan oleh Juan Maharika. Bergegas meninggalkan meja setelah meja selesai di tata menu makanan khas Italia.


Elfa langsung berselfi ria dan mengirim foto sendiri sambil mencium bunga. Mengirim juga foto menu makanan yang sudah tersaji di meja. Dengan ditambah tulisan, "El tunggu Akak saja makan nya."


Dengan cepat ada jawaban dari Juan Mahardika, "Sebentar lagi Akak pulang, kalau El lapar boleh makan duluan."


Tidak lupa Elfa membuka paper bag dan merobek bungkus kado yang berisi kotak kecil. Elfa tersenyum melihat jam tangan mewah dengan merk terkenal asli produk negara Italia, "Cantik sekali, ada apa hari ini Akak?" monolog Elfa sambil memakai jam tangan yang baru saja diterima.


Elfa kembali melanjutkan vedio call dengan Rena dan Krisnawati. Melanjutkan cerita yang tadi terputus karena ada yang mengetuk pintu. Kembali bercerita tentang pejuang gadis yang semakin hari semakin menunjukkan peningkatan.


Walau masih ada saja orang tua yang menikahkan sirri putrinya. Namun sudah banyak berkurang dan banyak yang menyadari kesalahan. Mulai banyak anak gadis yang melanjutkan sekolah atau kuliah dengan bea siswa dari program Elfa.


Dana dari Elfa semakin besar setelah Elfa menikah dengan Juan Mahardika. Dana pendidikan yang dulu hanya dari uang jajan sekarang ditambah lagi berlipat ganda oleh sang suami.

__ADS_1


Yang terakhir, Elfa vedio call ke Riyadh menghubungi Abi Ali. Berbincang dan bercerita tentang perjalanan bulan madu keliling Eropa. Abi Ali bercerita jika besok berencana akan berkunjung ke Ngawi.


Abi Ali memilih Ngawi sebagai tempat untuk mengirim doa khusus untuk Almarhumah Umi Anna. Dua hari lagi adalah tepat dua tahun Almarhumah Umi Anna meninggal dunia. Elfa meminta maaf karena belum bisa pulang, hanya bisa mengirim doa khusus dengan tulus.


Tepat waktu makan siang, Juan Mahardika datang dengan membawa setangkai mawar merah, "Bunga cantik untuk istri Akak yang cantik, warna merah menandakan cinta Akak yang membara." Juan Mahardika memberikan bunga sambil berjongkok dan tersenyum.


"Terima kasih, hari ini Akak lebih romantis."


"Hari ini adalah hari yang sangat spesial buat Akak."


"Mengapa spesial, Akak. Sekarang bukan hari lahir Akak, kan?"


Juan langsung mengecup kening dan bibir Elfa sekilas, "Bukan, hari lahir Akak masih awal tahun depan. Hari ini bagi Akak lebih spesial dari hari lahir, Sayang."


"Hari apa sih?" Elfa ikut mencium bibir suami sambil merangkul pinggangnya.


"Hari ini Akak pertama kali menyadari kalau Akak sangat mencintai El. Hari di mana hati mulai berdetak tak menentu saat menyebut nama El, jadi hari ini Akak menetapkan sebagai hari cinta."


"Oya, mengapa bisa bisa baru menyadari?"


"Entahlah waktu itu Akak sendiri juga bingung, semakin Akak ingin balas dendam, hati Akak semakin terikat oleh El, apalagi pusaka bumerang ini sama sekali tidak mau bangun kecuali dengan El saja."


"Eeee, ujung-ujungnya mengapa pusaka bumerang yang dibahas?"


"Begitulah, hari ini Akak akan memanjakan pusaka bumerang karena dialah Akak menemukan cinta sejati."


"Bagaimana caranya memanjakan senjata bumerang?" tanya Elfa bingung.


"Gampang dong, Sayang. Caranya begini!" Juan Mahardika langsung menggendong bridal Elfa masuk kamar, "Kita beraksi hari ini sampai pagi."

__ADS_1


"Waduh, El tidak mau gempor!"


__ADS_2