Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 231. Pesan WA


__ADS_3

Kris beristigfar berkali-kali membaca pesan WA dari orang yang tidak dikenal. Dilihat dari nomor itu sekarang dia masih online. Mungkin yang di sana dia sedang menunggu jawaban.


Tidak ingin menyembunyikan apapun jika masalah laki-laki yang pernah hadir dalam hidup kepada sahabat. Kris langsung mendekat Elfa duduk dan berbisik, "El, tolong Kris sebentar, dong."


"Ada apa?" tanya Elfa juga berbisik.


"Kita panggil Rey dulu!"


"El ajak Akak JM, ya?"


"Kalau begitu Aa Dwi ajak sekalian, Kris saja yang panggil."


Berlima duduk di teras masjid sambil menikmati buah dan kue. Saling berhadapan dan duduk bersila, "Ada apa, Kris?" tanya Elfa penasaran.


"Ini lihat barusan Kris mendapatkan pesan WA dari seseorang yang tidak dikenal."


Yang pertama membaca pesan adalah Elfa dan Juan Mahardika. Setelah diserahkan Asisten Dwi Saputra dan dibaca berdua bersama Rena. Asisten pribadi itu langsung mencari informasi tentang nomor ponsel yang tertera.


"Dari kode nomor paling depan, ini berasal dari Indonesia," kata Asisten Dwi Saputra.


"Apakah nomor monsel Henry?" tanya Rena.

__ADS_1


"Setahu Kris, Henry masih memakai nomor kode asli dari Italia."


"Mungkin saja dia memakai nomor ponsel Hadijah atau beli baru." Juan Mahadika ikut memberikan usulan.


"Tunggu, saya diselidiki sebentar!" Asisten Dwi Saputra langsung menyelidiki.


Zaman yang canggih dan tegnologi semakin maju. Dengan mudah pengguna ponsel mengetahui identitas nomor seseorang setelah menekan tombol nomor pengirim pesan. Di sana pasti akan tertera nama yang digunakan untuk mendaftar pertama kali saat membeli kartu perdana.


"Ini namanya ada," kata Asisten Dwi Saputra menunjukkan nama yang tertera di bawah pojok kanan pada layar ponsel.


"Lena, siapa itu?" tanya Rena bingung.


"Mungkinkah itu Magdalena, untuk apa dia mengirim pesan seperti itu?" tanya Elfa.


Elfa teringat pada pesan yang dikirim kepada Abang Julio saat emosi. Akan lebih cepat mengetahui identitasnya jika sekalian dikirim pada asisten dari abang tercinta. Pasti dengan mengirim nomor ini akan mempercepat penyelidikan jika ini memang nomor ponsel dari wanita itu.


"Sini El kirim pada Abang Julio, ini akan mempermudah Abang mendapatkan informasi tentang Magda!"


"Selama dalam penyelidikan jangan Kris balas pesan WA itu," perintah Asisten Dwi Saputra.


"Ok, siap!"

__ADS_1


Pagi ini, Apartenmen di hebohkan oleh Rena yang mengalami morning sickness. Para wanita membantu calon ibu itu melalui hal yangn tidak nyaman saat hamil. Ada yang memijit tengkuk, ada yang membawakan air hangat, ada juga yang membawa handuk kecil.


Kebetulan Rena sedang berada di dapur membantu Bibi Sumi dan Ibu Suki memasak. Rena akhir-akhir ini selalu muntah saat mencium bau bawang yang menyengat. Saat Bibi Sumi sedang memblender bawang putih perut Rena seolah sedang diaduk.


"Rey bergabung dengan twins baby dan Sha saja berjemur, Kris saja yang membantu masak di dapur!" Perintah Kris setelah Rena mengeluarkan isi perutnya tanpa sisa.


"Terima kasih, Rey menyusul Aa Dwi di kamar saja."


"Ngapain Aa Dwi di kamar?"


"Dia sedang meeting online dengan klien yang ada di Jakatra."


"Sendirian tanpa suami El?"


"Iya."


Belum saja melangkah menuju kamar, Elfa dan Juan Mahardika datang dari balkon belakang dengan tergesa-gesa. "Rey, mana Dwi?" tanya Juan Mahardika.


"Bersamaan Asisten Dwi Saputra ke luar dari kamar, "Saya di sini, Tuan. Ada apa?"


"El mendapat kabar dari Aisisten Julio. ayo kita lihat, sekalian panggil Mama Aminah!"

__ADS_1


"Nobar saja, Tuan. Sini ponselnya. Saya hubungkan dengan televisi."


"Ide bagus, ini ponselnya," jawab Elfa memberikan ponsel miliknya kepada Asisten Dwi Saputra.


__ADS_2