
Elfa memperhatikan lekat-lekat wajah wanita yang mengenal Juan Mahardika. Wanita yang cukup umur dengan penampilan yang sederhana. Badannnya gemuk dan memakai hijab rapi sambil memegang keranjang belanjaan sayuran.
"Apakah Anda lupa dengan saya Tuan?" tanya Wanita itu lagi.
"Iya, saya tidak tahu, siapa Anda, Bu?" Juan Mahardika tidak mengenal sama sekalki wanita yang berdiri di hadapannya.
"Saya Sofia putrinya Nanny Miyah."
Juan Mahardika mengerutkan keningnya dan mengangguk. Teringat pengasuh dirinya saat masih kecil. Mama Vera pernah membawa wanita single parent beranak satu yang berasal dari jawa barat. Bekerja di keluarga Mahardika sampai beliau meninggal dunia.
Mulai dari Juan Mahardika bayi sampai Jasmine Mahardika lahir. Yang mengasuh adalah ibu kandung dari wanita yang berdiri dihadapannya. Dulu keluarga Mahardika membiayai sekolah putri pengasuhnya sampai lulusan SMA dan tidak mau melanjutkan kuliah.
Setelah lulus SMA, memilih pulang ke Indonesia dan menikah dengan pemuda yang berasal dari satu desa. Saat Jasmine Mahardika lulus sekolah dasar Nanny Miyah meninggal dunia dan dikebumikan di kampung halaman. Setelah itu lost contact dan tidak pernah tahu kabar berita putri semata wayang pengasuhnya.
Juan Mahardika terakhir bertemu dengan Ibu Sofia saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Saat itu keluarga Mahardika sering menyebut nama Ibu Sofia dengan sebutan nanny kecil. Karena saat itu Ibu Sofia sangat menyayangi Jasmine Mahardika saat masih bayi.
"Iya, Juan sekarang inget Anda, dulu Jasmine sering memanggil Anda dengan sebutan Nanny Kecil."
"Benar sekali, Tuan. Saya juga kenal Anda Nyonya El. Istri Tuan Juan yang cantik dan baik hati."
"Dari mana Nanny Kecil kenal El?" tanya Juan Mahardika lagi.
"Saya selalu mengikuti dan melihat berita tentang keluarga Tuan Hans Mahardika."
"Di mana keluarga Nanny Kecil sekarang?"
"Sebelum bercerita silakan duduk di sini!" perintah Elfa.
"Terima kasih, ternyata Nyonya El cantik sekali setelah bertemu langsung."
Elfa hanya tersenyum tanpa menjawab pujian dari wanita yang di panggil nenny kecil oleh suami. Hanya memperhatikan wajah dan sorot matanya saja, Elfa bisa menilai wanita itu adalah orang jujur.
"Nanny mau makan apa, Juan pesankan?"
__ADS_1
"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih."
"Tidak apa-apa, Nanny. Lebih baik makan dulu jangan menolak rezeki," kata Elfa dengan lembut.
"Baiklah, Nanny mau ikan bakar saja," jawabnya ragu-ragu.
Sambil menunggu pesanan datang yang dipesan oleh Juan Mahardika. Ibu Sofia mulai bercerita awal pindah ke Balikpapan setelah menikah lima tahun. Ikut suami mencari pekerjaan menjadi sopir truk di Balikpapan.
Setelah tinggal di kontrakan yang ada di pinggiran kota Balikpapan tiga tahun. Suami mengalami kecelakan kerja saat lembur di hari Minggu. Yang paling menyedihkan lagi putra semata wayang yang saat itu berumur sepuluh tahun ikut serta.
Tidak hanya kehilangan suami, dalam satu hari Nanny Sofia kehilangan putra tercinta juga. Dunia serasa berhenti berputar waktu kehilangan suami dan putra dalam waktu bersamaan. Saat keduanya pergi, di Balikpapan belum berhasil dan masih hidup pas-pasan.
Sejak saat itu, Nanny Sofia hidup sendiri sampai sekarang. Tinggal di kontrakan satu kamar dan bekerja sebagai ojek online dan kurir. Pulang sesekali ke jawa barat untuk berkunjung ke makam ibu tertinta.
Nanny Sofia tetap bertahan di Balikpapan karena makam suami dan putra tercinta ada di sini. Seolah jiwa dan raga sudah menyatu dengan bumi Balikpapan. Walau hdup tidak mudah dijalani sendiri, tetapi tetap bertahan dan dilakukan dengan ikhlas.
Nanny Sofia bercerita sambil mata berkaca-kaca. rasanya sangat membanggakan bisa bertemu dengan keluarga yang dulu pernah memberikan kehidupan yang layak. Sampai menu yang dipesan sudah datang belum sempat dinikmati.
Elfa langsung memeluk Nanny Sofia dengan erat. Ceritanya sangat mengharukan sampai Elfa ikut meneteskan air mata, "El ikut berduka cita, Nanny yang sabar ya."
"Ayo dimakan, nanti keburu dingin ikan bakarnya, Nanny!" Juan Mahardika mencoba mencairkan suasana.
"Oya, Maaf malah membuat Nyonya El ikut menangis." Nanny Sofia mengusap air mata yang menggendang.
"Makan dulu silakan, Nanny!" Elfa juga ikut mengusap air mata.
"Iya terima kasih." Nanny Sofia menikmati nasi ikan bakar ditambah dengan sambal terasi dan lalapan.
Juan Mahardika langsung memeluk pinggang Elfa. Ikut mengusap air mata yang menetes di pipi istri tercinta. Orang yang kurang beruntung seperti Nanny Sofia yang membuat Elfa merasa tidak tega.
"Akak, apakah boleh nanti kalau bayi kita lahir Nanny Sofia yang menjadi pengasuhnya?" bisik Elfa di telinga Juan Mahrdika.
Juan Mahardika mengangguk dan tersenyum. Teringat Mommy Vera yang ada di Australia. Jika Mommy Vera tahu telah bertemu dengan putri kandung dari Nanny Miyah, pasti beliau sangat bahagia.
__ADS_1
"Tunggu Nanny selesai makan dulu, Sayang."
"Hhmm."
Setelah menu makan yang ada di piring Nanny Sofia habis. Wanita yang hidup sebatang kara itu mencuci tangan di wastafel yang ada di pojok restoran. Kembali ke meja dan berniat ingin pamit akan mengantar belanjaan yang dipesan oleh restoran.
"Tunggu dulu, Nanny. El ingin bicara sebentar!"
"Ada yang bisa Nanny bantu, Nonya?"
"Apakah Nanny Sofia mau merawat bayi kami setelah lahir nanti?" tanya Elfa.
Nanny Sofia kembali meneteskan air mata mendengar permintaan Elfa. Rasa haru dan bahagia kini menyelimuti hati. Bahagia untuk anak asuh ibunya dulu karena sebentar lagi akan mendapatkan momongan.
"Selamat Nyonya El dan Tuan Juan semoga bayinya sehat selalu, akan sangat bahagia jika Nanny diberikan kepercayaan untuk mengasuh nya."
"Alhamdulillah, pasti Mommy akan sangat bahagia jika mendengar putrinya Almarhumah Nanny Miyah ada bersama kita." Juan Mahardika tersenyum sambil mengeratkan pelukan pada istri tercinta.
"Bagaiman kabar Nyonya Vera sekarang, Tuan?"
"Alhamdulillah beliau sehat."
"Ya Allah, Nanny teringat Nona Jasmine. Pasti dia tidak kalah cantiknya seperti Nyonya El."
"Dia sudah besar dan sudah kuliah, tetapi lebih cantik istri Juan dong."
"Mulai deh," jawab Elfa sambil tergelak.
"Baik, Tuan dan Nyonya. Nanny akan melanjutkan kerja. Nanny akan mempersiapkan pindah ke Jakarta. Apakah bisa minta waktu satu bulan?"
"Tentu, Nanny. kami tunggu di Jakarta."
Setelah selesai makan di restoran dan Nanny Sofia berpamitan. Juan Mahardika dan Elfa melanjutkan ke pusat oleh-oleh yang terkenal di Balikpapan. Tepatnya di salah satu grosir Pasar Impres di Balikpapan Barat.
__ADS_1
Ada banyak sekali pernak-pernik khas Kalimantan di jual di sana. Mulai dari kalung, tas, baju, dompet, gelang, ikat kepala dari manik-manik, perisai, gantungan kunci, dan lain-lain. Tersedia beragam kaos bertuliskan Balikpapan dan Kalimantan Timur. Ada kain-kain tenun, maupun kain motif terutama batik khas asli Balikpapan untuk dijadikan pakaian.
Melihat kalung yang terbuat dari manik-manik warna-warni yang antusias bukannya Elfa tetapi Juan mahardika, "Ya Allah ... Sayang, cantik sekali kalung dan gelang ini!"