Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 203. Kebimbangan Henry


__ADS_3

Karena tidak mendapatkan kejelasan dari Elfa tentang kabar Henry Alexander. Keesokan harinya Juan Mahardika menghubungi sendiri Henry Alexander di Eropa via ponsel. Bercerita tentang kondisi yang ada di Jakarta terutama ayah kandung dari bayi Kris.


Henry Alexander bercerita sangat mencintai Kris. Sudah menganggap bayi Kris seperti putranya sendiri. Sudah mulai yakin akan keyakinan yang dipelajari selama dua bulan terakhir bersama Mama Cristine.


Ada terkendala dari keluarga besar Mama Cristine saat ini. Ada banyak perdebatan dan perbedaan pendapat antara keluarga saat ini. Masih berusaha meyakinkan keluarga besar agar tidak terjadi perpecahan keluarga.


Kris juga selalu berpesan kepada Henry Alexander. Jika menikah itu tidak hanya menikah dengan satu orang. Jika menikah harus lengkap dengan seluruh keluarga.


Jika menikah hanya membuat keluarga menjadi terpecah-belah. Kris lebih memilih untuk mundur teratur. Prinsip dari awal Kris memang sangat kuat dan tidak tergoyahkan.


Kris juga selalu berpesan kepada Henry Alexsander, cinta yang tulus ada di dasar jiwa. Jika memang Tuhan tidak mentakdirkan untuk bersatu. Usaha dan upaya seperti apapun akan tetap tidak jodoh.

__ADS_1


Cinta dan pandangan hidup Kris sekarang ini selalu dilandasi dengan logika. Masih ingin berteman seandainya memang tidak berjodoh. Akan selalu menganggap Mama Cristine seperti ibu kandungnya sendiri.


Henry Alexander sekarang ini masih bimbang dan ragu. Bukan karena tentang keyakinan, tetapi karena tidak ingin membuat perpecahan keluarga besar dari Mama Cristine. Masih mencari jalan terbaik dan jalan tengah yang tidak membuat keluarga kecewa.


Juan Mahadika menyarankan untuk segera bertindak sebelum Dokter Yohan Carnett dijadikan tahanan kota. Kemungkinan dokter urologi itu akan lebih bebas menyusun strategi baru. Lebih leluasa untuk mencari keberadaan Kris di manapun dia berada.


Karena Henry Alexander bingung berada dii tengah keluarga dan mantan suami Kris. Selesai mendapat cerita dari Juan Mahardika langsung terbang naik pesawat komersil ke Jakarta. Namun, berpamitan dengan Mama Cristine dan Kris ke Singapura untuk mengunjungi makam Almarhum Papa Alexander.


Hampir seperempat jam berdiri terpaku memandang masjid yang berdiiri kokoh dan megah. Melihat orang yang berbondong-bondong masuk masjid. Ada laki-laki, ada perempuan, besar kecil baik anak-anak maupun orang dewasa semua masuk melati pintu utama.


Wajah mereka terlihat teduh dan damai. Sebagian besar sorot mata mereka bersinar memancarkan kebahagiaan. Semua terlihat sama memakai baju koko, sarung dan songkok yang bersih.

__ADS_1


Baru pertama menginjakkan kaki di negara sang pujaan hati. Baru kali ini menemukan fenomena orang melakukan ibadah seantusias saat ini. Hanya melihat saja hati ikut terasa damai tidak seperti yang dilihat saat di kampung halaman.


Henry Alexander semakin terpana saar melihat rombongan orang yang baru saja turun dari bus. Para wanita yang turun dari bus mengenakan pakaian putih dan dengan tutup kepala juga putih. Sekitar ada empat puluh wanita yang berjalan terburu-buru masuk area masjid.


Wajah para wanita itu terlihat lelah, tetapi mereka terlihat semangat masuk masjid. Senyum simpul dan penuh kekaguman saat memasuki area masjid. Seolah kelelahan mereka terbayarkan saat masuk tempat suci bagi umat yang memiliki keyakinan seperti Kris.


Henry Alexander tersentak kaget saat tiba-tiba ada suara azan yang memekikkan telinga, "Subhanallah, suara itu!" Tiba-tiba Henry mengucap kalimat tasbih.


BERSAMBUNG


jangan lupa mampir ke novel teman yang rekomen ini ya, jangan khawatir ada di novel toon juga kok!

__ADS_1



__ADS_2