Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 119. Roti Ciabitta


__ADS_3

Elfa kaget dan bingung saat dua tamu itu meriah punggung tangan dan menciumnya. Langsung memeluk secara bersamaan dua wanita itu sambil berteriak, "Kak El!"


Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra saling pandang dan hanya bisa bertanya dengan tatapan mata saja. Dugaan mereka bukan mantan masa lalu benar adanya. Sekarang bingung dan tidak bisa menebak siapa dua wanita yang sedang memeluk Elfa.


"Kalian ini Devi dan Dina?"


"Iya, Kak. Terima kasih," jawab mereka bersamaan sambil memeluk Elfa kembali.


"Ayo kita masuk dulu!" Elfa mengajak dua tamu masuk dan duduk di ruang tamu.


Juan Mahardika duduk dan langsung memeluk pinggang Elfa. Terus memandang wajah istri yang masih terlihat sedikit pucat. Mengusap pinggang bagian belakang yang nyeri tadi pagi, "Masih nyeri pinggangnya?" tanyanya sambil berbisik.


"Tidak."


"Siapa mereka, Sayang?"


"Perkenalkan dia Dina dan Devi."


"Mengapa dia tahu alamat ini?"


Sambil berbincang dengan dua tamu yang baru saja datang. Elfa bercerita baru saja mendapat kabar dari Rena tentang prestasi dua siswa lulusan SMK jurusan tata busana. Mereka adalah dua gadis yang mendapatkan program bea siswa dari Elfa dan sekarang mendapatkan bea siswa dari perguruan tinggi di Italia.


Setelah mengetahui jika Elfa ada di Italia, Dina dan Devi meminta alamat dan ingin bertemu dengan orang yang berjasa dalam pendidikan mereka. Ingin mengucapkan terima kasih atas semua jasa dan biaya dalam pendidikan.


Walau kedua wanita itu pernah mengalami masa sulit pernah di nikahkan sirri oleh orang tua. Tidak menyurutkan meraih prestasi dalam pendidikan. Mereka mendapat bea siswa di sekolah mode yang sangat terkenal di Italia.


Semua tidak lain karena dukungan biaya dari Elfa dan Juan Mahardika. Dukungan dan nasihat dari Rena Dan Kris. Serta semangat untuk maju dan berjuang seperti pimpinan pejuang gadis.


Berkali-kali dua wanita itu berucap terima kasih baik kepada Elfa, Juan Mahardika atau pada Asisten Dwi Saputra. Jasa yang sangat besar untuk masa depan seorang gadis yang berasal dari desa. Bisa mengenyam pendidikan tinggi walau bukan dari kalangan berada.


"Mengapa Rena tidak bercerita pada saya ya?" tanya Asiten Dwi Saputra heran.


"Mungkin Rena belum berani bercerita tentang pekerjaan karena Asisten Dwi sangat sibuk," jawab Elfa.

__ADS_1


"Mungkin juga, nanti saya WA saja."


"Dina, Devi coba kamu cerita sekarang tinggal di mana dan sistem bea siswa itu!" perintah Elfa.


"Kami tinggal di asrama, Kak," jawab Dina.


"Makan sudah disediakan di asrama, ke kampus tinggal jalan kaki," cerita Devi.


"Saya masih menyesuaikan tentang menu makanan karena susah meninggalkan nasi, Kak El." Dina yang berbadan tambun terbiasa makan nasi sehari tiga kali.


"Bagaimana cara Dina menyesuaikan diri?" tanya Asisten Dwi Saputra.


"Saya memilih makan terakhir, dan menunggu roti gandum Ciabitta teman yang makan tidak habis, akan saya bawa ke kamar untuk stok saat lapar," jawab Dina sambil tergelak.


"Terkadang teman yang memberikan roti gandum Ciabitta itu minta imbalan untuk cuci piring," kata Devi melanjutkan cerita Dina.


"Saya suka bekerja, tidak masalah cuci piring yang penting perut kenyang."


"Tenang saja, Roti Ciabitta itu kandungan karbohidratnya sama seperti nasi," kata Juan Mahardika memberi semangat.


Roti gandum Ciabitta adalah roti khas Italia yang dibuat dengan tepung terigu, air, garam, ragi, dan minyak zaitun. Bentuk roti yang lebar, memanjang, serta rata, maka dinamakan Ciabatta. Arti dari Ciabitta secara harfiahnya adalah sandal, karena bentuk roti khas Italia ini sebagian besar seperti sandal yang pipih memanjang.


Ciri khas dari roti Ciabitta adalah terdapat kerak yang renyah pada permukaannya. Mirip dengan roti jaman dulu bentuk dan teksturnya terlihat klasik. Pada bagian dalamnya, roti ciabatta berwarna putih dan tekstur yang cukup kenyal, serta memiliki lubang seperti roti yang cara pengolahannya dengan menggunakan fermentasi.


Yang paling unik saat roti Ciabatta yang baru keluar dari oven, akan memiliki kerak yang garing. Namun, teksturnya berubah menjadi lembut saat telah mendingin. Ketika roti Ciabatta dipotong, keraknya lebih kenyal, dan sama sekali tidak memiliki tekstur yang keras.


Seperti di Indonesia yang makanan pokoknya adalah nasi. Di Italia, makanan pokok mereka berupa roti yang terbuat dari tepung terigu atau gandum. Salah satu yang terpopuler adalah roti gandum Ciabitta yang sering disajikan di asrama Dina dan Devi.


"Apa kalian tidak menemukan restoran Asia yang menjual nasi?" tanya Asisten Dwi Saputra.


"Di kampus ada, tetapi saya harus bisa hemat," jawab Dina sambil menunduk.


"Tetapi tenang aja, perut Dina seperti karung kok, apa saja masuk yang penting kenyang." Devi menghibur sahabat satu perjuangan dalam menuntut ilmu.

__ADS_1


"Naah itu betul." Dina memberikan dua jempol sambil tergelak.


Elfa tersenyum mendengar cerita Dina dan Devi. Semangat mereka membara walau dalam keterbatasan yang membuat Elfa bangga. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mereka berhasil ke luar dari lingkaran tradisi yang sangat merugikan gadis desa.


Dina dan Devi sebelum pulang, diberikan uang saku oleh Elfa. Ditambah beberapa baju yang bagus dan belum pernah di pakai untuk kuliah. Tidak lupa memberikan nasihat untuk bersemangat belajar demi masa depan.


Sampai malam hari, Juan Mahardika masih bertanya-tanya dalam hati tentang tamu wanita tadi sore. Pasalnya Elfa tidak bercerita tentang bea siswa itu sama sekali. Saat istrinya itu mengambil uang dan di tranfer, tidak pernah bertanya untuk siapa.


Elfa melihat wajah suami yang masih termenung. Biasanya saat Elfa dalam pelukan selalu membelai dan mengecup kening. Namun, saat ini hanya terdiam sambil memegang pipi saja, "Akak ...?"


Juan Mahardika tidak mendengar panggilan Elfa. Masih termenung dan teringat tentang bea siswa, "Akak!" teriak Elfa.


"Eee ... ada apa, Sayang?"


"Mengapa melamun?"


"Akak masih bingung dengan bea siswa tamu dua wanita tadi."


"Bingung kenapa?"


"Akak kok tidak tahu tentang itu, mengapa El tidak bercerita tentang bea siswa itu sama Akak?"


Elfa tersenyum sambil mengusap pipi Juan Mahardika, "Akak pernah dengar tidak tentang cara bersedekah, yaitu jika tangan kananmu bersedekah usahakan tangan kirimu tidak mengetahui."


"Pakde Sarto dulu pernah membahas tentang itu, tetapi Akak tidak menyangka istri Akak sudah lama mengamalkan itu."


"Akak tidak marah, 'kan?"


"Akak justru bangga, Akak semakin cinta sama El, sayangnya El sedang PMS, kalau tidak pasti sudah Akak kasih penghargaan dan hadiah beraksi sampai pagi."


"Itu bukan penghargaan atau hadiah, itu maunya Akak aja," jawab Elfa sambil mengerucutkan bibirnya.


Sambil tergelak dan mencium kening Elfa berkali-kali dengan gemas, "Tahu aja sih, I love you full, Garwoku."

__ADS_1


__ADS_2