
Tidak hanya Elfa dan Juan Mahardika yang kaget, ada banyak orang dan pedagang yang kaget dan heran melihat kemarahan Magdalena. Yang awalnya Elfa sangat emosi jadi tersenyum melihat situasi yang ada. Ada banyak dukungan dan simpati dari wisatawan atau pedagang.
"Apa maksud kamu?" tanya Elfa sambil pura-pura lemah dan tertindas.
Magdalena bingung dengan sikap dan perubahan Elfa yang terlihat manis dan sopan. Tidak seperti kemarin galak, garang dan memiliki kekuatan tangan yang kuat. Bahkan, kekuatan Elfa kemarin seperti laki-laki olahragawan walau berpenampilan feminim.
Magdalena tetap menjaga image karena terlanjur terlihat jahat di mata orang yang melihat, "Apa yang kamu katakan kepada tunangan Magda sampai mereka mengusir Magda?" tanya Magda dengan bahasa setempat untuk mencari simpati.
Elfa memang tidak bisa bahasa Italia, tetapi Juan Mahardika sangat faham. Dengan capat laki-laki mantan casanova itu bertolak pinggang dan menjawab dengan tegas, "Maaf, apakah kami mengenal kamu?"
"Sangat mengenal, buktinya kalian tadi berbincang dengan tunangan Magda."
"Kapan dan di mana?"
Magdalena gugup tidak bisa menjawab pertanyaan Juan Mahardika. Tidak mungkin bisa membuktikan yang perkataan dan tuduhan yang dilakukan. Semakin terpojok padahal baru dijawab dengan kata-kata saja.
"Apakah kamu bisa buktikan?" tanya Juan Mahardika lagi.
Magdalena semakin bingung dan tidak bisa menjawab. Hanya bisa melihat sekeliling memperhatikan orang yang menyaksikan dirinya sedang marah. Bahkan, ada banyak yang berkomentar dan berteriak tentang perbuatan yang tidak sopan kepada turis yang sedang berwisata.
"Jangan-jangan wanita ini penipu?"
"Hati-hati, Tuan dan Nyonya jangan terkecoh dengan penampilannya!"
"Cepat ganti Polpette yang kamu jatuhkan!"
"Cepat laporkan saja dia pada petugas polisi!"
Masih ada banyak lagi orang yang berteriak sambil menunjuk Magdalena. Wanita seksi itu semakin terpocok dan tidak bisa berkutik dan tidak bisa menjawab. Tidak harus dengan otot mantan masa lalu bisa dikalahkan dengan mudah.
Elfa mendekati Magdalena dan berbisik di telinga, "Ini baru kekuatan mulut, belum dengan kekuatan tangan, kalau kamu masih tetap menuduh tanpa bukti tangan ini yang akan mengusir kamu," ancam Elfa.
__ADS_1
Mata Magdalena terbelalak sempurna mendengar ancaman Elfa. Langsung teringat kejadian kemarin tangan nyeri karena ulahnya. Sampai sekarang nyeri itu masih terasa walau sudah diberiakan obat oles pereda nyeri.
Magdalena langsung berlari tanpa kata, bersama dengan teriakan dan ejekan banyak orang. Ditambah senyum devil Elfa dan Juan Mahardika penuh kemenangan. Tanpa sengaja saat berlari terpeleset polpette yang tadi jatuh, "Aaauw!" terianya.
"Kena karma langsung ya!" teriak Elfa dan Magdalena yang berjalan terpenting menjauh.
Hari terakhir di Italia, Juan Mahardika mengajak Elfa ke Venesia. Kota di atas air yang sangat eksotik dan terletak di tengah-tengah laguna. Kanal dan saluran airnya yang indah serta dipenuhi dengan bangunan, istana, dan gereja yang menakjubkan.
Terdapat gang-gang yang berkelok-kelok di antara perairan yang akan membuat wisatawan takjub. Apalagi menyusuri menggunakan perahu yang di sewa sambil duduk berdampingan. Serasa dunia milik berdua, bahkan sang mantan masa lalu pun tidak akan berani mengontrak.
"Indah sekali di sini, Akak ingin setiap hari seperti ini, Sayang."
"Hari ini kita harus meninggalkan negara ini, Akak."
"El tidak ingin menambah hari, belum semua kita kunjungi lo?"
Elfa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Tidak ingin menambah hari berwisata bukan karena negara atau tempat wisata kurang bagus, Namun, karena selalu bertemu dengan mantan masa lalu yang selalu membuat emosi.
"Mengapa tidak mau?"
"Maaf."
"Sudah tidak perlu dibahas. Masa lalu hanya akan kita tinggal dibelakang."
"Cocok, Akak hanya akan menyongsong masa depan dengan El dan keturunan kita kelak, love you so much."
Malam hari pesawat mewah milik keluarga Mahardika terbang menuju tanah air. Perjalanan hampir satu bulan dengan pengalaman manis dan pahit sangat membuat terkesan dalam hati. Menambah cinta semakin tumbuh dan semakin besar.
Sampai di Jakarta, Juan Mahardika langsung disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Ditambah dengan rencana pernikahan Asisten Dwi Saputra yang akan di selenggarakan sebentar lagi. Semakin membuat atasan dan asisten sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk istirahat.
Elfa masih belum menjawab permintaan Rena untuk menjadi pendamping saat akad nikah nanti. Juan Mahardika yang akan menjadi saksi dari pengantin pria. sedangkan rencana Elfa dan Krisnawati yang akan mendampingi pengantin wanita.
__ADS_1
Elfa masih teringat saat berkeliling Eropa selalu bertemu dengan sang mantan masa lalu suami. Kemungkinan pasti juga ada banyak mantan masa lalu di sana. Apalagi di kafe Jonny Evans yang dulu setiap saat di kunjungi.
Ada perbedaan budaya dan adat kebiasaan di masyarakat Indonesia dengan masyarakat dunia terutama Eropa. Walau tidak semua, tetapi wanita Indonesia lebih sopan dan tidak akan berani berterus-terang tentang hubungan yang dipaksa.
Elfa tidak mungkin akan bisa menolak permintaan di momen penting pernikahan Rena. Hanya bisa berharap tidak akan terjadi peristiwa Magdalena terjadi di sana. Yang paling sulit mungkin menghadapi Jonny Evans karena tidak mungkin laki-laki pemilik kafe itu melepaskan begitu saja tambang emas yang dulu selalu mengisi pundi-pundi uang masuk kantong.
Sudah hampir satu minggu berlalu setelah pulang bulan madu dari Eropa. Walau Elfa sudah menjawab sanggup untuk mendampingi Rena. Namun, Elfa masih belum bisa tenang memikirkan nanti di desa Mami Mitha saat acara akad nikah.
Sore ini Elfa sedang duduk di kursi malas yang ada di samping kolam renang rumah mewah milik suami. Termenung masih memikirkan cara menghadapi Magdalena versi Indonesia. Sangat percaya pada suami, tetapi tidak untuk sang mantan di luar sana.
Saat Juan Mahardika pulang dari kantor lebih awal. Tidak menemukan istri tercinta di kamar. Bertanya kepada bibi jika nyonya rumah ada di belakang, Juan Mahardika langsung berlari mencari istri tercinta.
Sampai Juan Mahardika berdiri di samping kursi malas, Elfa masih termenung dan tidak menyadari sang suami sudah pulang kerja. Juan Mahardika berjongkok dan mengusap pipi Elfa, "Sayang, mengapa melamun?"
"Eee Akak, sekarang jam berapa kok sudah pulang?"
"Akak pulang cepat karena sangat merindukan istri Akak yang cantik ini," jawabnya sambil mengecup bibir sekilas.
"Baru ketemu tadi pagi, saat istirahat vedio call, mengapa sekarang sudah rindu?"
"Entahlah, mungkin hati Akak resah karena istri Akak sedang banyak pikiran. Ada apa, Sayang?" Juan Mahardika ikut duduk di kursi malas dan menarik Elfa dalam pelukan.
"El memikirkan acara akad nikah Rena."
"Asisten Dwi sudah mempersiapkan dengan Rena dan keluarga, El tidak perlu memikirkan mereka."
Elfa menarik napas panjang, dan menghenbuskan perlahan, "Bukan masalah itu yang El pikirkan, Akak."
"Apa yang dipikirkan?"
"Tentang Jonny Evans dan mantan masa lalu."
__ADS_1
"Ya Allah ya Rob, Sayang. Masalah itu jangan khawatir, coba lihatlah ini, Jonny Evans tidak akan bisa berulah lagi sekarang!" Juan Mahardika menunjukkan ponsel miliknya.
"Ha, kapan ini terjadi, Akak?"