
Satu minggu Pasangan pengantin baru mendapatkan cuti untuk berbulan madu. Dengan fasilitas pesawat mewah milik Juan Mahardika. Dipersilahkan memilih untuk menentukan sendiri tempat bulan madu yang diinginkan.
Rena lebih memilih bulan madu di Indonesia saja. Diberikan pilihan oleh sang suami antara Bali, Labuan Bajo dan Danau Toba. Rena memilih berbulan madu ke Bali yang sangat terkenal pantai Kute yang eksotik.
"El mau ikuk ke Bali?" tanya Juan Mahardika saat Rena dan Asisten Dwi Saputra bersiap-siap berangkat ke Bali.
"Tidak, El labih tertarik dan ingin berwisata ke titik Nol IKN Nusantara," jawabnya singkat
"Calon ibu kota baru yang ada di kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur itu, Sayang?"
"Iya, El pingin berfoto selfi di sana."
Asisten Dwi Saputra tersenyum dan berbalik badan mendengar keinginan Elfa. Kebetulan ada jadwal kunjungan kerja Juan Mahardika ke perusahaan tambang miliknya yang ada di wilayah Samarinda. Keinginan bisa diwujudkan dengan bekerja sambil berwisata.
"Ini jadwal Anda minggu depan, Tuan. Anda bisa mewujudkan impian Nona El."
Dengan tersenyum dan mengusap pipi Elfa, Juan Mahardika langsung menyampaikan kepada istri tercinta, "Keinginan langsung dikabulkan."
"Waaah terima kasih."
"Kita berangkat minggu depan."
Sebelum Asisten Dwi Saputra berangkat ke Bali. Mempersiapkan terlebih dahulu jadwal untuk tuannya satu minggu ke depan. Langsung meeting dadakan di villa milik Juan Mahardika.
Elfa membantu Rena berkemas di kamar milik Asisten Dwi Saputra. Sambil berbincang tentang Krisnawati yang kembali pergi menghilang. Berbincang juga tentang hal pribadi sekitar malam pertama Rena.
Dengan ragu-ragu Rena bertanya kepada Elfa, "Apakah malam itu El langsung melakukan malam pertama?"
Elfa tersenyum sambil mengerutkan keningnya, teringat hampir satu bulan baru bisa menerima seutuhnya sang suami. Ditambah saat itu menstruasi saat akan akad nikah. Namun, tidak mungkin El cerita peristiwa itu karena Rena tidak mengetahui masalahnya.
"Waktu itu El kedatangan tamu bulanan, jadi tidak langsung."
"Ooo."
Sambil tersenyum Elfa mengedipkan mata menggoda, "Rena tadi malam langsung ya?"
Rena tersenyum sambil mengangguk, "Rasanya kok masih sakit ya padahal dulu Rey pernah dipaksa sama tua bangka itu?"
__ADS_1
"Masa lalu jangan diingat lagi, kita fokus dengan suami saja."
"Iya, tetapi memang beda rasanya."
"Beda bagaimana?"
"Beda melakukan karena cinta dan karena dipaksa."
"Waah baru satu malam sudah ketagihan, sampai berapa ronde tadi malam?"
"Iiih jangan keras-keras malu nanti didengar Aa," kata Rena sambil meletakkan jari telunjuk di mulut.
"Mereka masih meeting, cepat cerita sampai pagi ya?"
Belum sempat Rena menjawab pertanyaan Elfa, pintu terbuka tanpa di ketuk. Ada Asisten Dwi Saputra berdiri di depan pintu sambil tersenyum, "Apakah sudah selesai packing, Rey?"
"Idih, coba panggilnya yang romantis gitu dong Asisten Dwi!" perintah Elfa sambil tersenyum.
Rena hanya menunduk tersipu malu, suami yang baru saja dinikahi itu bukan laki-laki yang romantis seperti laki-laki pada umumnya. Sudah terbiasa tegas, kaku dan persikap formal kepada siapa saja. Termasuk saat pacaran dulu tidak pernah memanggil dengan panggilan lain selain nama saja.
"Beda dong, El. Tidak seperti Akak JM nya El yang bucin habis. Suami Rena orangnya lurus dan kaku seperti jalan raya."
"Mau berangkat jam berapa, Aa?"
"Satu jam lagi."
Elfa berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Untuk beristirahat sejenak karena akan pulang kembali ke Jakarta bersama pasangan pengantin baru, "Akak!" panggil Elfa sambil masuk kamar.
Yang dicari tidak ada di kamar, hanya bisa menebak kemungkinan masih ada di kantor pribadi setelah meeting dadakan dengan sang asisiten, "Tidur saja dulu deh," monolog Elfa sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Baru saja terpejam sesaat, pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Elfa santai dan tidak bereaksi karena mengira adalah suami yang masuk kamar sendiri. Namun, ada suara dua orang yang terdengar berbincang dengan berbisik.
Elfa masih pura-pura tertidur dengan mata terpejam dan tanpa bergerak. Mengintip sedikit untuk mengawasi orang yang baru saja masuk dengan mengendap-endap. Ada dua pemuda tanggung masuk sambil mengawasi sekitar kamar Elfa.
"Yang punya rumah tertidur," bisik salah satu Pemuda.
"Iya, pelan-pelan saja. Jangan sampai dia terbangun," Pemuda satu lagi meletakkan jari telunjuk di bibir.
__ADS_1
"Coba kamu perhatikan baik-baik, jangan sampai kita ketahuan,"
"Iya, sebentar."
Elfa masih terdiam dan pura-pura masih terlelap. Saat salah satu pemuda itu memperhatikan dengan perlahan. Elfa seolah menghentikan napas agar tidak ketahuan jika mengawasi.
Elfa masih menunggu dua pemuda tanggung itu beraksi. Teringat dengan dua laki-laki yang tadi malam menyerang Krisnawati. Masih ingin melihat yang akan dilakukan dua pemuda tanggung itu masuk kamar orang di siang hari bolong.
"Masih tertidur, seperti orang mati tidurnya," suara itu masih terdengar lirih.
"Baik ayo kita cepat beraksi,"
"Iya, mulai dari mana?"
"Tunggu gue lihat dulu."
Elfa masih memperhatikan dengan mengintip sedikit gerak-gerik dua pemuda tanggung itu. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh mereka. Mempertimbangkan kemungkinan ada hubungan dengan laki-laki yang menyerang Krisnawati tadi pagi atau tidak.
Sayang sekali, ada pintu terbuka dengan cepat. Pemilik kamar yang sebenarnya datang. Membuat rencana Elfa gagal dan dua pemuda itu gugup saat Juan Mahardika masuk kamar, "Siapa kalian?" tanya Juan Mahardika dengan berteriak.
"Ayo kita kabur!" teriak salah satu pemuda.
Dua pemuda itu panik dan berusaha ingin keluar dengan berlari mendekati pintu kamar. Dengan cepat Elfa melompat turun dari tempat tidur dan berlari mengejar, menendang pintu yang sudah dibuka oleh salah satu pemuda, "Hyaaaat ...!"
Suara pintu tertutup dengan paksa menggema di kamar. Benturan antara pintu dengan daun pintu terdengar jelas. Membuat kaget dan gugup pemuda yang ingin melarikan diri.
Satu pemuda berhasil keluar kamar dan satu lagi terjebak di kamar. "Akak, ringkus pemuda itu, El akan mengejar yang satu lagi!" perintah Elfa sambil berlari mengejar pemuda yang melarikan diri.
"Iya, Sayang."
Elfa berlari mengejar pemuda tanggung yang beralari lewat pintu dapur. Rupanya mereka tadi masuk lewat pintu dapur saat masuk. Kebetulan pintu dapur tidak dikunci.
Pemuda tanggung itu berlari ke pagar samping villa milik Juan Mahardika. Di sana ada kursi panjang yang dulu pernah dipakai saat melarikan diri. Posisi kursi itu masih sama seperti dulu tanpa ada perubahan sedikit pun.
Elfa mulai bisa membaca arah pemuda itu akan melarikan diri. Dengan berlari kencang dan menyusul pemuda tanggung itu berlari. Hanya berbeda tiga langkah antara pemuda tanggung itu dengan kaki Elfa menginjak kursi.
Sambil memutar badan, kaki menginjak kursi sebagai tumpuan melompat menendang pemuda yang berusaha melarikan diri, "Hug ... hyiat!" tepat tendangan kaki Elfa mengenai perutnya.
__ADS_1
"Aduuuh, ampun!"