Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 107. Stay Cool Mode


__ADS_3

Juan Mahardika dengan patuh memakai masker yang dipakaikan oleh Elfa. Tidak memperdulikan warna masker yang dikenakan. Yang terpenting sang istri tidak marah lagi dan wajahnya tidak cemberut.


Elfa tersenyum simpul sendiri setelah memakaikan masker. Wajahnya secerah mentari pagi yang baru saja terbit dari ufuk timur. Tidak ada bibir yang monyong seperti sebelumnya.


"Mengapa El senyum-senyum begitu?" tanya Juan Mahardika heran.


"Akak lucu, badannya kekar, memakai masker pink dan tas wanita yang di slempang jadi seperti Jenny pegawai salon langganan Mami," jawab Elfa sambil tergelak.


"Akak rela jadi apa saja yang penting istri Akak wajahnya secerah mentari pagi, I love you so much, Garwoku."


"Sudah tidak perlu merayu, ayo jalan lagi!"


Berjalan kembali sampai keluar bandara tidak ada seorang pun lagi yang megenali Juan Mahardika kecuali Asisten Dwi Saputra. Asisten itu menahan tawa saat melihat Juan Mahardika yang berpenampilan aneh. Baru kali ini tuannya itu bisa santai dan cool dengan penampilan yang aneh.


Asisten Dwi Saputra hanya bisa mengikuti dari belakang tanpa berani berkomentar, Tidak ingin membangunkan macan yang sedang kasmaran dan menjadi stay cool mode. Pastinya akan bisa menatap horor saja tanpa berkomentar jika di tertawakan.


"Kita tinggal di mana selama di sini, Akak?" tanya Elfa sambil berjalan.


"Di hotel kita dong, Sayang."


"Jadi yang akan Akak kunjungi itu hotel bukan perusahaan?"


"Dua-duanya."


"Ooo."


Juan Mahardika tersenyum mendengar jawaban Elfa yang hanya membulatkan bibirnya saja. Baru kali ini menemui wanita yang tidak pernah mengetahui kekayaan suami. Dulu baru menjadi kekasih saja, banyak wanita yang menanyakan berapa jumlah harta kekayaan dan perusahaan yang dimiliki.


"Coba El tanya pada Akak di mana saja perusahaan dan usaha suami apa saja!"


"Ogah, Akak saja yang menunjukkan sendiri, kalau perlu buat daftar di mana saja semua perusahaan dan usaha Akak."


"Baik, segara dilaksanakan."


Juan Mahardika menoleh pada asistennya, "Kamu buat daftar semua yang di minta istriku!"


"Siap, Tuan."


Mobil sudah siap di depan pintu utama bandara dengan logo Mahardika Corp beserta sopir yang sedang menunggu, "Itu mobilnya silakan masuk, Tuan!"


Sampai masuk mobil mewah, Juan Mahardika tidak juga membuka masker pink yang dikenakan. Bahkan, sopir saja hampir tidak mengenali tuannya sendiri. Baru kali ini sopir itu melihat penampilan yang aneh dari Juan Mahardika.

__ADS_1


Masuk area hotel penampilan Juan Mahardika masih seperti semula, "Akak boleh buka masker kalau mau masuk hotel!"


"Tidak usah."


"Buka saja, Kak!"


"Nanti kalau ada masalah jangan marah ya?"


"Apakah ada wanita yang pernah Akak rayu di hotel sini?"


Kepala hanya digelengkan saja jawaban Juan Mahardika. Sudah lupa entah berapa yang pernah dikencani pada zaman dulu. Tidak pernah menghitung atau mengingat wanita yang pernah dikenal atau dikencani.


"Pakai lagi saja, El kesal sama Akak lagi!"


"Sayang, jangan marah lagi dong, itu hanya masa lalu. Lihat ini Akak pakai lagi, tidak perlu cemburu pada masa lalu!"


"Tahu, ayo cepat masuk, El mau istirahat!"


"Iya, I love you Garwaku Sayang."


"Gombal, tidak perlu merayu, pokoknya El kesal."


Yang jadwal awalnya, Juan Mahardika akan langsung masuk ruang meeting. Juan Mahardika langsung menuju kamar pribadi sambil menggenggam tangan istri tercinta.


"Kamu awali meeting, aku mau ke kamar sebentar!" perintah Juan Mahardika kepada Asisten Dwi Saputra.


"Siap, Tuan."


Sebentar bagi Juan Mahardika, tetapi lebih satu jam para karyawan menunggu tuannya datang. Juan Mahardika harus merayu sang istri yang meraju karena kesal dari bandara sampai hotel. Ujung-ujungnya amarah itu sebagai alasan untuk bisa beraksi dengan istri.


"Jangan marah lagi ya, Akak ini hanya milik El seorang?" Juan Mahardika mengecup dahi Elfa sesaat setelah baru saja tumbang berbaring disamping Elfa.


"Sana mandi, karyawan Akak sudah menunggu dari tadi!"


"El mau mandi sekalian?"


"Tidak, El nanti saja."


"Baik istirahatlah!"


Elfa sedang terlelap tidur saat Juan Mahardika ke luar kamar hotel untuk meeting. Mempersiapkan makan siang untuk istri tercinta sebelum di tinggal. Tidak ingin kekurangan sesuatu saat ditinggal dan tidak lupa memerintahkan security untuk menjaga di depan pintu kamar pribadi.

__ADS_1


Sudah satu jam berlalu meeting dilaksanakan, tetapi belum juga selesai. Elfa makan siang sendiri karena sudah lapar setelah mandi. Hanya mengirim foto diri sendiri saat makan sendirian pada suami yang sedang sibuk memimpin meeting.


Dengan spontan Juan Mahardika langsung memberikan jeda untuk break dan istirahat untuk makan siang. Bergegas berlari masuk kamar menyusul Elfa yang makan sendirian. Sudah terbiasa menyuapi Elfa saat makan kapan pun waktunya.


"Sayang, sini Akak suapin!"


"El sudah dapat setengah, makan sendiri saja."


"Nanti nambah lagi, Akak juga lapar, sini ayo buka mulutnya!"


Sekali suap bergantian dengan diri sendiri dan bergantian dengan istri tercinta. Sampai habis satu piring ludes habis berdua dan tambah minum air putih serta jus jeruk. Dilanjutkan dengan menutup menu makan dengan buah segar favorit yang dipotong dadu.


"Akak sudah selesai meetingnya?" tanya Elfa setelah selesai makan.


"Belum, nanti dulu aja."


"Kenapa?"


"Akak belum makan El."


Elfa tidak menjawab ucapan sang suami. Memilih mengerucutkan bibirnya saja karena baru satu jam yang lalu meminta jatah dan beraksi. Sekarang ini mau minta lagi, "Jangan sekarang, El capek."


"Baik, beraksi di sini saja, nyicil dulu." Juan Mahardika bergerilya di bibir dan leher saja dan kemudian berpamitan untuk kembali meeting.


Malam harinya Juan Mahardika mengajak makan malam di restoran yang ada hotel. Berada di lantai paling bawah di private room. Menikmati menu khas restoran yang menjadi andalan restoran dan menu steak favorit.


Dengan ditambah bunga mawar merah di meja. Lilin yang menerangi ruangan yang temaram semakin menambah romantis suasana. Romantisnya melebihi yang dibuat dulu saat di kamar sendiri ketika berada di Riyadh.


Ditambah dengan lagu yang sendu dan syadu, Juan Mahardika mengajak Elfa berdansa. Sambil berpelukan dan menggerakkan kaki seirama dengan lagu. Semakin menambah suasana lebih romantis lagi.


Semakin malam suasana hati semakin menggebu penuh taburan cinta. Pelukan semakin dieratkan, sesekali mengecup bibir sekilas ditambah tatapan cinta yang membara. Semakin waktu cinta terpupuk semakin membara di dada.


Tiba-tiba pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu ada seorang wanita masuk tanpa permisi. Juan Maharidka dan Elfa tersentak dan melepaskan pelukan sambil memandang sesaat. Seolah saling bertanya walau tanpa kata.


"Siapa lagi dia, Akak?"


BERSAMBUNG


shobat, apakah sudah mampir di novel Author yang disebelah, setiap hari up lho, yok mampir sambil menunggu Elfa up lagi


__ADS_1


__ADS_2