Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 64. Yang Kuning Lewat Dulu Ya!


__ADS_3

Pukul tujuh pagi hari Sabtu, Papi Alfarizi dan Mami Mitha sedang bingung harus memutuskan yang mana yang akan di datangi terlebih dahulu. Acara eniversery perusahaan yang ada di Riyadh dan acara panen raya yang ada di Ngawi. Biasanya acara itu tidak pernah bersamaan, tetapi karena perbedaan perhitungan kalender hijriah dan masehi dari acara keduanya sehingga tahun ini terjadi bersamaan.


"El saja yang menggantikan Mami dan Papi ke Ngawi."


"Ide bagus itu, Mami dan papi bisa berangkat ke Riyadh."


Elfa teringat saat masih kecil saat berkunjung di keluarga Almarhumah Nenek Ani. Di sana sering bermain di sungai yang letaknya di belakang rumah dan di tengah sawah. Jika sudah berkunjung ke sana, El akan enggan pulang karena suasana yang asri dan masyarakat desa yang ramah.


"Apakah El boleh tinggal lama di sana seperti dulu, Papi?"


"Tentu saja, Nanti jika ada waktu setelah Papi dan Mami dari Riyadh, Papi dan Mami akan ikut menyusul El ke sana."


"Asyik, terima kasih. Papi dan Mami berangkat jam berapa?"


"Pesawat sudah siap sekarang, Papi jam sembilan dari rumah. El mau berangkat jam berapa?"


"El agak siang aja, Pi. Sebelum zuhur saja."


"Baik, Papi persiapkan helikopter untuk El ke Ngawi."


Elfa sempat mengantar Papi Alfarizi dan Mami Mitha ke Bandara Internasional Soekarno Hatta sebelum berangkat ke Ngawi. Berbelanja oleh-oleh untuk keluarga Pakde Sarto di sana. Biasanya Mami Mitha akan membelikan oleh-oleh khas dodol betawi dan bir pletok dalam jumlah banyak.


Di desa Pakde Sarto sekarang ini menjadi desa percontohan petani swasembada beras. Dengan bantuan Papi Alfarizi desa dibangun irigasi sawah dengan konsep modern. Dengan konsep koperasi petani dan simpan pinjam yang amanah, desa menjadi makmur dan sejahtera.


Setiap panen raya, Papi Alfarizi dan Mami Mitha sering hadir sebagai tamu kehormatan. Selalu di tunggu oleh masyarakat karena disamping banyak membagikan sembako bagi anak yatim dan lansia yang membutuhkan. Papi Alfarizi sering membagikan bea siswa bagi anak sekolah yang berprestasi.

__ADS_1


Papi Alfarizi juga membangun rumah untuk keluarga yang ada di Ngawi lebih besar dan nyaman. Membeli lahan kosong di samping rumah digunakan untuk landing helikopter. Tidak menggunakan lapangan sepak bola untuk landing helikopter setiap datang seperti dulu.


Acara panen raya akan dilakukan hari Minggu besok. Elfa disambut oleh keluarga Pakde Sarto dan Bude Marmi dengan gembira. Pasalnya hampir empat tahun terakhir Elfa tidak pernah berkunjung ke desa.


Sore harinya Elfa duduk di pinggir sungai yang berada di belakang rumah di tengah sawah. Udaranya masih segar tanpa ada polusi. Elfa duduk di batu besar sambil melihat gerecik air mengalir yang jernih, ikan-ikan terlihat berenang dengan lincah.


Sesekali Elfa melempari kerikil kecil saat ikan-ikan itu berenang mendekati kaki yang terkena air. Pikiran terasa tenang dan tanpa beban. Mulai mengikhlaskan masa lalu yang kelam bersama laki-laki yang akhir-akhir ini megejar dan menyatakan cinta.


Tidak terpautnya hati dengan laki-laki selain orang yang telah merenggut milik satu-satunya. Sakit hati yang mendalam karena peristiwa masa lalu. Kini sedikit demi sedikit bisa terobati dengan seiring waktu.


Pepatah yang mengatakan hanya waktu yang akan bisa mengobati luka hati. Hanya sayangnya, Elfa masih sering merasakan pilu hati. Terutama saat sepi sendiri dengan suasana tenang seperti ini.


Bayangan tawa Juan Mahadika sesaat setelah sadar semua telah terjadi masih sering melintas di pelupuk mata. Dibandingkan dengan tatapan cinta yang memuja saat ini sepenuhnya tidak bisa mengobati luka hati. Sakit itu selalu membekas di hati tanpa bisa terhapus.


Mata tertuju pada bayangan ikan yang berenang, tetapi hati entah ke mana berkelana. Sambil melempari air sungai yang mengalir dengan suara gemercik. Seolah mengiringi air mata yang menetes di pipi tanpa disadari.


Ada suara sayup-sayup memanggil Elfa dari kejauhan. Bude Marmi datang sambil membawa keranjang baju kotor, "El, kamu di mana, Nak?"


Bergegas Elfa menghapus air mata yang masih menggenang. Berusaha tersenyum dan turun dari batu besar yang di duduki, "El di sin, Bude!" teriaknya.


"Dari siang El belum makan, sana makan dulu, Bude sudah masak garang asem ayam kesukaan El!"


"Iya nanti saja, Bude. El belum lapar. Bude mau ngapain?"


"Bude mau mencuci baju."

__ADS_1


Bude Marni duduk batu di pinggir sungai. Mulai mengeluarkan baju kotor dari keranjang. Sabun colek dan sikat baju juga tidak lupa di keluarkan, mulai mencuci baju satu persatu.


"Di rumah ada mesin cuci, mengapa masih mencuci di sungai sih, Bude?"


"Bude tidak sabar, Nak. Enak mencuci di sini karena gratis tanpa harus membayar listrik dan air."


Elfa hanya memperhatikan Bude Marmi mencuci baju satu persatu. Mulai dari baju yang kering dibasahi dengan memasukkan ke air yang mengalir. Dicolek sabun cuci dengan jari telunjuk dan langsung di sikat di atas batu yang datar.


Elfa terus memperhatikan Bude Marmi yang membilas baju di air yang mengalir beberapa kali sampai busa sabun colek menghilang. Saat Bude membilas baju, terkadang ada sesuatu yang mengambang dengan warna kuning lewat mendekati baju yang dibilas. Membuat Bude Marmi emosi dan marah-marah sendiri.


"Opo toh iki lewat kene. Wes cepet lewat!" Bude Marmi mendorong air agar sesuatu itu cepat mengalir ke bawah.


Elfa tertawa terbahak-bahak melihat Bude Marmi yang lucu. Yang tadinya menangis karena sedih, kini Elfa tertawa sampai keluar air mata. Tidak hanya sekali sesuatu itu lewat, terkadang dalam satu waktu ada lagi yang lewat mendekat.


"Bude, awas ada lagi yang lewat!" teriak Elfa sambil tergelak.


"Waduh, kurang ajar wong iki, ora sopan!"


Hampir satu jam Elfa menemani Bude Marmi mencuci baju. Elfa ikut bermain air di pinggir sungai saja sambil berbincang dengan Bude Marmi. Tidak berani ke tengah takut ada sesuatu yang mengambang berwarna kuning lewat.


Elfa akan bergegas berlari ke pinggir jika melihat itu. Antara geli dan jijik Elfa melihatnya, "Bude, banyak betul sih itu lewat, El geli!"


Bude Marmi tergelak bukan karena melihat sesuatu yang lewat. Bagi wanita paruh baya itu sudah terbiasa melihatnya setiap hari. Bude Marmi tergelak karena melihat Elfa yang berjingkrak dan berlari karena geli.


Setelah selesai mencuci baju, tanpa sungkan dan malu Bude Marmi membuka baju. Langsung membenamkan badan di tengah sungai dengan duduk berjongkok. Hanya terlihat dada bagian atas dan kepala saja.

__ADS_1


"Ayo El, ikut mandi sini. Airnya segar banget lo!"


"Tidak mau, Bude. El geli!"


__ADS_2