Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 182. Ingin Bertemu Abah


__ADS_3

"Akak, El tidak minta harus beli ke Palembang, di depan komplek paling ujung sana ada restoran yang menjual kapal selam yang rekomen banget."


Juan Maharika mengerutkan keningnya mengingat restoran yang dikatakan. Walau sudah lama tinggal di komplek perumahan elit miliknya tidak pernah memperhatikan restoran yang jarang dilewati. Yang tahu hanya yang sering dilewati saja, disamping itu dulu jarang sekali makan masakan Indonesia sehingga banyak makanan yang beragam tidak banyak diketahui.


"Jadi Akak tidak perrlu ke Palembang, beli ke sana saja?"


"Tidak perlu, Akak istirahat saja, El mau minta tolong Pak Min atau Nany Sofia saja."


"Baiklah, Akak batalkan dulu perjalanan ke Palembang. Sana El panggil Nany Sofia saja!"


Elfa ke luar kamar untuk memangggil Nany Sofia, Juan Mahardika ke ruang kerja pribadinya. Menghubungi wakil dari Asisten Dwi untuk melanjutkan pekerjaan yang di kantor. Mengatakan tidak kembali ke kantor lagi dan hanya akan mengerjakan pekerjaan yang penting lewat online saja.


Kembali ke kamar, Juan Mahardika melihat Elfa sudah menikmati empek-empek Palembang dengan lahap. Juan Mahardika memperhatikan satu porsi empek-empek itu dengan seksama. Penasaran karena namanya sangat unik yaitu kapal selam.


"Mana yang di namakan kapal selam, Sayang?"


"Itu yang bentuknya mengembung dan pipih diatas itu namanya kapal selam."


"Yang bulat pajang itu namanya apa?"


"Itu namanya lenjer."


Juan Mahardika terus memperhatikan bentuk empek-empek yang terdiri dari beberapa bentuk. Namun, dari bentuk itu warna, bahan, dan tekstur terlihat sama. Kemungkinan memiliki rasa yang sama karena tidak ada perbedaan sama sekali kecuali hanya bentuk saja.


"Walau bentuknya beda, sepertinya rasanya sama saja deh!"


"Beda dong, Akak. Kapal selam itu ada telur di dalamnya, sedangkan yang lain tidak ada."


Juan Mahardika berpindah ke kuah hitam yang sering disebut cuko. Menjolek dengan ujung jari dan mencicipi kuah itu, "Ada rasa asam dan manis dari gula merah ya?"


"Iya, Akak mau?"


"Tidak, menurut Akak yang terbaik tetap rujak bebeg. Akak makan rujak saja."


Dari datang tadi sampai saat ini menikmati rujak bebeg, Juan Mahardika belum berganti baju. Setelah rujak bebeg itu ludes tanpa sisa, suami Elfa itu langsung membuka jas dan dilemparnya di atas tempat tidur, "Eee mengapa dilempar begitu?" tanya Elfa.


"Akak kenyang, malas meletakkan pada tempatnya."


"Akak tidak berangkat ke kantor lagi?"

__ADS_1


"Tidak," jawabnya sambil melepas celana panjang dan dilemparnya entah ke mana.


"Makan rujak tidak tidak kira-kira sih."


"Yok olahraga saja agar rujak bebeg cepat habis di perut!"


"El sudah senam hamil tadi pagi, Akak."


"Ini olahraga yang membuat El merem melek, bukan buat El capek."


"Eee ini masih siang, apa karena ingin beraksi Akak tidak kembali ke kantor?"


Dengan tersenyum devil, Juan Mahardika mengangguk. Dari tadi sebelum memesan empek-empek kapal selam sebebarnya pusaka bumerang sudah terbangun. Sudah mengajak beraksi, hanya sayangnya tertunda karena keinginan twins baby yang ingin membeli dan makan kapal selam.


Tangan langsung menyusup masuk dalam tempat favorit. Bermain dan membuat Elfa rileks dan terdiam yanya menikmati. Semakin hari, Juan Mahardika semakin pandai membuat Elfa menikmati lembutnya pusaka bumerang beraksi.


Yang awalnya Elfa hanya terdiam menikmati aksi suami. Lama kelamaan Elfa mengimbangi aksi suami yang semakin menggebu. Aksi lembut suami membuat Elfa bisa menikmati sampai ke negeri atas awan berdua.


Baru saja pasangan suami istri beraksi sampai puncak nirwana. Bahkan keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun. Ada ketukan pintu dari luar berkali-kali.


"Akak, siapa yang mengetuk pintu itu?"


"Iya," jawab Elfa menarik selimut menutupi sampai leher dan tidur miring membelakangi pintu kamar."


Juan Mahardika terpaksa memakai baju yang tadi dilemparnya agar lebih capat. Bergegas membuka pintu karena pintu sudah berkali-kali diketuk, "Tunggu sebentar!" teriaknya.


Setelah pintu dibuka, Juan Mahardika kaget sambil tersenyum. Yang datang tidak cuma kedua mertua saja. Sekarang ini ada abang ipar bersama istri tercinta. Ditambah Pakde Sarto dan Bude Marmi yang juga sudah menunggu.


"Ada apa rombongan datang ke sini, Papi?" tanya Juan Mahardika.


"Di mana El, Nak Juan?" tanya Papi Alfarizi.


"El, sedang tidur sekarang, ada perlu apa, Papi?"


"Ooo kasihan jangan diganggu kalau begitu. Mami mau bertanya ayo kita ke luar saja dulu?" ajak Mami Mitha.


"Iya, Mi. Juan ganti baju dulu nanti menyusul!"


Setelah pintu ditutup, Elfa berbalik badan, "Ada apa mendadak mereka datang, Akak?"

__ADS_1


"Akak juga tidak tahu, Sayang. Papi belum cerita, El istirahat saja Akak yang akan menemui mereka!"


"Iya, El capek mau tidur dulu."


Juan Mahardika menemui keluarga di ruang keluarga setelah berganti baju. Ikut duduk di samping Papi Alfarizi yang berbincang seolah merencanakan sesuatu, "Apa apa, Papi?"


"Kemarin El cerita tentang seorang pedagang rujak bebeg yang mirip sama Almarhum Abah Asep, apakah itu betul?"


Sambil mengangguk, Juan Mahardika bernapas lega. Tadi merasa khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk tentang keluarga. Pasalnya keluarga inti dari istri tercinta datang bersamaan.


"Benar, Papi. Setelah Juan bandingkan wajah Abah pedagang rujak buah itu dengan Almarhum Abah Asep memang sangat mirip."


"Kami ingin bertemu dengan beliau, apakah bisa antar kami ke sana?" tanya Papi Alfarizi.


Juan Mahardika melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul tiga tiga sore, "Abah penjual rujak bebeg itu kemungkinan sudah pulang, Papi. Besok lagi jam sepuluh jualannya."


"Teteh Rani pingin melihat sekarang tidak bisa berarti ya?" tanya Rania.


"Kayaknya tidak bisa deh, apakah ada yang penting, Teh?"


"Tidak juga sih."


Mami Mitha bercerita setelah Elfa mengirim foto Abah pedagag rujak bebeg beberapa hari lalu. Dan bercerita wajah dan logat bicaranya seperti hampir sama dengan Almarhum Abah Asep. Mami Mitha bercerita kepada keluarga saat menginap di rumah Alfian Alfarizi.


Yang paling ingin melihat dan bertemu adalah Rania istri Alfian Alfarizi. Kerinduan dan kenangan bersama Abah Aseplah yang membuat Rania ingin sekali bertemu dengan pedagang rujak bebeg.


"Jadi bagaimana, mau kita cari sekarang atau besok saja, Papi?" tanya Juan Mahardika.


"Besok saja."


"Berarti harus menginap di sini dong, Pi. Abang banyak pekerjaan?" tanya Alfian Alfarizi.


"Kerjakan saja lewat online, kasihan Nak Rani penasaran!" perintah Mami Mitha.


Elfa ke luar dari kamar setelah setengah jam beristirahat. Menemui keluarga yang sedang berbincang di ruang keluarga, "Papi, kok bisa ke sini bersamaan?"


"Kita berangkat dari Bogor bersama, Nak," jawab Papi Alfarizi.


Setelah mendengar cerita keluarga dan keinginan Rania yang ingin bertemu dengan pedagang rujak bebeg, Juan Mahardika dan Elfa menduga Rania sedang berbadan dua, "Apakah Teteh sedang ngidam juga?" tanya Juan Mahardika.

__ADS_1


__ADS_2