Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 198. Meeting di Perusahaan Pusat


__ADS_3

Bersamaan Elfa mentowel dan mengancam pusaka bumerang, pemiliknya terjaga dan dengan spontan mentutup pusaka itu dengan kedua tangan. Elfa tergelak teringat masa lalu saat detik-detik menghypnotis pusaka bumerang setelah merenggut miliknya yang paling berharga. Hanya bedanya sekarang ini Juan Mahardika mengedakan celana sedangkan dulu polos dan tidak memakai apa-apa.


"Tega banget sih, Sayang. Akak cuma punya satu-satunya." Juan menutup pusaka bumerang padahal sudah tertutup dengan sempurna.


"Biarkan saja, ingat jangan macam-macam di luar sana!"


"Tidak dong, Sayang. Akak hanya punya keinginan satu macam saja."


"Ya sudah, tidur lagi!"


Juan Mahardika menaik Elfa dalam pelukan. Yang awalnya duduk, kini Elfa berbaring di atas Juan Mahardika, "Mau ke mana? Harus tanggung jawab sudah mentowel pusaka bumerang Akak."


Elfa kembali tergelak, "Ampun El hanya iseng, karena sudah satu Minggu ini Akak jarang modus."


"Ada banyak faktor yang membuat pusaka bumerang mulai pengertian."


"Oya, apa saja?"

__ADS_1


"Akak masih ngilu jika teringat kontraksi kemarin, Akak sering ngantuk karena kurang tidur, dan pusaka bumerang sangat pintar dan mengertian."


"Oooo, kirain Akak berniat macam-macam."


Juan langsung menikmati bibir mungil Elfa dengan lembut. Tangan melingkar sempurna di pinggang. Mau mencoba melepas tautan tangan tetap saja Elfa tidak kuat, padahal Elfa posisinya di atas, "Hhmm ...?"


Sampai Elfa hampir kehabisan pasokan oksigen, Juan Mahardika bergegas melepaskan tautannya. Setelah beberapa detik Juan Mahardika berniat kembali menikmati indahnya bergerilya, ada suara tangisan twins baby. Suara tangisan itu bersahutan, jika yang satu menangis yang satu lagi ikut menyusul.


Dengan terpaksa Juan Mahardika melepas pelukannya. Dengan tersenyum devil Elfa melenggang masuk kamar twins baby. Sedangkan Juan Mahardika hanya bisa pasrah dan menarik napas panjang.


"Maaf ya, Akak!"


Malam ini setelah makan malam, Juan Mahadika harus ke Australia untuk menghadiri meeting penting di perusahaan pusat. Pertama meninggalkan istri dan buah hati tercinta sangat terasa berat. Apalagi berkali-kali Elfa berpesan cepat pulang setelah selesai meeting.


"Insyaallah Akak tidak menginap, langsung pulang kalau meeting selesai, doakan Akak ya, Sayang. Baby Zi dan baby Za, Daddy pamit dulu, Assalamualaikum." Juan Mahardika mencium pipi twins baby dan mengcup sekilas bibir Elfa.


"Walaikum salam hati-hati, Daddy." Elfa melambaikan tangan.

__ADS_1


Yang biasanya ramai di kamar berbincang dan merawat twins baby bersama. Malam ini setelah lebih dari tengah malam terasa sepi karena Juan Mahardika tidak ada. Twins baby dan Elfa tertidur saat tepat di sepertiga malam.


Ada perbedaan waktu empat jam antara Jakarta dan Australia. Pesawat pribadi harus mengudara selama lima sampai enam jam perjalanan. Mendarat di bandara pukul tiga pagi waktu Indonesia dan pukul tujuh pagi di Australia.


Di Indonesia waktu menunjukkan lebih dari seperiga malam. Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra sarapan di restoran karena sudah pukul delapan pagi waktu Autralia. Sudah bersiap-siap untuk meeting yang akan dilakukan pukul sembilan pagi.


"Tunggu dulu, Dwi. Sebelum meeting aku ingin mendengar dan melihat El dan twins baby dulu."


"Silakan, Tuan!"


Hampir empat kali Juan Mahardika menghubungi Elfa. Namun, hanya operator yang menjawab untuk menghubungi lain waktu. Menghubungi Nany Sofia setali tiga uang tidak diangkat.


"Ke mana mereka, biasanya jam segini masih bercanda dengan twins baby?"


BERSAMBUNG


jangan lupa mampir di novel teman author yang rekoman ini ya.

__ADS_1



__ADS_2