
Mendengar perintah Juan Mahardika, Asisten Dwi Saputra kaget sampai membuka lebar matanya. Pasalnya, laki-laki itu tidak pernah sekalipun naik kendaraan umum. Disamping itu jalan raya dalam keadaan macet parah tidak mungkin akan dengan mudah mencari kendaraan yang diinginkan.
"Anda mau naik apa, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.
"Mobil yang terjebak macet hampir tiga kilo meter panjangnya," sahut Polisi yang duduk di samping Asisten Dwi Saputra.
"Bagaimana, Tuan?"
"Aku tidak perduli, kamu carikan motor ojek online saja kalau perlu!"
"Anda yakin mau naik motor?"
"Gadis itu bisa naik motor, mengapa aku tidak bisa?"
Asisten Dwi Saputra mengangguk sambil tersenyum. Yakin pasti tadi mendengar pembicaraan dengan polisi itu. Tanpa disadari ada perubahan sedikit pada pola pikir walau dalam keadaan emosi.
"Baik akan saya usahakan untuk mencari motor ojek online."
"Sebaiknya cari ojek pangkalan aja, Bang. Itu dibawah ada pangkalan ojek!" Polisi menunjuk pangkalan ojek yang berada di seberang jalan raya.
"Iya terima kasih, Pak."
Asisten Dwi Saputra berdiri ingin berjalan menuju pangkalan ojek. Hati masih ragu dan hampir tidak percaya tuannya mau naik motor ojek online. Seumur hidup tidak pernah melihat dia hidup susah selalu dalam limpahan harta.
"Anda yakin, Tuan?"
"Mengapa kamu tanya lagi, cepat sana cari ojek!" teriaknya
"Baik."
Tidak berani membantah lagi setelah melihat wajah Juan Mahardika terlihat mulai emosi. Asisten Dwi Saputra langsung berlari menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari jalan raya. Meyakinkan diri jika yang diperintahkan itu benar adanya.
Hanya dalam waktu lima menit saja, Asisten Dwi Saputra kembali dengan membonceng motor ojek penggolan. Turun dari motor setelah sampai di dekat Juan Mahardika, "Ini Tuan, ojek yang Anda inginkan, Silahkan katakan keinginan Anda pada dia."
__ADS_1
"Kamu bisa menerobos kemacetan ini dengan cepat?" tanya Juan Mahardika kepada tukang ojek.
"Saya tau jalan tikus di sekitar jalan raya ini, Tuan. Akan lebih cepat sampai di manapun tujuan Anda."
"Ok, ayo jalan!" Juan Mahardika langsung naik dn duduk dibelakang jok motor belakang.
"Tuan, seharusnya Anda menggunakan helm terlebih dahulu!" perintah Asisten Dwi Saputra.
"Aku tidak mau pakai helm, cepat jalan!"
Didalam perjalanan, Juan Mahardika memerintahkan tukang ojek menuju rumah sakit milik keluarga Zulkarnain. Meminta jalan tikus yang tercepat menuju ke sana. Bahkan tukang ojek pengkolan diminta untuk menambah kecepatan agar cepat sampai.
Hampir satu jam berlalu, Juan Mahardika sampai di tempat yang dituju. Turun di depan pintu utama rumah sakit. Membayar tukang ojek pangkalan dengan uang dua kali lipat dari harga jasa ojek.
Baru melangkah masuk menuju pintu pintu rumah sakit. Juan Mahardika mendengar dua perawat yang sedang berbincang sambil melihat vedio tentang aksi Elfa. Juan Mahardika mengikuti dua perawat itu dari belakang berjalan masuk rumah sakit sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hebat banget ya Kak El ini, anak orang kaya dan tajir tidak sombong."
"Iya rela mengorbarkan mobil yang harganya selangit demi balita yang tidak di kenal."
"Iya sayangnya dia wisuda di Australia sana."
"Enak banget ya jadi orang kaya, berangkat naik pesawat pribadi, bisa ke mana saja tanpa harus pusing-pusing mencari tiket."
"Coba aku boleh ikut menyaksikan Kak El di wisuda, pasti cantik banget dia ya?"
"Iya, pasti akan sangat beruntung laki-laki yang akan menjadi suami Kak El, baik dan suka menolong, tidak pernah pacaran."
"Benar sekali, aku kok tidak pernah Kak El mempunyai pacar ya."
Masih banyak lagi dua perawat itu membicarakan kebaikan Elfa. Juan Mahardika hanya mendengarkan dan berjalan perlahan di belakang dua perawat itu. Tidak satupun dari pembicaraan yang didengar membicarakan hal yang negatif.
Sampai dua perawat masuk ruang rawat inap, Juan Mahardika menghentikan langkahnya. Melihat-lihat sekitar rumah sakit dengan membaca petunjuk arah yang banyak terpasang di pinggir jalan koridor rumah sakit. Ada arah kantin yang jaraknya tidak jauh dari tempat berdiri.
__ADS_1
"Ke kantin sajalah, sambil merencanakan langkah selanjutnya," monolog Juan Mahardika dengan lirih sambil berjalan menuju kantin.
Baru masuk pintu kantin Juan Mahardika kembali mendengar banyak orang yang membicarakan aksi Elfa. Sekarang ini sedang trending topik di media sosial. Hampir semua orang membicarakan kebaikan Elfa.
Yang paling aneh lagi pusaka kebesaran sering sekali menggeliat dan terbangun sempurna saat membayangkan gadis itu. Padahal pikirannya mencoba membenci dan selalu ingin membalas dendam. Pikirannya ingin menyakiti gadis yang selalu membuat hatinya tersiksa.
Juan Mahardika memesan nasi dengan lauk soto betawi, es teh dan dan air mineral. Saat sedang memesan penjual soto itu sedang berbincang dengan temannya yang sedang menggoreng ikan. Mereka mengatakan jika Elfa dan keluarga besar naik pesawat pribadi satu jam lagi.
Sambil menikmati gurihnya soto daging yang berkuah santan berwarna putih. Juan Mahardika mengirim pesan WA kepada Asisten Dwi Saputra. Menanyakan tentang posisinya saat ini.
Sampai menu soto betawi ludes tidak tersisa. Asisten Dwi Saputra tidak membaca atau menjawab pesan yang dikirim. Dengan terpaksa Juan Mahardika menghubungi langsung menggunakan ponsel.
"Kamu di mana?" tanya Juan Mahardika saat terhubung ponsel dengan sang asisten.
" ...."
"Baik, kamu ke rumah sakit saja, sekarang aku berada di kantin rumah sakit!"
"...."
Hanya dalam setengah jam, Asisten Dwi Saputra menyusul Juan Mahardika di kantin. Ternyata sesaat setelah Juan Mahardika meninggalkan tempat kejadian. Jalur jalan raya dibuka walau hanya satu arah. Di gunakan bergantian dari arah yang berlawan, sehingga sedikit demi sedikit kemacetan dapat terurai.
"Tuan, Anda sudah selesai makan?"
"Iya sudah, kamu kalau lapar silakan pesan?"
"Baik, dari tadi siang saya belum sempat makan, saya mau pesan dulu."
Sambil menikmati nasi campur, Asisten Dwi Saputra kembali memberikan kabar jika Elfa bersama keluarga saat ini sedang menuju Australia. Elfa akan wisuda di universitas yang ada di Autralia. Kabar itu didapat setelah Asisten Surya mengajak bertemu minggu depan.
"Kamu persiapkan pesawat dan keperluan aku , aku mau ke Australia sekarang juga!"
Asisten Dwi Saputra kaget mendengar perintah Juan Mahardika. Hanya bisa menebak mungkin ingin menyusul dan masih ingin membalas dendam kepada Elfe. Masih tidak habis pikir, tidak ada perubahan sedikitpun padahal sudah menyaksikan sendiri kebaikan Elfa.
__ADS_1
Ingin meminta merenungkan kembali tindakan yang diambil. Namun, apa daya Juan Mahardika masih ingin balas dendam. Padahal sangat jelas antara benar dan salah yang dilakukan Elfa dan Juan Mahardika seperti bertolak belakang.
"Apakah Anda akan membalas dendam dengan cara menghadiri wisuda itu, Tuan?"