
Dengan emosi yang ditahan, Juan Mahardika kembali ke kantor yang ada di Australia. Tidak di temukannya gadis yang dicari di kampus itu, membuat Juan Mahardika semakin putus asa dan frustasi. Seluruh barang yang ada di meja kerja sekarang sudah berpindah di lantai.
Dari laptop, ponsel, berkas dan dokumen tidak luput dari amarah Juan Mahardika yang benar-benar frustasi sampai titik terendah. Asisten Dwi Saputra juga terkena imbasnya, ada map melayang terkena dada saat mencoba untuk meredamkan emosi tuannya.
"Tuan, please dengarkan saya!" teriak Asisten Dwi Saputra.
"Apa pagi yang tersisa, Dwi. Tidak ada lagi harapan menyembuhkan pusaka ini!" teriaknya sambil melempar apa yang ada di depannya.
"Masih ada harapan, Tuan. Saya akan mengulangi sekali penyelidikan tentang mahasiswa universitas itu."
"Apakah masih ada kemungkinan bisa ditemukan?"
"Tentu saja masih ada, Anda juga belum bercerita saat berkeliling di kampus itu."
Juan Mahardika langsung duduk di kursi dengan lemas. Otak dan pikiran seolah buntu tidak bisa diajak berpikir jernih. Seketika itu juga teringat dengan perasaan aneh saat berada di salah satu fakultas jurusan psikologi.
"Tunggu dulu, Dwi!"
"Ya saya tunggu, Tuan. Silahkan Anda mengambil napas panjang agar tenang!"
Juan Mahardika berkali-kali mengambil napas panjang. Berkali-kali juga dihembuskan dengan perlahan. Mencoba setenang mungkin dan tidak putus asa.
"Aku sudah ingat sekarang, Dwi."
"Ya silakan Anda cerita, Tuan!"
"Aku merasakan sesuatu yang aneh saat masuk di salah satu fakultas jurusan psikologi, ada getaran hati yang tidak pernah aku rasakan seumur hidup."
"Maksud Anda getaran bagaimana, Tuan?"
"Entahlah, seolah aku tidak merasa asing berada di dalam ruangan itu."
__ADS_1
"Baiklah, kita fokus dari fakultas itu saja, Tuan."
"Maksudnya bagaimana?"
Asisten Dwi Saputra membuat rencana akan mencatat semua mahasiswi yang kuliah di jurusan psikologi baik dijenjang S1 dan S2. Akan memisahkan mahasiswa yang berasal dari Indonesia tidak perduli berasal dari daerah mana. Yang terpenting keturunan darah Indonesia baik yang tinggal di Australia ataupun di negara lain.
Asisten Dwi Saputra akan langsung menemui satu persatu dari mereka dengan cara memanfaatkan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Mahardika. Dengan cara mengajak kerja sama orang tua ataupun keluarga dari mahasiswi itu.
Asisten Dwi Saputra juga mengusulkan tidak hanya mahasiswi yang bernama El saja yang akan dicari. Semua mahasiswi yang kuliah dengan jurusan psikologi warga negara Indonesia akan diselidiki tanpa kecuali. Akan membutuhkan banyak dana dan waktu untuk mendukung rencana ini.
"Ok aku setuju rencana kamu, sekarang juga kita kembali ke Jakarta!"
"Baik, tetapi bagaimana dengan tunangan Anda, Tuan."
"Aku tidak perduli dengan dia, tidak mungkin dia akan ikut ke Jakarta. Pasti banyak pekerjaan dia di sini."
Sampai di Jakarta, Asisten Dwi Saputra langsung menjalankan rencana. Yang pertama diselidiki adalah mahasiswi yang kuliah menempuh jenjang S1. Dengan membentuk tim khusus dengan berjumlah tiga orang. Untuk mempermudah dan mempercepat mencari gadis mantan pimpinan pejuang gadis.
Keluarga Zain suami Kak Atha bersama dua putra kembar mereka Zanno dan Zenno ada juga berkumpul. Di tambah dengan keluarga besar Abi Ali yang tinggal di Riyadh. Wajah mereka rata-rata sedang tegang dan bersedih, terutama Papi Alfarizi dan dan Mami Mitha.
"Papi, Mami ada apa ini?" tanya Elfa langsung memeluk kedua orang tuanya bergantian.
"Oma Anna, Nak ...?" Mami Mitha tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Menangis dalam dekapan Papi Aalfarizi.
"Ada apa dengan Oma, Papi?"
"Di dalam Oma Anna sedang sedang kritis, Diperiksa oleh Dokter keluarga."
"Oma bersama siapa sekarang, Papi?"
"Hanya Opa Ali saja yang boleh masuk, kita semua hanya bisa menunggu di sini."
__ADS_1
"Abang Al, Teh Rani!" Elfa langsung berlari memeluk pasangan suami istri dengan bergantian.
Suasana semakin tegang setelah Elfa terus terisak sambil menyapa satu persatu keluarga. Mereka semua langsung terbawa suasana ikut meneteskan air mata. Mata hanya tertuju pada pintu yang sudah setengah jam yang lalu tertutup.
Waktu seolah enggan beranjak pergi, pintu kamar Umi Anna tak kunjung dibuka. Rasa cemas, khawatir dan takut kehilangan yang berkecamuk di hati saat ini. Tidak ada suara kecuali isak tangis yang bersahutan.
Umi Anna adalah sosok seorang ibu dan oma yang sangat menyayangi keluarga. Umur yang sudah sangat tua membuat beliau semakin lemah. Apalagi disertai penyakit darah tinggi yang diidapnya sejak lama.
Sudah satu minggu Umi Anna terbaring lemah di tempat tidur. Berawal saat Umi Anna mengalami panas dan demam. Tidak mau diajak berobat ke rumah sakit. Memilih memanggil dokter keluarga untuk datang memeriksa.
Umi Anna susah makan dan enggan minum obat. Ada saja alasan jika diajak untuk makan dan minum obat. Hanya Mami Mitha saja yang bisa merayu dan mengajak ibu mertua makan dan minum obat.
Sudah satu minggu juga Mami Mitha merawat Umi Anna. Sedangkan keluarga yang lain termasuk Papi Alfarizi baru tiba di Riyadh kemarin. Hanya Elfa yang datang paling terakhir diantara semua keluarga.
Sebelum mengalami sakit, sebenarnya Umi Anna masih melakukan aktifitas seperti biasa. Masih sering melakukan banyak kegiatan rutin tanpa dibantu oleh siapapun. Hanya sayangnya dalam dua minggu ini kesehatan Umi Anna terus menurun.
Hanya Abi Ali yang masih terlihat sehat walau berjalan sudah tidak tegak lagi. Hanya pendengaran saja yang bermasalah dengan ayah kandung Papi Alfarizi. Harus menggunakan alat bantu dengar jika ingin berkomunikasi.
Setelah satu jam berlalu pintu terbuka perlahan. Abi Ali berjalan keluar dibimbing oleh dokter dengan jalan tertatih. Air matanya menetes membasahi pipi.
"Abi!" teriak Alfarizi.
"Kalian masuklah, tetapi bergantian!" perintah Abi Ali.
Yang pertama masuk adalah Papi Alfarizi dan Mami Mitha dan Elfa. Hanya dalam lima menit gantian Auntie Isya dan keluarga. Diteruskan dengan keluarga Alfian dan terakhir keluarga Abi Ali.
Setelah bertemu dengan seluruh keluarga, Umi Anna izin untuk beritirahat. Meminta Abi Ali dan Elfa yang menemani. Abi Ali ada disisi sebelah kanan dan Elfa berada di sebelah kiri Umi Anna.
Hanya dalam sepuluh menit Umi Anna terlihat terlelap dalam pelukan Elfa dengan bibir yang tersenyum. Sedangkan Abi Ali berkali-kali mengusap tangan Umi Anna. Namun sayangnya Umi Anna terdiam saat tangan Abi Ali ingin menggenggam, "Umi, mengapa ...?"
"Oma!" teriak Elfa.
__ADS_1