
Hampir semalaman Juan Mahardika tidak bisa tidur sampai pagi hari. Mengajak Asisten Dwi Saputra berbincang duduk di balkon kamar Juan Mahardika. Berjaga agar kejadian Elfa keluar villa sendirian tidak terjadi lagi seperti kemarin.
Pagi harinya, Asisten Dwi Saputra turun ke lantai satu untuk minum kopi. Perlahan Juan Mahardika masuk kamar tanpa mengetuk pintu. Berharap Elfa masih terlelap dalam mimpi.
Ternyata Elfa sudah duduk sambil bersandar ditempat tidur sambil melamun, "Selamat pagi!" sapa Juan Mahardika.
"Pagi, El mau kembali ke lokasi bencana sekarang," kata Elfa dengan jutek.
"Pagi-pagi jutek banget, Neng. Nanti hilang lo cantiknya," rayu Juan Mahardika.
"Tidak perlu merayu, pokoknya mau ke sana sekarang!"
"Iya, semua yang diinginkan El akan Akak JM laksanakan, tetapi diperiksa dokter, sarapan dan minum obat terlebih dahulu."
Elfa hanya diam tidak menjawab permintaan Juan Mahardika. Kata akak yang sering di sebut membuat gagal fokus. Biasa menyebut dengan sebutan laki-laki brengsek sekarang harus selalu mendengar kata Akak JM.
"El, mengapa melamun?"
"Tidak."
Selesai tim dokter memeriksa dan jarum infus dilepas dari tangan. Elfa mulai bisa bergerak bebas, ke kamar mandi sendiri tanpa harus diantar oleh Juan Mahardika di depan pintu. Ingin melakukan aktivitas sendiri tanpa dibantu lagi.
Namun Juan Mahardika tetap terus mengikuti apa yang dilakukan Elfa. Selalu melarang Elfa melakukan apapun, Membantu, melayani dan terus mengikuti walau tanpa kata.
Setelah sarapan dengan berbagai pilihan tersaji di meja. Juan Mahardika langsung mengambil piring, "Mau sarapan menu yang mana?"
"El ambil sendiri saja."
"Duduk saja di situ, Akak JM yang mengambilkan, tinggal katakan apa yang diinginkan, nasi uduk, sandwich, roti bakar?"
"El mau susu coklat hangat saja," jawab Elfa sambil melirik meja yang ada hanya susu putih, jus mangga dan air mineral.
"Baik, tunggu sebentar!" Juan mahardika langsung mengambil ponsel yang berada di kantong menghubungi koki yang ada di dapur, "Buatkan susu coklat hangat sekarang!"
Tidak kurang dari sepuluh menit susu coklat hangat datang. Di antar langsung oleh sang koki, "Ini susu coklat hangatnya, Tuan. Selamat menikmati!"
"Terima kasih."
Satu gelas coklat hangat diambil oleh Juan Mahardika sebelum Elfa berdiri, "Ayo minumlah, Akak bantu!"
Gelas sudah mendekati bibir tanpa bisa ditolak oleh Elfa. Elfa hanya membuka mulut sambil menikmati segelas susu coklat hangat tanpa harus memegang gelas, "Terima masih."
__ADS_1
Senyum tulus yang ditunjukkan oleh Juan Mahardika membuat Elfa terus bertanya-tanya. Perubahan sikap hampir seratus delapan puluh derajat di tunjukkan dalam tiga hari terakhir. Seolah dunia terbalik dan tidak ada pada tempatnya.
"Makan roti bakar satu potong ya, agar obatnya nanti bekerja dengan baik?"
Elfa lebih banyak diam tanpa menjawab, hanya selalu memperhatikan Juan Mahardika yang sok sibuk menyiapkan semua yang di butuhkan, "Ayo buka mulutnya!" satu potong roti bakar yang di tusuk menggunakan garpu sudah berada di depan bibir Elfa.
"Ayo makan!" Elfa menggelengkan kepala dan menutup rapat mulutnya.
"Kalau tidak mau dibuka, mau Akak kunyahkan Elfa tinggal menelan saja, mau?"
Dengan terpaksa Elfa menyantap satu potong roti yang di sodorkan. Disertai gelak Juan Mahardika dan tatapan mata yang terlihat bahagia. Sampai habis satu lembar roti bakar tanpa sisa.
"Sudah, El kenyang."
"Ini obat dan air mineral, ayo di minum!"
"El minum, tetapi setelah ini harus segera berangkat ya!"
"Tentu, minumlah!"
Saat Elfa minum obat yang disodorkan, Juan Mahardika menghubungi Asisten Dwi Saputra. Asisten pribadi itu tidak jadi memejamkan mata untuk istirahat. Harus mengatur perjalanan menuju tempat bencana.
Setengah jam Elfa menunggu persiapan pesawat dengan duduk diam tanpa kata. Hanya sesekali melirik Juan Mahardika yang menikmati sarapan sandwich dengan toping buah segar.
"Tidak." Elfa melihat baju yang dikenakan. Semua Juan Mahardika yang menyediakan baju yang dipakai selama tiga hari ini. Pakaian bermerk dengan harga selangit berjejer di dalam lemari tinggal pilih jika mau.
"Baik, ayo berangkat. Semua sudah menunggu di sana!" ajak Juan Mahardika mengulurkan tangan.
Elfa hanya menjawab dengan mengangguk, dan bergegas berjalan mendahului Juan Mahardika. Tanpa menyambut uluran tangan yang mengajak bergandengan tangan. Tidak memperdulikan wajah dan ekspresi laki-laki itu yang terlihat aneh.
"Tunggu jangan cepat-cepat jalannya El!"
Elfa melangakah dengan perlahan, lebih memilih tanpa kata hanya sesekali melirik saja. Hati masih merasa aneh dan belum bisa menerima semua perlakuan manis itu. Kaki terus melangkah tanpa tahu arah yang harus dituju.
"Lewat sini!" Tangan Juan Mahardika meraih tangan El untuk digenggam.
"Lepas!"
"Maaf, galak banget sih?"
"Biarin aja."
__ADS_1
Juan Mahadrika berjalan berusaha sejajar dengan Elfa. Menuju belakang bangunan ada area luas yang digunakan sebagai bandara pribadi. Seluruh karyawan dan kru pilot sudah menunggu dengan berjajar sebelah kiri dan kanan pintu pesawat.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona!" Menyapa sambil membungkukkan badan.
"Pagi," jawab Juan Mahardika sambil berjalan beriringan dengan Elfa.
Senyum tidak pernah lepas dari bibir Juan Mahardika. Hanya berjalan beriringan dengan Elfa sudah terlihat seperti pasangan sejati. Menaiki tangga juga tetap beriringan bahkan sesekali Juan Mahardika menjaga Elfa agar tetap beriringan.
Peramugari menyambut dengan menundukkan badan, "Silahkan, Tuan."
"El harus istirahat di kamar, ayo ikut Akak JM lewat sini!"
Elfa melangkah tanpa menjawab perintah Juan Mahardika. Yang terlihat heran Asisten Dwi Saputra yang mendengar ucapan tuannya. Sebutan panggilan yang terdengar mesra dan jarang sekali dilakukan oleh seorang Juan Mahardika.
Pintu langsung dibuka oleh Juan Mahardika sendiri, "Masuklah El!"
Kamar pribadi milik Juan Mahardika sudah kembali berfungsi sebagai kamar. Kemarin seperti kamar rawat inap rumah sakit khusus untuk merawat Elfa. Ditambah satu single bad yang berjajar dengan tempat tidur utama.
"Mengapa ikut masuk?" tanya Elfa.
"Ini kamar Akak, wajar dong ikut masuk?"
"El mau sendiri."
"Anggap saja sendiri, Akak tidak akan mengganggu El."
"Tetapi ...?" Elfa belum sempat melanjutkan, Juan Mahardika langsung memotong ucapan Elfa, "El butuh apa, Akak JM akan menyiapkan dengan cepat?"
"Tidak perlu, El sudah memiliki semua," jawab Elfa dengan jutek.
"El, mulai sekarang semua milik Akak adalah milik El termasuk MAHARDIKA CORP ...!" Elfa menatap tajam ke arah Juan Mahardika sampai tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa maksudnya milik El?" tanya Elfa semakin ketus.
"Karena Elfa adalah gadis yang paling spesial di hati Akak."
"Ha! spesial. Apakah El sedang mimpi?"
Juan Mahardika bergeser mendekati Elfa, "Apa yang kurang dari diri Akak JM untuk El, tajir, tampan, mapan idaman semua wanita?"
"Tidak ada satu kreteria pun dari diri Anda untuk El."
__ADS_1
"Banarkah, katakan apa saja kreteria El, pasti akan Akak penuhi dengan cepat?"
"Anda tidak akan sanggup, lebih baik kembali kepada tunangan Anda saja. Sana keluar dari kamar ini, El mau istrirahat!"