
Juan Mahardika mengurungkan niatnya untuk mendekati bibir Elfa. Seolah kepala bagian belakang ada yang memukul dengan keras. Padahal tidak ada orang, hanya berdua saja di kamar.
Pikiran, Pusaka dan hatinya mulai tidak sejalan lagi kini setelah memandang bibir Elfa yang terlihat menggoda. Seolah ada dua makhluk yang berdiri di sebelah kanan dan kiri yang berbisik di telinga. Yang satu ingin mengajak beraksi dan satu lagi memerintahkan untuk berhenti.
"Aaah bagaimana ini, pusaka ini sangat menginginkan dia?" Juan Mahardika kembali mendekati bibir Elfa.
Kembali menarik badan menjauh dari wajah Elfa, "Eee jangan, tidak seperti ini caranya, ayo cepat keluar!"
Bergegas menjauhi tempat tidur, ingin menjaga nama baik sang kekasih dari fitnah. Juan Mahardika keluar kamar dan menutup pintu perlahan. Badan masih terasa lemah, tetapi perut sudah tidak terasa sakit atau melilit lagi.
Juan Mahardika memilih tidur di mushola dengan alas seadanya. Menggunakan selimut sarung yang biasa digunakan untuk ibadah. Tidak ada yang tahu malam itu karena semua keluarga sudah terlelap tenggelam dalam mimpi indah mereka.
Termenung sambil tidur terlentang mentap langit-langit mushola. Mengingat masa lalu yang kelam dan penuh dengan dosa. Tidak pernah mengenal agama dan hanya pernah belajar saat di bangku sekolah dan kuliah saja.
Mengingat ucapan bijak Pakde Sarto saat belajar tiap selesai ibadah. Terutama tentang cinta kepada yang maha pencipta, kepada sesama dan alam semesta. Yang sangat diingat adalah cinta terhadap lawan jenis atau kekasih.
Pakde Sarto mengatakan cinta sejatinya harus memberi bukan meminta atau mengambil. Jika mencinta sejatinya melindungi bukan menyakiti. Jika cinta masih menuntut dan meminta imbal-balik sejatinya bukan cinta tetapi opsesi.
Menjadi seorang laki-laki yang akan menikah harus bisa menjadi imam dan panutan untuk istri. Tidak hanya menikmati dari indahnya duniawi. Suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban cara memperlakukan pasangan.
"El, kamu memang yang terbaik untuk Akak, jangan tolak cinta Akak, Akak sangat bersyukur sampai ke tahap ini sekarang," monolog Juan Mahardika.
Pikiran terasa tenang setelah merenungkan semua yang terjadi satu minggu terakhir ini. Yang paling di syukuri adalah mengenal agama dengan baik. Mengenal orang-orang baik yang bisa dijadikan panutan hidup.
Memejamkan mata sambil berdoa dalam hati hampir menjelang pagi. Semoga semua harapan dan cinta akan terwujud. Akan bisa bersatu dengan gadis yang sangat dicintai.
Menjelang Pagi, Papi alfarizi dan Mami Mihta tiba di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Ditunggu oleh Asisten Surya dan Asisten Dwi Saputra di ruang tunggu bandara.
__ADS_1
Sebelum terbang dari Riyadh tadi sore, Papi Alfarizi memerintahkan dua asisten menunggu di bandara. Mereka berencana akan berangkat ke Ngawi bersama menggunakan helikopter. Sebelum berangkat akan mengadakan meeting membahas pekerjaan dan persoalan pribadi.
Papi Alfarizi selalu mendapat kabar dari Pakde Sarto tentang Juan Mahardika. Setelah acara panen raya, Papi Alfarizi bercerita tentang latar belakang mantan casanova yang sedang jatuh cinta. Pakde Sarto juga menilai laki-laki yang mencintai Elfa seperti Papi Alfarizi sedang mengejar cinta Mami Mitha.
Sambil menunggu helikopter tiba, Papi Alfarizi mengitrogasi Asisten Dwi Saputra. Bertanya tentang pertemuan awal antara Elfa dan Juan Mahardika. Tentang masa lalu dan keluarga laki-laki yang mengejar cinta putrinya.
Asisten Dwi Saputra bercerita jujur tentang masa lalu, keluarga dan bisnis Juan Mahardika. Namun, Tidak berani menceritakan peristiwa Juan Mahardika saat sedang merenggut kehormatan Elfa. Semua masih menjadi rahasia dan tidak seorang pun yang tahu.
Hampir menjelang subuh helikopter mendarat di hanggar milik keluarga Papi Alfarizi. Yang sudah terbangun baru Pakde Sarto dan Bude Marmi saja. Yang lain masih terlelap dalam mimpi di kamar masing-masing.
"Mas, piye kabare?" tanya Pakde Sarto kepada Papi Alfarizi.
"Alhamdulillah sehat," jawab Papi Alfarizi mengulurkan tangan bersalaman bergantian dengan Asisten Surya dan Asisten Dwi Saputra.
Mami Mitha langsung masuk rumah dan menuju ke kamar putrinya. Badan rasanya remuk-redam karena perjalanan dari Riyadh ke Jakarta. Tanpa mampir ke rumah langsung melanjutkan perjalanan ke Ngawi dengan berganti helikopter.
Bergegas ke luar kamar lagi dengan perasaan yang tidak menentu. Otak Mami Mitha sudah berpikir yang kurang baik. Pasalnya ada Juan Mahardika yang sedang menginap di rumah.
"Papi, Pakde Sarto!" teriak Mami Mintha dengan suara keras dan khawatir.
"Ada apa, Mami?"
"El tidak ada di kamarnya, ke mana dia?"
Pakde Sarto dan Bude Marni tersentak kaget dan saling pandang. Baru teringat Elfa sedang merawat Juan Mahardika yang diare. Bolak-balik ke luar masuk kamar karena Juan Mahardika menolak untuk diajak berobat.
"Tadi malam Mas Londo diare, hanya minum jamu ramuan Bude saja, dia tidak mau diajak berobat," cerita Bude Marmi.
__ADS_1
"Sabar dulu jangan emosi. ayo kita lihat di kamar tamu!"
Tidak hanya dua pasang suami istri yang masuk ke kamar tamu yang di tempati oleh Juan Mahardika. Asisten Surya dan Asisten Dwi Saputra juga ikut masuk. Mereka berpikiran negatif karena mengetahui latar belakang Juan Mahardika.
Papi Alfarizi langsung mendorong pintu dengan keras tanpa mengucapkan salam. Ingin mengetahui secara langsung apa yang dilakukan penghuni di dalamnya. Hanya sayangnya hanya ada Elfa yang tertidur pulas dengan memakai selimut sampai dada.
Pakde Sarto mencari Juan Mahardika ke kamar mandi, tetapi tidak ditemukan. Seluruh ruangan bahkan sampai di bawah tempat tidur juga tidak ditemukan.
"Tidak ada Mas Londo, di mana dia?" tanya Pakde Sarto.
Karena ada suara berisik banyak orang, Elfa terbangun dengan cepat dan langsung duduk, "Pakde apakah Akak JM dibawa ke rumah sakit?"
"El, ini Mami, Nak. Buka matanya dulu!"
"Mami, lho kok El ada di tempat tidur, tadi El duduk di kursi ini?"
"Ingat-ingat dulu, apa yang terjadi tadi, Papi sangat khawatir, Nak!" perintah Papi Alfarizi.
Elfa menceritakan sekilas tentang diare yang dialami oleh Juan Mahardika. Menjaga orang sakit dengan duduk di kursi, tetapi tidak menyangka tertidur karena mengantuk. Bangun tidur sudah berada di tempat tidur dan tidak mengetahui di mana keberadaan Juan Mahardika.
"Apakah Akak JM pergi tanpa pamit?" tanya Elfa.
"Saya rasa tidak mungkin, Nona." Asisten Dwi Saputra menjawab dengan yakin.
"Ayo kita cari di luar saja!" perintah Pakde Sarto.
Keluar dari kamar bertepatan azan subuh berkumandang. Pakde Sarto dan Bude Marmi menyalakan lampu ruang tamu dan ruang keluarga. Mencari Juan Mahardika di sofa ataupun di depan televisi yang ada di ruang keluarga, tetapi tidak di temukan sosok laki-laki itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara teriakan keponakan laki-laki Pakde Sarto yang masuk mushola akan mengumandangkan azan. Ada sosok tubuh yang tertutup sarung tanpa terlihat wajahnya, "Ada maling sembunyi di mushola!"