Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 77. Rencana


__ADS_3

Mami Mitha kaget melihat Elfa berteriak. Langsung ikut melihat ponsel Elfa yang berisi satu foto laki-laki yang memakai setelan jas rapi dan duduk di dalam kantor Alfian Alfarizi.


"Siapa dia, Nak. Wajahnya tidak asing lagi?"


"Dia dokter yang dulu berkelahi jama Akak JM, Mami."


"Apa kata Abang Al?"


"Abang bilang dia melamar menjadi dokter di rumah sakit, bagaimana ini El tidak suka sama dia?"


"Coba El ceritakan tentang dokter itu, Mami ingin mengenal sekilas sifatnya!"


Elfa bercerita tentang Dokter Yohan Charnett dengan sedikit emosi. Laki-laki itu sering memaksakan kehendak saat masih bekerja di rumah sakit di Australia. Dia sering mengatasnamakan pekerjaan agar tidak bisa menolak perintah, padahal hanya alasan biar bisa lebih dekat.


Sifat dan pendiriannya yang keras dan tidak pernah mau menyerah jika mempunyai keinginan. Sudah ditolak beberapa kali, tetapi tidak terima dan tidak mau tahu. Seolah dokter urologi itu teropsesi bukan mencintai.


"Apa perbedaan dari Juan dan Yohan?" tanya Mami Mitha.


"Kalau Akak JM sering minta maaf jika salah dia selalu mengalah dan menurut apa kata El, tetapi kalau Dokter Yohan tidak pernah minta maaf, cenderung ingin menang sendiri, El harus mengikuti semua perintah dokter itu."


"Egois begitu orangnya?"


"Iya, Mi."


"Sudah berapa kali dia menyatakan cinta sama EL?"


"Tiga kali."


"Sebaiknya kita minta Papi yang memutuskan tentang Dokter Yohan Charnett, takutnya diterima sama Abang Al."


"Betul juga, Mi. Hanya Papi yang bisa mencegah pendirian Abang Al."


"Ayo kita cari Papi sekarang!"


Sarapan pagi saja belum saip, saat Mami Mitha dan Elfa bertemu Papi Alfarizi yang sedang duduk di ruang makan bersama Juan Mahardika dan dua asisten serta Pakde Sarto. Mereka sedang menikmati kopi panas sedang membahas rencana pernikahan Elfa.


"Rencana pernikahan seperti apa yang dibahas ini?" tanya Elfa.


"Pesta pernikahan yang meriah di sini seperti pesta rakyat," jawab Pakde Sarto.

__ADS_1


"Tidak, lebih baik batalkan saja nikahnya, El tidak suka." Elfa ingin berbalik badan karena kesal.


"Sayang, mengapa begitu?" tanya Papi Alfarizi.


"Jangan emosi dulu dong, Nak!" nasihat Mami Mitha.


"El maunya apa?" tanya Pakde Sarto.


"What happen, Garwoku?" tanya Juan Mahardika


Hanya Asisten Dwi Saputra dan Asisten Surya yang tidak bertanya. Bude Marmi yang paling panjang mengajukan pertanyaan kepada Elfa. Mulai dari mengapa dibatalkan sampai apa yang diinginkan El.


"El tidak mau pesta yang mewah, El mau pernikahan yang sederhana saja. Daripada buat pesta sini uangnya El bagikan pada yang membutuhkan!"


"Maksud El bagaimana, boleh mengadakan acara pesta pernikahan tetapi yang sederhana?" tanya Papi Alfarizi.


"Yang berniat mengadakan pesta pernikahan Pakde dan Bude, El. Papi hanya ikut saja."


Juan Mahardika berdiri dan mendekati Elfa, "Ayo duduk dulu!"


"El malas kalau Akak aneh-aneh."


"El tidak suka, Akak. Kemarin El sudah bilang jangan paksa El."


"Baik, sini duduk!" Juan Mahardika menarik kursi untuk duduk Elfa.


"Papi kan tahu El suka yang sederhana, mengapa merencanakan pesta rakyat segala?" tanya Elfa dengan cemberut dan suara manja.


"Tidak jadi pesta rakyatnya. Papi setuju pernikahan sederhana seperti kemauan El saja deh, yang penting jangan dibatalkan."


Direncanakan pernikahan sederhana seperti yang diinginkan El. Yang awalnya akan diadakan pesta rakyat dengan mengundang ribuan tamu. Sekarang hanya akan merencanakan akad nikah dan pesta sederhana seperti masyarakat pada umumnya.


Karena emosi, Elfa lupa tujuan awal ingin memberitahukan tentang Dokter Yohan Charnett. Mami Mitha juga ikut lupa karena besar sekali rencana pesta pernikahan yang dibahas. Mami Mitha juga tidak setuju dengan rencana itu.


"El sampai lupa, Papi lihat ini. Akak juga silahkan liha!" Elfa menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


"Di mana ini, El?" tanya Juan Mahardika.


"Itu dokter yang suka sama El?" tanya Papi Alfarizi bersamaan dengan pertanyaan Juan Mahardika.

__ADS_1


"Dia ada di Bogor sekarang, sedang melamar pekerjaan di rumah sakit Aljuzeka."


Juan Mahardika memerah wajahnya menahan amarah. Ada rasa cemburu yang sangat besar di hati. Melirik Asisten Dwi Saputra hanya memberikan kode untuk menangani laki-laki saingan beratnya.


"Jangan di terima dia, Pi. Kemungkinan hanya alasan untuk mendekati El saja!" perintah Mami Mitha.


Papi Alfarizi melihat foto itu dengan lekat tanpa berkedip. Pernah membaca sekilas biodata tentang dokter itu dari dokumen yang ditunjukkan oleh Alfian Alfarizi. Laki-laki itu ternyata belum menyerah juga mengejar cinta Elfa.


"Bagaimana menurut El?" tanya Papi Alfarizi.


"Jangan diterima dia, Pi. El tidak mau bermasalah dengan dokter itu!"


"Apakah El sudah menghubungi Abang Al?"


"Belum, Hanya Papi yang bisa melarang Abang."


"Tunggu Papi hubungi Abang Al sekarang!"


Papi Alfarizi langsung mengbungi Alfian yang ada di Bogor. Pertama menanyakan keluarga dan bisnis selama di tinggal. Kemudian menanyakan tentang Dokter Yohan Charnett yang melamar menjadi dokter ahli di rumah sakit Aljuzeka.


Dari cerita Alfian Alfarizi, Dokter Yohan Charnett selain melamar menjadi dokter ahli. Dia juga bertanya tentang Elfa secara pribadi. Laki-laki itu sudah hampir satu bulan tinggal di Indonesia.


Alfian Alfarizi juga bercerita dokter itu pernah berkunjung ke Bekasi. Mencari informasi tentang Elfa kepada cecurity. Berlibur ke villa juga untuk sekedar mencari informasi tentang keluarga Zulkarnain.


Kalau tentang Dokter Yohan Charnett yang melamar pekerjaan, Alfian Alfarizi belum memberikan jawaban yang pasti. Disamping rumah sakit belum memerlukan tambahan dokter. Putra tertua Papi Alfarizi itu masih menyelidiki tujuan dokter urologi datang ke Indonesia.


Papi memerintahkan untuk tidak menerima dokter itu bekerja di rumah sakit Aljuzeka. Sudah bisa membaca tujuan awal sebenarnya masih ingin mendekati Elfa. Masih belum menyerah walaupun sudah berkali-laki ditolak.


Selesai Alfian Alfarizi bercerita, Papi Alfarizi bergantian bercerita tentang Elfa. Alfian tidak mengetahui jika Juan Mahardika berada di Ngawi saat ini. Dengan sengaja Papi Alfarizi dan Mami MItha tidak bercerita untuk sementara.


Karena sangat sibuk, Alfian Alfarizi tidak sempat mencari informasi tentang panen raya kemarin. Asisten Julio mengetahui, tetapi dilarang oleh Papi Alfarizi untuk bercerita. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk bercerita.


Berbincang melalui sambungan ponsel dan di loud speaker, Papi Alfarizi bercerita tentang hal yang terjadi di Ngawi. Bercerita tentang perubahan dan cinta yang ditunjukkan Juan Mahardika. Sampai merencanakan dalam minggu ini akan mengadakan pernikahan di Ngawi.


"Mengapa cepat sekali, Pi. Abang belum percaya dengan laki-laki itu?"


"Papi dan Mami sudah menyaksikan sendiri, Bang. Ditambah Pakde Sarto juga sudah setuju El menikah dengan Juan."


"Abang ke sana sekarang, kirim helikopter ke Bogor, Abang harus menguji sendiri laki-laki itu layak untuk El atau tidak!"

__ADS_1


" ...?"


__ADS_2