
Dengan susah payah Elfa bisa merayu sang suami untuk menunda beraksi. Jika pesona pusaka bumerang sudah beraksi seolah Elfa tidak bisa menahan diri. Namun tetap harus melihat situasi dan tempat harus dan bisa ditahan sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Maaf ya, Akak. Bukan El menolak, tetapi El hanya menunda sejenak. Akak mengerti, 'kan?"
"Iya, Akak mengerti. Nanti saja di hotel di rapel."
"Jangan buat El gempor ya, El mau rileks sebelum diperiksa tim dokter."
Tiba-tiba Juan Mahardika mempunyai ide untuk bisa mengganti beraksi dengan pemeriksaan yang ingin sekali diketahui. Rasa penasaran itu sama besarnya dengan rasa ingin beraksi saat ini, "Bagaiman kalau El diperiksa di sini?"
"Mengapa harus di sini?"
"Momen yang penting akan menjadi kenangan indah jika dilakukan ditempat yang istimewa."
Elfa mengangguk sambil tersenyum, mungkin hanya itu yang bisa mengalihkan pusaka bumerang sang suami. Memberikan kabar baik yang dari kemarin ingin diketahui. Pasti akan sangat bahagia jika hasilnya akan sesuai harapan.
"Apakah tim dokter selalu membawa perlengkapan mereka setiap perjalanan, Akak?"
"Pasti dong itu, Sayang."
"Baiklah, El mau diperiksa di sini."
"Alhamdulillah terima kasih, El di sini dulu Akak panggil tim dokter."
Mencium dahi istri tercinta sebelum ke luar dari tenda. Kebahagiaan tersendiri bagi Juan Mahardika di moment ini. Pasalnya menunggu beberapa hari saja seolah sangatlah lama dan membuat gelisah.
Dalam waktu sepuluh menit saja, Tim Dokter sudah siap dan datang di tenda yang di tempati Elfa. Walau tadi pagi sudah memeriksa kesehatan secara umum. Dokter memeriksa ulang sebelum pemeriksaan tentang kandungan.
Tensi darah, detak jantung, denyut nadi diperiksa dengan teliti. Doter dan bidan bekerja sama memeriksa dengan teliti setelah dua suster selesai mencatat pemeriksaan awal. Juan Mahardika hanya mengawasi sambil duduk di samping Elfa memberikan dukungan.
"Ini gelas ukur kecil untuk menampung urine, Nyonya. Silahkan!" Bidan memberikan gelas ukur yang masih dalam bungkus steril.
__ADS_1
"El ke toilet dulu berarti?"
"Benar, silakan toilet di sebelah sana!"
"Ayo Akak temani, sini Akak yang bawa gelas ukurnya!"
"Ayo!"
Dalam perjalanan ke kamar mandi, Juan Mahardika selalu tersenyum sambil menggenggam tangan Elfa. Ada rona bahagia di wajah yang mendambakan keinginan hati yang sebentar lagi diketahui. Berharap banyak semua harapan dan doa yang selalu dipanjatkan akan terijabah dan dikabulkan Ilahi Robbi.
"Akak di luar saja ya?"
"Baik, Akak tunggu di sini, ini gelas ukurnya!"
Hanya dalam waktu kurang sari sepuluh menit, Elfa dan Juan Mahardika sudah duduk di dalam tenda lagi. Menunggu bidan yang mencelupkan test pack ke dalam gelas ukur kecil. Tidak hanya satu test pack yang di masukkan ke gelas ukur kecil, ada empat test pack dengan merk yang berbeda.
Yang paling tegang menunggu hasil yang kurang dari lima menit adalah Juan Mahardika. Sambil menggenggam tangan Elfa, mata Juan Mahadika terus melihat test pack yang masih di gelas ukur. Sesekali melihat wajah El yang ikut tegang menunggu dengan tidak sabar.
Dokter Emy Hartanti yang pertama mengambil satu test pack dan diperiksa. Kembali mengambil satu persatu sampai empat test pack berada di tangan. Bibirnya menyunggingkan senyuman setelah semua dilihat.
"Alhamdulillah ya Allah," Juan Mahardika melihat empat test pack itu dengan berkaca-kaca.
"Selamat, Tuan. Sebentar lagi Anda akan menjadi New Daddy," kata Dokter Emy dan diikuti oleh seluruh tim.
"Terima kasih, Dok dan semua tim."
Tim Dokter berpamitan ke luar tenda. Elfa juga melihat empat test pack seolah hampir tidak percaya. Pasalnya belum ada satu minggu terlambat datang bulan.
"Sayang." Juan Mahardika langsung mencium perut Elfa dengan lembut.
"Akak, coba lihat ke El sini!"
__ADS_1
Spontan Juan Mahardika mendongak melihat wajah Elfa. Ada butiran air mata di pinggir mata indahnya, "Akak menangis?"
Baru kali ini melihat Juan Mahardika menangis. Tidak menyangka suami tangguh, sabar dan pantang menyerah itu kini meneteskan air mata. Antara bahagia dan terharu hampir tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Akak bahagia, Sayang. Terima kasih sudah memberikan hal yang sangat menakjubkan dalam hidup Akak."
Dengan tersenyum sambil mengangguk, Elfa langsung mengambil ponsel milik suami tercinta, "Ini juga moment yang tidak kalah membahagiakan," Elfa mengambil foto berkali-lai saat Juan Mahardika meneteskan air mata di pangkuan.
"Malu dong El, Akak menangis bahagia ini, mengapa di foto sih?" tanya Juan Mahardika sambil mengusap air matanya.
"Ini moment terpenting dalam hidup kita, Akak."
"Benar sekali, Garis dua di Titik Nol IKN."
Kembali Juan Mahardika memeluk pinggang Elfa. Mencium perutnya berkali-kali walau masih tertutup sempurna. Elfa masih duduk dengan meluruskan kaki, Kepala sang suami berada di pangkuan menghadap ke dalam calon janin yang sedang berkembang di rahim.
Diabadikan menggunakan ponsel dan langsung dikirim kepada orang tua yang ada di Australia. Dikirim juga kepada Mami Mitha dan Papi Alfarizi yang ada di Bekasi. Ditambah dikirim kepada abang tercinta yang ada di Bogor, serta ke sang asisten yang sedang bulan madu di Bali.
Hanya dalam sekejam ucapan selamat mengalir melalui pesan WA, vedio call bergantian, tanpa terasa waktu sudah lebih dari istirahat siang. Mendapat pesan dari Mami MItha untuk mengucap syukur dengan menjalankan ibadah pada siang hari. Elfa langsung menunaikan ibadah berjamaah berdua di tenda.
Menengadahkan tangan menghadap kiblat. Mengucap syukur dengan linangan air mata. Nikmat yang mana lagi bisa didustakan jika selalu dalam jalan yang lurus, nikmat itu tidak pernah putus.
Setelah melaksanan ibadah, manager memberikan kejutan lagi. Ada karyawan yang tinggal di Balikpapan menyusul ke Titik Nol IKN. Membawakan menu makan siang khas paket ngeliwetan kata orang Jawa. Dengan daun pisang yang ditata memanjang dan nasi dengan lauk urap, tahu tempe bacem, empal daging dan ayam goreng.
Sekalian merayakan pemilik perusahaan yang akan memiliki momongan. Makan bersama bersama karyawan yang hadir, kru pesawat dan tim dokter. Sangat terasa kekeluargaan dan kebersamaan itu.
Elfa yang sangat bahagia bisa makan di bundaran Titik Nol IKN. Baginya moment yang tidak mungkin bisa dilupakan seumur hidup bisa mengunjungi kota Author Muda Anna. Kota yang terkenal bersih dan teraman di Indonesia.
"Sayang ini namanya makan apa seperti ini?" bisik Juan Mahardika berbisik di telinga Elfa.
"Ini yang namanya ngeliwetan, Akak."
__ADS_1
Juan Mahardika hanya melihat heran ada nasi yang disusun di atas daun pisang yang memanjang, ditambah lauk yang beragam, "Yang itu apakah salad sayuran, kok ada serundeng seperti tadi pagi di nasi kuning, apa itu namanya?"
"Salad sayuran dulu di Ngawi itu pecel, Akak. Yang itu urap namanya dengan sambal kelapa beda dengan serundeng."