
Kris bercerita Mama Cristine dan Henry Alexander meminta Kris tinggal bersama di rumah mereka. Memiliki rumah yang cukup luas dari warisan orang tua Mama Cristine. Terutama Henry akan rela membantu Kris sampai melahirkan.
Kris menolak tawaran untuk tingga satu rumah. Kris berniat ikut ke Eropa, tetapi ingin mencari penghasilan sendiri. Ingin melamar menjadi karyawan supermarket milik Henry Alexander walau hamil tua. Tidak ingin menjadi beban dalam keluarga, apalagi keluarga yang baru dikenal.
Sayangnya Henry Alexander menolak untuk memberikan pekerjaan. Tidak mungkin tega melihat ibu hamil tua harus bekerja keras dan berjuang sendiri. Terlebih lagi wanita yang sangat spesial dan selalu dikagumi dari dulu.
"Kris sudah bertekat akan ikut ke Eropa, tetapi Kris tidak mau tinggal di rumah Henry."
"Kemarin El juga sudah bilang sama Akak JM agar Kris tinggal di apartemen keluarga Mahardika yang ada di sana."
"Naah itu Kris mau."
"Jadi apa rencana Kris setelah tinggal di apartemen El?" tanya Rena.
"Kris minta pekerjaan di perusahaan Mahardika untuk biaya hidup dan sewa apartemen."
Elfa langsung berdiri dari gazebo dan bertolak pinggang, "Gile lo, Memang El tidak punya hati mempekerjakan ibu hamil!"
"Kris sudah banyak menyusahkan El. Kris tidak mau merepotkan lagi."
"Bodo amat, El marah." Elfa langsung berjalan meninggalkan gazebo dengan kesal.
"El tunggu Kris belum selesai bicara!" teriaknya.
"Tidak, kalau Kris berniat seperti itu lebih baik Kris tinggal di sini selamanya menjadi tawanan El!" teriak Elfa dengan menahan emosi.
Elfa terus berjalan masuk rumah tidak memperdulikan Kris yang terus memanggil dengan suara keras. Emosi yang ada di hati tidak ingin dilampiaskan pada ibu yang hamil besar itu. Hanya akan menunjukkan kemarahan saja agar Kris bisa mengubah pendriannya untuk bekerja.
Tidak akan mungkin tega melihat sahabatnya bekerja dalam keadaan hamil. Bisa merasakan sendiri, tidak bekerja saja rasanya sangat lelah. Apalagi bekerja keras terikat waktu pagi samapi sore.
"Rey, katakan sama dia siapa yang baru saja datang!" perintah Elfa sambil berteriak.
"Ok siap."
Rena hanya menahan senyum melihat Elfa marah dan berlalu masuk rumah. Sangat memahami tujuan Elfa marah hanya demi kebaikan Kris dan putra yang masih ada dalam kandungan. Tidak akan tega jika sahabat yang rela berkorban itu berjuang sendiri.
"Kris ...!" panggil Rena melihat Kris turun dari gazebo akan menyusul Elfa.
"Ada apa, Rey?"
"Tidak perlu mengejar El, Rey juga setuju dengan El."
Kris duduk kembali di gazebo sambil mengambil napas panjang. Tujuannya tidak ingin merepotkan lagi. Ingin mandiri dan menghidupi bayi dalam kandungan dengan jerih payah sendiri.
"Kris hanya ingin mandiri, Rey."
__ADS_1
"Gelo siak! tetapi lihat situasi juga dong."
Kris hanya tersenyum kecut mendengar Rena mulai emosi seperti Elfa. Tekatnya ingin ke Eropa adalah mandiri dan ingin menutup masa lalu yang kelam. Sudah bertekat tidak akan melanjutkan hubungan dengan ayah kandung bayi yang masih dalam kandungan.
"Jadi bagaimana dong Rey?"
"Kalau Kris ingin mandiri tidak harus sekarang, setidaknya setelah melahirkan mungkin El akan setuju."
Kris tersenyum mendengar pendapat Rena, "Jadi Kris akan bisa mandiri setelah melahirkan?"
"Iya, putra Kris bisa diasuh oleh Ibu saat nanti Kris bekerja."
Kris kembali bersedih setelah Rena menyebut ibu. Sekarang ini tidak mungkin bisa bertemu dengan ibu dan dua adik yang sangat dirindukan. Apalagi meminta ibu merawat bayi yang akan dillahirkan sepertinya hanya mimpi itu bisa terwujud.
"Itu seperti mimpi, Rey. Kapan Kris bisa bertemu Ibu, Trias dan Rama?" Tiba-tiba Air mata mengalir tanpa terasa.
Rena turun dari gazebo mendekati Kris. Mengusap pipi yang mulai basah dengan air mata, "Mengapa sekarang jadi sensi dan mudah mewek?"
"Maaf."
"Di mana Kris yang dulu pantang menyerah?"
"Entahlah."
"Ayo ikut Rey!"
"Silakan menikmati mimpi yang menjadi kenyataan, Rey pamit dulu!"
Kris langsung melihat ada keluarga yang sangat di rindukan ada di depan mata, "Ibu ...!" teriaknya.
Mereka berpelukan sambil banjir air mata. Tidak ada kata yang terucap yang bisa menggambarkan rasa bahagia di dada. Hanya bisa diungkapkan dengan pelukan erat dan linangan air mata.
Rena ke luar kamar dan membiarkan satu keluarga melepas rindu. Bercerita dari hati ke hati dan mencurahkan kasih keluaga. Membicarakan rencana demi masa depan mereka nanti.
Selama satu jam Kris dan keluarga bercengkerama di kamar. Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum berangkat ke Eropa. Henry Alexander masih menunggu jawaban Kris.
Elfa tersenyum saat Rena bercerita Kris berubah pikiran dan akan bekerja setelah melahirkan. Semakin bahagia saat Kris bertemu keluarga. Akan lebih bahagia lagi saat mengetahui kabar dari Indonesia.
Elfa baru saja mendapat kabar dari suami tercinta. Pengacara yang menangani perceraian itu berhasil melakukan tugas dengan baik. Dengan alasan suami memakai barang haram dan sering mengonsumsi Alkohol, gugatan itu dikabulkan pengadilan.
Pengadilkan mengabulkan gugatan cerai karena pengacara memberikan bukti luka punggung yang diambil oleh tim dokter. Dengan alasan keselamatan jabang bayi yang masih ada di kandungan. Semua diputuskan dengan cepat dan sah di mata hukum.
"Ya Allah terima kasih, semoga Kris bisa membuka lembaran baru setelah ini," doa Rena setelah mendengar cerita Elfa dan mendapatkan salinan laporan yang dikirim melalui pesan WA.
"Aamiin."
__ADS_1
Kris datang memui dua sahabat yang baru saja mendapat kabar baik dari Indonesia, "El ...!"
Elfa masih pura-pura merajuk, "Ada apa?" tanya Elfa dengan jutek.
"Jangan marah, Kris minta maaf."
"Dimaafkan asal Kris mengikuti semua rencana El."
"Iya, Kris janji apapun menurut El baik, Kris akan ikut."
"Bagus, itu namanya baru sahabat El."
Elfa masih ingin menguji kesungguhan hati Kris yang memilih ingin berjuang di Eropa. Tentang ayah dari bayinya atau tentang status dia saat ini. Karena sampai saat ini Kris masih menduga suami rahasianya itu sudah berada di Australia.
"Tunggu dulu, Kris. El harus bertanya terlebih dahulu sebelum mengizinkan Kris pindah ke Eropa!"
"El ingin bertanya apa?"
"Kris yakin berniat bercerai dengan Mr. Yo?"
"Sangat yakin."
"Bayi Kris sudah tidak berdemo lagi?"
"Tidak, dia bisa mengerti setelah Kris ceritakan akibat jika masih bertahan."
"Tidak akan menyesal melahirkan tanpa ada nama ayah untuk bayinya?"
"Kris sudah mantap seratus persen."
Rena mengacungkan dua jempol sambil tersenyum. Elfa sangat pandai memberikan pertanyaan yang sebenarnya sudah terjadi. Semoga keputusan ketok palu perceraian itu adalah titik awal Kris meraih masa depan gemilang.
"Alhamdulillah, boleh Rey berikan salinan itu pada Kris, El?"
"Ya, kirim saja!"
"Salinan Apa, Rey?"
Rena mengirim salinan laporan ke ponsel Kris, "Silakan Kris baca sendiri!"
Kris membaca pesan itu dengan tangan bergetar, air mata berlinang deras tanpa henti, "Apakah ini benar, El?"
BERSAMBUNG
Yok mampir di novel teman author yg rekomen banget ini
__ADS_1