
Elfa digendong bridal sampai mendekati tempat tidur. Langsung dibaringkan di tempat tidur, tetapi tautan bibir tetap tidak terlepas. Elfa mendorong tubuh Juan Mahardika setelah hampir kehabisan oksegen.
"Akak ...!" Elfa langsung menarik napas panjang.
"Maaf, apakah Akak menyakiti El?" tanya Juan Mahardika sambil mengusap bibir Elfa yang basah.
"El hampir kehabisan napas, apa memang begitu orang berciuman?"
"Ya Allah, lugu banget sih istri Akak yang cantik ini. Seharusnya El berusaha bernapas saat kita bergantian menimkati itu!" Juan Mahardika menunjuk bibir mungil Elfa.
"El tidak tahu caranya."
"Mau Akak ajari lagi?" Dengan memajukan dan memonyongkan bibir, Juan Mahardika ingin mengulangi lagi dengan beralasan mengajari.
"Ogah, El mau ke kamar mandi, minggir!" Elfa bergeser dan turun di tempat tidur.
Dengan tersenyum devil, Juan Mahardika mengusap bibir yang basah. Hati rasanya berbunga-bunga karena ada kemajuan yang sangat terlihat pada Elfa. Sekarang Elfa tidak terlihat canggung dan tidak takut lagi walau masih ada sedikit terasa dingin di badan.
"Akak tahu dari kemarin El sudah tidak menstruasi lagi, tetapi hari ini cukuplah. Walau pusaka Akak terus-menerus berontak, Akak akan terus mencoba bersabar," monolog Juan Mahardika sambil menunggu pintu kamar mandi terbuka.
Juan Mahardika rebahan di tempat tidur sambil tersenyum sambil membayangkan yang baru saja terjadi. Dulu saat melakukan ciuman seolah biasa saja. Namun, sekarang ini melakukan dengan istri seolah sangat indah dan merasuk dalam jiwa ketika ada cinta di dada.
Mata Juan Mahardika terpejam sambil membayangkan indahnya menikmati bibir Elfa. Padahal belum melakukan hal yang diinginkan selama ini, hati sudah berbunga-bunga. Karena beberapa hari ini jarang bisa tidur nyenyak tanpa terasa terlelap sambil tersenyum.
Elfa ke luar dari kamar mandi melihat Juan Mahardika tersenyum sambil tidur terlelap. Jadi teringat dulu sesaat sebelum meninggalkan villa melakukan sesuatu pada laki-laki yang menjadi suami kini. Elfa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala dan keluar kamar.
Duduk di samping Abi Ali yang sedang menikmati secangkir kopi pahit. Berbincang berdua tentang banyak hal. Terutama tentang nasihat untuk bekal Elfa berumah tangga.
Pernikahan Elfa belum sersebar luas di media. Hanya diketahui oleh keluarga besar Zulkarnain saja. Mami MItha menghubungi Elfa saat sedang asyik berbincang dengan Abi Ali.
Mami Mitha akan mengadakan resepsi pernikahan dua hari setelah acara yang diadakan di Australia. Untuk kali ini Elfa hanya boleh menentukan teman yang akan diundang saja. Selebihnya hanya Mami Mitha dan keluarga yang akan mengatur semua acara.
Dengan alasan untuk menjaga nama baik pengusaha terkenal Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Elfa dengan terpaksa menuruti semua rencana yang sudah disusun dengan rapi. Dua hari lagi Papi Alfarizi, Mami Mitha dan keluarga Alfian Alfarizi akan mengadakan konferensi pers tentang pernikahan putri bungsu keluarga Zulkarnain.
Sebelum semua tersebar ke media, Elfa menghubungi dua sahabat pendiri pejuang gadis. Elfa bercerita tentang kisah Juan Mahardika yang mengejar cinta sampai ke Ngawi. Kisah tentang restu dan perintah orang tua, hanya satu yang tidak diceritakan yaitu peristiwa masa lalu.
__ADS_1
Dengan vedio call bertiga, dua sahabat itu campur aduk antara marah dan bahagia. Mereka marah karena tidak dikabari saat akad nikah. Mengucapkan selamat semoga samawa saat mereka mengetahui jika saat ini dalam perjalanan menuju Riyadh.
"El mau bulan madu?" tanya Rena.
"Tidak, El akan berkunjung ke makam Almarhumah Oma Anna, El akan meminta doa restu."
"Sekalian bulan madu saja, El!" teriak Krisnawati.
"Emang ada bulan madu di pemakaman?"
Sontak kedua sahabat itu tertawa terbahak-bahak. Mengingat Elfa gadis kaya tetapi sederhana, membuat dua sahabat membayangkan hal yang aneh. Selama ini belum ada cerita pasangan pengantin berbulan madu di pemakaman.
"Apakah El berencana bulan madu ke Eropa atau keliling dunia?" tanya Rena lagi.
"El juga belum tahu."
"Atau ke Australia mungkin?" Gantian Krisnawati bertanya.
"El pulang kampung dong, Pak Su dari Australia."
Kembali dua sahabat tertawa terbahak-bahak. Suara mereka sampai terdengar menggema di kabin pesawat. Untung Abi Ali sudah masuk kamar untuk beristirahat.
Mereka asyik berbincang bertiga sambil bercanda dengan riang. Juan Mahardika ke luar kamar dan mendengarkan pembicaraan mereka. Elfa tidak menyadari sama sekali dan masih terus berbincang tanpa beban.
Saat Elfa menyebut Pak Su ketika bercerita, Juan Mahardika tidak memahami kata-kata itu. Ada banyak bahasa gaul yang tidak terlalu dipahami karena sejak kecil tinggal di Australia, setelah dewasa lebih memilih tinggal di Indonesia.
Juan Mahardika langsung duduk di samping Elfa sambil tersenyum. Elfa tersentak kaget hampir saja ponsel terjatuh, "Ee Akak, bikin kaget saja!"
"Siapa El, Pak Su ya?" tanya Krisnawati.
"Mana wajahnya tidak kelihatan?" tanya Rena hampir bersamaan dengan pertanyaan Krisnawati.
"Iya, Pak Su. Sudah dulu ya, lain kali sambung lagi. Nanti saya kalau mau berkenalan dan melihat dia saat resepsi pernikahan saja, Bye all!"
Elfa mematikan sambungan vedio call dengan cepat. Meletakkan ponsel di meja dan menghadap ke arah Juan Mahardika, "Apa Akak mau makan?" tanya Elfa untuk mengalihkan perhatian agar suami tidak membahas sahabat pemimpin pejuang gadis.
__ADS_1
"Dari tadi Akak ingin bertanya apa itu Pak Su?"
"Akak mendengar semua perbincangan kami?" Juan Mahardika menjawab dengan mengangguk.
Elfa mengerucutkan bibirnya sambil cemberut, "Dari awal sudah dengar?"
"Tidak, Sayang. Akak mendengar sejak El menyebut Pak Su, siapa itu Pak Su, Jangan buat Akak cemburu!"
"Akak ini sudah berapa lama sih tinggal di Indonesia, Pak Su itu singkatan dari Pak Suami."
Juan Mahardika mengulang kata pak suami berkali-kali. Di dalam pikiran mulai menyadari ternyata yang dibicarakan dari tadi tentang dirinya sendiri. Dari tadi sudah mulai merasa cemburu dan bingung siapa orang yang sedang dibicarakan.
"Jadi yang dimaksud Pak Su itu Akak sendiri?"
"Iya, baru nyadar. Ada ya orang yang cemburu pada diri sendiri?"
Sambil menepuk pipi Elfa, Juan Mahardika hanya nyengir kuda saja. Tidak menyangka dirinya sendiri yang dijadikan gosip oleh Elfa dan teman-temannya. Untung tadi mendengar cerita yang baik dan tidak ada yang menyudutkan satupun.
"Bagaimana, Akak masih cemburu pada diri sendiri?" tanya Elfa lagi.
"Bagaimana caranya cemburu pada diri sendiri?"
"Mana El tahu, yang cemburu Akak, bukan El!"
"Kok Akak tambah gemas sih, Iiih Akak jadi ingin makan?"
"Ayo kalau mau makan, El ambilkan!"
"Tetapi Akak tidak ingin makan nasi."
"Akak ingin makan apa?"
"Akak ingin makan El, boleh?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
yok shobat Anna, mampir di sebelah, insyaallah akan up setiap hari juga lo, jangan lupa mampir ya