
Juan Mahardika bercerita jika tipe laki-laki seperti Dokter Yohan Carnett adalah tipe laki-laki yang rela melakukan apa saja demi kepuasan hati. Dia rela hanya menjadi kurir demi pencitraan diri. Demi bisa mencari tambahan untuk bisa membayar orang untuk mencari informasi tentang Kris dan Elfa.
Terkadang keinginan dan obsesi tidak bisa dibedakan saat kepuasan hati tidak tercapai. Apapun akan dilakukan agar bisa memenuhi gejolak jiwa yang membara. Tidak perduli semua harus dibayar dengan mahal yang penting hati terpuaskan.
"Jadi apa tindakan Akak tentang dia?"
"Tenang saja, Sayang. Dwi sangat tahu cara menangani dia, apalagi sekarang bekerja sama dengan Asisten Julio. Keduanya tidak tertandingi jika bersatu."
"Alhamdulillah."
"Sudah jangan pikir dia terus, lebih baik pikirkan pusaka bumerang Akak yang minta di manja."
Elfa mengerucutkan bibirnya, terkadang keinginan suami yang menggebu tidak sebanding dengan rasa lelah yang dirasakan selama hamil. Terkadang ingin menolak, tetapi takut dosa. Selalu teringat pesan yang mengatakan tidak boleh monolak ajakan suami.
Juan Mahardika mulai bergerilya ke tempat favorit. Kali ini Elfa hanya menikmati dan sesekali membalas saja. Memejamkan mata untuk bisa terbawa suasana dan membalas setiap aksi.
"Ada apa, Sayang. Kok tidak seperti biasanya?"
"El sekarang lebih cepat capek, Akak. Apakah tidak apa-apa kalau Akak buka sendiri, dimasukkan sediri dan kalau sudah selesai ditutup lagi?"
"Eee, apakah capek sekali?"
"Tidak sih, masih bisa mengimbangi walau tidak seperti biasa."
"Akak mengerti, El diam saja ya! Semua Akak yang beraksi dan cukup menikmati."
Elfa mengangguk dan tersenyum, "Terima kasih, Akak sangat pengertian."
Dari awal mulai beraksi Juan Mahardika seolah bermain sendiri. Sampai dipertengahan aksinya sesekali mendapatkan balasan. Mulai bisa meningkatkan aksi setelah bisa di balas walau tidak seperti biasa.
"Akak izin masuk saja ya, walau tidak mengimbangi yang terpenting tidak sakit, 'kan?"
"Tidak, lanjutkan saja!" jawab Elfa perlahan.
Durasinya kali ini lebih lambat dari biasanya. Juan Mahardika bermain dengan lembut dan berhati-hati. Yang terpenting bisa menikmati rasa yang ada walau slow respon.
"Boleh terus, Sayang?" Juan Mahardika mulai meningkat rasa itu setelah beraksi beberapa saat.
"Hhmm."
Juan Mahardika mulai menambah kecepatan walau tidak sekuat biasanya. Yang terpenting pusaka bumerang bisa terpuaskan sampai puncak negeri di atas awan. Tidak membahayakan twins baby yang ada di kandungan.
__ADS_1
"Terima kasih, I love you," ucap Juan Mahardika mengecu bibir Elfa sekilas setelah rasa itu tercapai.
"Sama-sama, maaf kalau tidak seperti biasa yang Akak rasakan."
"Tidak apa-apa, Sayang. Akak sangat menyukai dan menikmati kok."
"Tutup kembali dong kalau sudah!"
Juan Mahardika tergelak sambil mentowel ujung gundukan yang masih terlihat nyata, "Tentu saja, pakai selimut saja ya. Ini biar bisa diintip sedikit."
"Kalau masih terlihat itu bukan mengintip namanya, Akak."
"Bisa dinikmati sebagai teman tidur deh, sekarang sangat menggoda sih dua ini!" Juan Mahardika kembali mentowel keduanya bergantian.
Elfa tersenyum simpul, dua gundukan itu selalu menjadi favorit suami tercinta saat beraksi. Apa jadinya jika harus berbagi dengan twins baby nanti. Pasti akan seru karena yang menginginkan tidak hanya dua bayi, tetapi ditambah bayi besar.
Juan Mahardika mengerutkan keningnya melihat Elfa tersenyum sendiri, "Mengapa tersenyum begitu, Sayang?"
"Akak harus mulai bersiap-siap banyak hal sebelum twins baby kita lahir, El membayangkan Akak akan rebutan dengan bayi kita saja rasanya sangat lucu."
"Rebutan apa, Sayang?"
Juan Mahardika termenung sambil melihat langit-langit kamar. Membayangkan saat twins baby lahir pasti akan membutuhkan ASI eksklusif. Mungkin akan dikuasai mereka dan tidak memberikan kesempatan untuk bisa menikmati dengan leluasa.
"Yang penting ini khusus untuk Akak," jawab Juan Mahardika mengusap lembut inti tubuh Elfa yang ada ditengah dua pangkal kaki.
"Akak juga harus siap untuk libur paska melahirkan."
Juan Mahardika hanya mengambil napas panjang. Mulai membaca seputar melahirkan baik melahirkan normal atau operasi. Yang sangat membuat berat hati adalah ditahapan nifas.
Dari artikel yang sudah dibaca, yang sering diulang membaca adalah komentar para suami. Sebagian besar dari mereka selalu mengeluh karena waktu yang sangat lama puasa. Namun, saat mendampingi istri tercinta melahirkan normal mereka mengatakan semua sebanding dengan perjuangan seorang ibu melahirkan.
"Kalau yang itu Akak masih keberatan, Sayang, Akak tidak bisa membayangkan selama empat puluh hari libur beraksi."
"Yang terpenting Akak pikirkan mulai dari sekarang."
"Membayangkan saja Akak ngeri apalagi dipikirkan, sangat berat rasanya, Sayang."
"Akak lebih banyak baca artikel tentang melahirkan lagi!"
"Iya besok lagi, ayo tidur dulu!"
__ADS_1
Hari ini Juan Mahardika, Elfa dan Asisten Dwi Saputra serta Rena pulang ke Indonesia. Dijemput langsung oleh Mami Mitha dan Papi Alfarizi di bandara. Ditambah tim dokter yang selalu ikut ke manapun ibu hamil berada.
Sesaat pesawat mendarat, Mami Mitha menunggu di tangga pesawat. Melihat Elfa turun digandeng oleh suami tercinta, "Ya Allah, mengapa sebesar ini, perasaan saat vedio call kemarin terlihat kecil?" tanya Mami Mitha sambil mengusap perut Elfa.
"Namanya juga kembar, Mami. Di dalam sini ada dua bayi yang tumbuh."
"Assalamualaikum, Mami dan Papi," kata Juan Mahardika meraih dan mencium punggung mereka bergantian diikuti Elfa.
"Walaikum salam," jawab mereka bersamaan.
"Bagaimana rasanya, Nak?" tanya Papi Alfarizi.
"El sering mudah lelah, Papi."
"Mudah capek, mengapa tidak menyediakan kursi roda, Juan?" tanya Papi Alfarizi sedikit kesal.
"Maafkan Juan, Papi. Tunggu sebentar akan Juan lakukan sekarang." Juan Mahardika langsung memberikan kode kepada Dokter Emy dan Asisten Dwi Saputra.
"Belum perlu, Akak. El masih mau duduk di dekat pintu ke luart bandara."
"Mau apa, Nak?" tanya Mami Mitha.
"Di setiap bandara yang ada di Indonesia yang membuat kangen itu roti rasa kopi itu, El sangat merindukan makan itu."
"Baiklah, kita ke sana!" Juan Mahardika menggandeng Elfa menuju tempat gerai roti yang dari jauh sudah tercium bau harumnya.
Yang pertama berjalan dengan langkah panjang adalah Papi Alfarizi. Ingin sekali membelikan keinginan putri tercinta dengan tangannya sendiri. "Papi yang beli ya, Nak. Mau berapa?"
"Tiga khusus untuk El, Pi."
"Ok, Juan ajak duduk dulu El nya. jangan sampai kecapean!"
"Tentu, Pi. Terima kasih."
Papi Alfarizi berdiri mengantri dengan beberapa pembeli yang lain. Mami Mitha ikut duduk disamping Elfa. Juan Mahardika ikut mengantri menemani papi mertua.
Laki-laki berbeda usia berdiri sambil berbincang bisnis menunggu giliran. Setiap pasang mata menatap tajam melihat dua laki-laki yang satu keturunan Arab dan satu lagi keturunan Belanda. Karena terlihat akrab seperti pasangan sejenis.
Penjual kue adalah laki-laki gemulai dan tersenyum saat giliran Papi Alfarizi berpesan, "Hai Om Ganteng, godain kita dong!"
"Astagfirullah!" teriak Papi Alfarizi dan Juan Mahardika bersamaan.
__ADS_1