
Malam ini Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra hampir tidak tidur karena permintaan ibu hamil. Bagi Juan Mahardika permintaan Elfa adalah perintah dan ngidam istri yang harus di turuti. Memimpin sendiri penyelidikan wanita hamil yang kemungkinan umur kandungan lebih dulu dari Elfa.
DIdampingi oleh pihak kepolisain yang tinggal di dekat resort. Ditambah anak buah Asisten Dwi Saputra, mereka beraksi setelah tengah malam. Bertindak seperti gerombolan mafia yang sedang beraksi mencari musuh yang bersembunyi.
Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra menunggu di halaman resort miliknya sendiri sambil melihat laptop. Mereka melakukan penyelidikan dengan alat yang canggih. Sehingga setiap sudut resort tempat para dokter bisa dilihat dengan jelas.
Yang pertama mereka masuk melewati pagar belakang rumah. Tidak ada security yang menjaga di sana. Security hanya ada dua orang sedang siaga di depan gerbang pintu utama.
Polisi dengan mudah membuka pintu dapur, tangannya bak mafia yang profesional membobol pintu. Diikuti tiga anak buah Asisten Dwi Saputra yang memakai topeng di wajah mereka termasuk polisi. Bergerak memperhatikan satu per satu kamar resort yang berjajar sekitar empat kamar.
Di ujung kamar adalah ruang pusat kendali CCTV. Dengan mudah polisi merusak semua fasilitas pengawasan yang ada di resort. Sebelum beraksi harus sudah mati semua CCTV agar tidak bisa dikenali pelakunya.
Dari empat kamar yang ada, polisi masuk satu per satu dan memeriksa penghuni yang sedang terlelap. Tidak ada wajah wanita yang ada di foto dari empat pasang suami istri yang sedang terlelap di tempat tidur.
"Kalian masuk ke kamar utama!" perintah Juan Mahardika saat tidak menemukan wanita yang dimaksud.
Kamar utama berada di dekat ruang keluarga. Kamarnya paling besar dan memiliki fasilitas yang paling lengkap. Polisi memerintahkan untuk menyiapkan obat tidur dalam bentuk cair dan dituangkan di sapu tangan. Hanya untuk jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan.
Polisi membuka pintu perlahan dengan trik tertentu. Dengan mudah pintu langsung terbuka dan didorong perlahan. Hanya ada lampu temaram yang ada di kamar itu.
Di atas tempat tidur ada satu laki-laki yang terlelap dengan fasilitas lengkap. Bantal guling dan selimut tebal membuat tidurnya sangat lelap dan nyaman. Ditambah AC yang dingin semakin laki-laki itu berselanjar dalam mimpi indahnya.
Berkali-kali polisi itu mengambil vedio pada laki-laki yang terlelap. Mengambil foto dan mencocokkan dengan foto yang dibagikan oleh Juan Mahardika. Polisi hanya memberikan kode acungan jempol dan tanpa suara, agar penghuni kamar tidak terbangun.
Polisi dan rombongan berpindah pada seorang wanita yang tidur di bawah dengan memakai kasur tipis. Tidur dengan miiring dan meringkuk memeluk lutut. Tanpa menggunakan guling apalagi selimut. Wajahnya tertutupi sebagian bantal yang ditekuk ke arah atas.
Jika dilihat sekilas ciri-ciri wanita itu seperti yang ada di foto. Perutnya membuncit dan badannya sedikit gemuk. Di bawah siku ada bekas luka dan dilengan ada noda hitam bekas luka bakar yang terlihat jelas.
Di kaki juga terlihat banyak luka lebam dan luka yang sudah mengering. Polisi terus berusaha untuk melihat wajah wanita itu. Berjalan mengendap agar tidak di pergoki oleh penghuni kamar.
"Eksekusi sekarang, tidak perlu melihat wajahnya lagi. Berikan obat tidur saja agar mudah di eksekusi!" perintah Juan Mahardika langsung.
__ADS_1
"Siap, Tuan. Perintah di laksanankan." Polisi berbisik menjawab perintah pimpinan malam ini.
Yang pertama di lumpuhkan adalah laki-laki yang ada di tempat tidur. DIberikan obat tidur yang dihirupkan di hidungnya agar tidak terbangun. Sang wanita yang ada di bawah juga diberikan obat tidur sebelum dia terbangun.
Sang wanita di selimuti dari dada sampai kaki sebelum diangat ke luar, "Kalian acak-acak kamarnya!" perintah Pak Polisi.
"Untuk apa, Pak?" tanya salah satu anak buah Asisten Dwi Saputra.
"Untuk memberikan kode kepada dokter gila yang ada di atas tempat tidur itu, agar dia menduga jika wanita ini di culik."
"Siap laksanakan."
Tiga Anak buah Asisten Dwi Saputra memporak-porandakan kamar dengan menurunkan baju yang tertata rapi di lemari. Kursi dan meja juga di tendang sampai terguling. Piring dan peralatan makan yang ada di meja makan juga sudah pecah berserakan di lantai.
"Ayo cepat bawa ke luar wanita ini!" perintah polisi lagi.
"Ok, ayo cepat!"
Dua anak buah Asisten Dwi Saputra membawa wanita yang tertidur pulas dengan memakai fasilitas dokter. Ada tandu kecil yang ada di pojok ruang dokter. Mereka bergegas berjalan ke arah dapur.
"Tidak perlu lewat belakang, kita lewat depan saja," kata Polisi.
"Ada dua security yang masih terjaga, Pak," kata salah satu anak buah yang baru saja mengacak-acak ruang keluarga.
"Ini ada botol kecil, kamu semprotkan di area sekitar dua security dari belakang!"
"Apa isinya ini, Pak?"
"Obat tidur, cepat sana!"
"Ok siap."
__ADS_1
Dengan mengenap-endap salah satu anak buah Asisten Dwi Saputra berjalan ke arah pos security. Sebelum menyemprotkan pada dua security yang sedang konsentrasi bermain catur, menutup hidung terlebih dahulu agar tidak terhirup.
Setelah menyemprotkan perlahan tanpa terdengar. Hanya hitungan menit saja dua security itu terlelap dengan bersender di kursi, "Pak Polisi memang jempolan," monolognya sendiri sambil berlari menuju pintu utama resort.
"Pak, sudah aman. Ayo kita cepat ke luar dari sini!"
"Ayo cepat kalian keluar duluan!" perintah Polisi kepada dua orang yang sedang menggotong tandu.
Pak polisi mengacak-acak taman kecil yang ada di samping pos security. Dibuat seolah ada bekas perkelahian di taman itu. Di tambah meletakkan satu pasang sepatu wanita yang diambil dari kamar utama tadi.
Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra langsung berlari menuju pos security. Tidak ingin dua security yang bertugas mengetahui saat ada tandu masuk, "Pak bisa minta tolong belikan sate yang ada di restoran dua puluh empat yang ada di sana!" perintah Juan Mahardika.
"Jam segini istri Anda ngidam sate, Tuan?"
"Yang ngidam budak dia, tetapi aku. Cepat kalian berdua yang beli, di sini kami yang akan jaga!"
"Siap, Tuan."
Setelah dua security berjalan lawan arah dari resort, tandu datang masuk resort dengan aman tanpa seorang pun yang tahu. Tidak lupa polisi memerintahkan anak buah berjalan menghindari CCTV yang dilewati antara resort yang disewa sampai resort milik Juan Mahardika.
"Dimasukkan ke kamar sebelah mana, Tuan?"
"Kamar tamu saja!" perintah Juan Mahardika.
"Astagfirullah, mengapa kaki itu banyak luka?" tanya Asisten Dwi Saputra.
BERSAMBUNG
Yok mampir di novel teman author yang rekomen banget
__ADS_1