Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 130. Minyak Khusus dari Riyadh


__ADS_3

Tidak hanya security yang menginterogasi dua pemuda tanggung yang menyusup ke villa. Ada Alfian Alfarizi dan Asisten Julio, ada juga Asisten Dwi Saputra dan Asiten Surya. Yang tidak ada hanya Papi Alfarizi karena beliau sudah kembali ke Bekasi bersama Mami Mitha.


Kecurigaan dua pemuda tanggung dengan kejadian laki-laki yang tadi malam menyerang Krisnawati tidak terbukti. Mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian itu. Ada banyak alasan yang sangat masuk akal dari dua kejadian itu.


Kejadian tadi malam yang masuk ke rumah Rena adalah laki-laki dewasa. Itu disimpulkan dengan cerita Krisnawati yang mendengar langsung suara dua laki-laki itu. Mereka masuk mencari seseorang dengan tujuan mencelakai dan diperintahkan oleh orang lain.


Sedangkan, dua pemuda tanggung itu dalam keadaan masuk saat masuk villa. Masuk pada siang hari tanpa memperhitungkan resiko yang akan ditemui. Mereka masuk villa bertujuan untuk mencuri barang berharga untuk membeli barang terlarang.


Bisa disimpulkan kedua pemuda tanggung itu tidak ada hubungannya dengan Dokter Yohan Charnett. Tidak ada hubungannya juga dengan Jonny Evans yang sekarang ini berada di balik jeruji besi. Dua pemuda tanggung itu langsung di laporkan pada pihak yang terkait.


RT setempat dan kepolisian datang setelah mereka dilaporkan oleh security. RT setempat mengenal dua pemuda tanggung adalah warga desa pengangguran. Yang sering membuat onar, keributan dan tawuran bersama anak SMA.


Dua pemuda tanggung itu di gelandang ke kantor polisi. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Untuk diselidiki dari mana barang haram yang mereka konsumsi.


Sore harinya, Juan Mahardika mendapat kabar dari anak buah Asisten Julio. Rombongan Dokter Yohan Charnett sudah meninggalkan villa desa Mami Mitha. Sampai sekarang dokter urologi yang dulu teropsesi dengan Elfa masih menjadi misteri.


Asisten Dwi Saputra dan Rena berangkat ke Bali untuk berbulan madu. Elfa dan Juan Mahardika pulang ke Jakarta. Berangkat bersama-sama dari villa, tetapi dengan tujuan yang berbeda.


Dalam sehari ini Elfa dua kali berlari dengan menggunakan kekuatan penuh. Sudah lama tidak berlatih bela diri selama menikah. Kaki terasa pegal dan terasa kaku karena berlari tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Malam hari sebelum tidur, Elfa mengoles minyak khusus yang dibawa dari Riyadh. Minyak yang biasa dipakai oleh Almarhumah Umi Anna saat capek karena terlalu banyak berjalan. Minyak khusus dengan campuran minyak zaitun.


Juan Mahardika masuk kamar langsung menutup hidungnya karena ada bau khas minyak zaitun yang menusuk hidung, "Sayang bau apa ini?"


"Minyak khusus untuk kaki, Akak."


"Kok baunya begini?"


"Baunya enak gini."


"Aduh, Akak mual!" Juan Mahardika tidak hanya menutup hidung saja, langsung menutup mulut juga dengan cepat.


Elfa heran dan mencium berkali-laki minyak khusus yang masih ada di tangan. Bau khas dan harum minyak zaitun adalah salah satu favorit selain bau harum vanila.

__ADS_1


"Akak ke luar lagi deh!" teriak Juan Mahardika dengan suara tidak jelas karena mulut dan hidungnya di tutup.


"Eee Akak JM!" teriak Elfa karena kesal.


"Maaf, Sayang Akak tidak tahan baunya," jawab Juan Mahardika dari balik pintu.


"Ada apa sih Akak ini, aneh banget."


Elfa berjalan menyusul Juan Mahardika yang ke luar dari kamar. Masih heran dan tidak tahu apa yang terjadi karena mencium minyak saja mual. Hidung yang aneh, jadi teringat saat dulu masuk pasar tradisional yang ada di Ngawi.


Juan Mahardika kembali menutup mulutnya melihat Elfa menyusul ke luar kamar. Perut rasanya seperti diaduk dengan cepat. Bau itu masih sangat menyengat menyeruak masuk hidungnya.


"Sayang!" Juan Mahardika berbalik badan masuk kamar dan berlari masuk kamar mandi.


Semua isi yang ada di dalam perut langsung ke luar tanpa sisa. Bersamaan keringat bercucuran membasahi wajah. Mulut terasa pahit walau berkumur beberapa kali tetap pahit.


Elfa hanya berdiri di dekat pintu kamar. Tidak berani mendekati suami yang muntah karena minyak khusus yang dipakai, "Akak, maaf. El harus bagaimana?"


"Apa yang bisa El bantu?"


"Tolong semprotkan parfum vanila saja di kamar!"


"Baiklah."


Dalam hati Elfa merasa bersalah karena menyebabkan suami mengalami muntah. Dengan cepat menyimpan minyak khusus di laci lemari. Menyemprotkan parfum beraroma vanila ke seluruh ruangan.


"Akak, apakah masih mual?"


"Sudah tidak, tunggu sebentar lagi Akak ke luar!"


Kamar mandi yang dari awal tadi tidak di tutup, memudahkan Juan Mahardika mencium bau parfum beraroma vanilla. Berjalan mendekati Elfa yang khawatir berdiri dekat tempat tidur, "Akak baik-baik saja jangan khawatir, Sayang."


"Maafkan El."

__ADS_1


"Iya, Eee waduh!" Juan Mahardika kembali menutup hidungnya setelah dekat Elfa.


"Apakah masih bau, Akak?"


"Hhmm, El di kamar saja. Akak ke luar dulu ya!"


Elfa tercengang melihat Juan Mahardika bergegas ke luar kamar kembali. Baru kali ini suami menghindar dan tidak mau dekat. Biasanya selalu menempel seperti perangko dan tidak mau berpisah.


Elfa mencium badan dan kakinya sendiri. Masih ada bau khas minyak khusus yang dioleskan di kaki. Walau sudah tercampur dengan bau parfum aroma vanilla.


Ingin menyusul ke luar kamar, tidak ingin sang suami mual dan muntah lagi. Tidak ke luar hati bertanya-tanya tidak mendapatkan jawaban pasti. Hanya menunggu beberapa saat agar tidak bersamaan ke luar kamar.


Setelah sepuluh menit berlalu, Elfa ke luar kamar dan berdiri di samping tangga. Berteriak dari atas berteriak memanggil suami, "Akak!"


Elfa mendengok ke arah bawah karena tidak ada jawaban dari suami, "Akak JM!" teriaknya lagi.


"Iya, Sayang!"


"Akak masih mual?"


"Tidak, El di atas dulu ya, sampai bau minyak itu hilang!"


"Baiklah."


Dengan perasaan yang gundah-gulana Elfa masuk kamar. Merasa bersalah dan tidak mengerti apa yang terjadi. Elfa memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Mencoba memejamkan mata dan memeluk guling sambil membelakangi pintu kamar. Tanpa disadari Elfa terlelap karena mengantuk dan lelah. Tidak menunggu Juan Mahardika masuk kamar.


Sudah terbiasa di sepertiga malam Elfa terbangun untuk bersujud. Saat membuka mata tidak ada sang suami berbaring di samping seperti biasa. Hanya ada ponsel tergeletak di samping bantal.


Elfa memperhatikan tempat tidur sampingnya yang terlihat kusut. Seperti baru saja ada yang telah memakai tempat itu. Namun, tidak menemukan sosok Juan Mahardika di kamar, "Apakah Akak tidur di luar malam ini hanya gara-gara minyak itu?" monolog Elfa sendiri.


Elfa duduk mencium kaki yang tadi dioleskan minyak khusus. Bau khas minyak zaitun itu sudah tidak ada sama sekali. Yang tadi kaki pegal juga sudah hilang, "Sudah tidak ada bau sama sekali, mengapa tega banget sih Akak membiarkan El tidur sendiri," monolog Elfa lagi.

__ADS_1


__ADS_2