Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 51. Akak JM


__ADS_3

Juan Mahardika membuka mata sudah tidak menemukan Elfa berada disisinya. Jarum infus sudah tergeletak diatas ranjang dengan darah yang berceceran. Di seperai, sarung bantal bahkan ada juga yang menetes di lantai.


Melihat darah yang masih segar dan pintu terbuka sedikit. Bisa memastikan gadis itu keluar kamar baru saja. Juan Mahardika langsung berlari keluar kamar dan mencari di luar. Melihat ada pergerakan lift terlihat turun, langsung berlari menuruni tangga darurat sambil berlari sekencang mungkin.


Hatinya terasa lega saat melihat Elfa berjalan sempoyongan ke arah pantai sesaat Juan Mahardika turun tangga pada lantai dasar, "Kamu mau ke mana?"


"Ini di mana?" tanya Elfa sambil memegangi kepalanya yang semakin pusing.


"ada di pulau pribadiku, ayo istirahat dulu, kamu belum sembuh benar!"


"Tidak, El mau kembali ke posko tenda bencana."


"Nanti diantar ke sana kalau El sudah sehat kembali, ayo masuk!"


Juan Mahardika mendekati Elfa dan mencoba meraih tangannya. Dengan cepat tangan Elfa ditarik sampai hampir terjatuh. dengan spontan Juan Mahardika menarik Elfa dalam pelukan.


"Lepaskan, Brengsek. Jangan sentuh El!" teriaknya.


"Simpan tenagamu, jangan marah-marah. ayo kita masuk!" Juan Mahardika langsung menggendong bridal Elfa.


"Turunkan El!"


Teriakan Elfa sama sekali tidak digubris oleh Juan Mahardika. Dia tetap berjalan sambil terus menggendong bridal Elfa. Kaki Elfa hanya bisa digerakkan saja sedangkan badan didekap dengan erat.


Masih pusing dan badan lemah, membuat Elfa tidak memiliki tenaga lebih untuk melepaskan diri. Dari masuk lift, dan masuk kamar, akhirnya Elfa hanya pasrah. Juan bergegas menghubungi Asisten Dwi Saputra dan tim medis untuk datang.


"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra saat datang pertama kali.


"Itu jarum infus di lepas, dia tadi nekat turun dan berjalan menuju pantai."


"Benarkah?" tanya Asisten Dwi Saputra melihat Elfa duduk di atas tempat tidur.


"Kamu kumpulkan penjaga atur ulang di mana saja yang harus di jaga!"


"El mau kembali ke tempat bencana, El tidak mau di sini!" teriaknya.


"Nona, sebaiknya Anda pulihkan tenaga dulu," nasihat Asisten Dwi Saputra.


"El sudah sehat," jawab El jutek.

__ADS_1


"Sana kamu lakukan perintahku, dan cepat panggil tim dokter untuk segera datang!" seolah Juan Mahardika tidak rela melihat Elfa berbincang berdua.


"Baik, Tuan."


Setelah Asisten Dwi Saputra ke luar kamar. Juan Mahardika duduk di samping Elfa yang duduk meluruskan kaki yang ditutupi selimut. Wajah dan raut mukanya terihat tenang dan tidak menunjukkan kemarahan.


"El harus sembuh dulu, setelah itu nanti Akak JM antar ke tempat bencana itu lagi."


"Apa, siapa itu Akak JM?" tanya Elfa bingung.


Juan Mahardika tersenyum sambil menunjuk jari telunjuk pada diri sendiri. Membuat Elfa jadi tergelak, karena panggilan yang sangat aneh, "Dasar orang aneh panggilannya pun aneh."


"Tidak perlu menggerutu, Akak JM dengar. Nama itu panggilan terdengar romantis, El harus biasakan dengan panggilan itu!"


"Ogah."


"Semua permintaan El akan Akak JM penuhi kalau El mau di rawat di sini sampai sembuh."


"Betul, janji ya?"


"Iya janji, hanya satu yang tidak akan dipenuhi yaitu Akak harus menjauh dari El."


"Ingat harus menurut dengan tim dokter, El harus kembali di infus agar obat masuk dan bekerja maksimal!"


Elfa belum sempat menjawab ucapan Juan Mahardika. Terdengar ketukan pintu dan masuk enam orang bersamaan. Ada dua berseragam dokter, tiga berseragam perawat dan satu lagi berseragam pegawai laboratorium.


"Kami pasang infus kembali ya, Nona?" Seorang perawat wanita menunduk hormat sebelum mendekat.


Elfa terdiam tanpa menjawab, hanya menatap datar perawat itu sekilas. Melirik Juan Mahardika yang tersenyum dan mengangguk. Seolah memberikan kode jika dia menyukai El yang terdiam.


Sampai selesai memasang infus, Elfa hanya terdiam tanpa kata. Di lanjutkan dengan pemeriksaan dokter dengan beberapa pertanyaan. Sebagian besar hanya Elfa jawab dengan mengangguk atau menggelengkan kepala.


Memeriksa mulut dokter laki-laki itu hanya memerintahkan Elfa untuk membuka mulut tanpa menyentuh. Melihat kornea mata juga hanya memerintahkan untuk membuka mata dengan lebar. Begitu juga dengan memeriksa detak jantung di dada, Dokter itu hanya menempelkan stetoskop di dada bagian atas tanpa menyentuh kulit sedikit pun.


Juan Mahardika terus tersenyum melihat dokter yang sedang bekerja. Elfa terus saja memperhatikan setiap gerak-gerik tim dokter tanpa kata. Sampai salah satu perawat wanita mendekati untuk untuk memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh.


"Permisi, saya akan memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Anda ya, Nona?"


Elfa langsung mengulurkan tangan untuk pemeriksaan denyut nadi. Mengambil termometer dan diletakkan pada ketiak sendiri. Setelah selesai di serahkan sendiri kepada perawat.

__ADS_1


"Baik, sudah selesai, sebagian obat kami masukkan melalui infus. dan sebagian lagi ini diminum setelah makan!" perintah Dokter sambil meletakkan obat di atas meja.


"Ya terima kasih, Dok." Juan Mahardika yang menjawab.


"Sama-sama dan kami permisi, Tuan dan Nona."


Tim dokter ke luar kamar, sesaat kemudian ada dua koki dengan membawa menu makan malam. Mereka medorong dua troli meja berisi menu makan yang beragam. Tidak cuma satu menu koki menyajikan makanan, ada tiga menu sekaligus.


Yang pertama adalah masakan Indonesia yaitu opor ayam, sambal terasi dan kerupuk udang. Yang kedua masakan Arab yaitu nasi kebuli kambing. Dan masakan Eropa berupa stiek daging tander loin.


"Selamat menikmati, Nona dan Tuan."


"Terima kasih," jawab Juan Mahardika.


"Apakah ada yang diinginkan lagi, Tuan?"


"El, selain menu ini apa ada yang lain?"


Tanpa melihat menu makanan yang dihidangkan, Elfa langsung menjawab dengan menggelengkan kepala. Maksud Elfa malas makan dan belum ingin makan. Perut tidak merasa lapar dan tidak berselera untuk makan.


Juan Mahardika mendekati troli meja yang berisi menu makan, "Mau Akak ambilkan?" Elfa menggelengkan kepala.


Elfa masih merasa aneh dengan perubahan sikap Juan Mahardika. Lebih ramah dan tidak terlihat emosi dan marah-marah. Apalagi dengan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Akak JM.


"Ayo makan, El. Kok malah melamun!"


Elfa kembali menggelengkan kepala tanpa menjawab ajakan Juan Mahardika. Pergerakan terbatas karena tangan dipasang selang infus. Hanya melihat Juan Mahardika yang mulai mengambil piring kosong.


"Mau opor ayam atau nasi kebuli kambing, Akak ambilkan?"


"Tidak."


"Mau stiek daging?"


"Tidak."


Sekarang Juan Mahardika yang menjadi bingung, pertama ditanya tentang menu yang diinginkan, tidak menjawab. Ditawari tiga menu yang ada juga menolak. Menjadi teringat rekaman saat Elfa sedang makan nasi padang dengan pemuda berondong yang sampai sekarang belum diketahui indentitasnya.


"Atau ingin makan nasi padang seperti bersama pemuda berondong itu?"

__ADS_1


"Ha, apa maksud Anda? coba ulangi sekali lagi!"


__ADS_2