Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 184. Warna Sama


__ADS_3

Juan Mahardika hampir mengayunkan parang ke kelapa muda bakar yang masih berada di atas meja. Di bawah kelapa itu masih ada piring sebagai alas agar bisa tegak dan tidak bergeser. Ada juga gelas kosong yang berjajar di samping kelapa yang akan dibelah.


"Tunggu, Mas Bule!" teriak Pakde Sarto.


"Ono opo, Pakde?"


"Jangan dibelah di meja situ, yang ada nanti piring dan gelasnya yang pecah!"


"Ooo jadi piye?"


"Sini Pakde saja!"


Pakde Sarto mengangkat kelapa muda bakar di lantai bawah. Langsung diayunkan tetap di tengah kelapa. Terlihat kelapa muda yang berwarna agak kecoklatan.


"Ini silakan di nikmati!" Kelapa muda yang sudah menjadi dua bagian diletakkan di piring yang ada di atas meja lagi seperti semula.


Satu sendok langsung dinikmati Elfa dari tangan Juan Mahardika, "Hhmm, enak dan gurih, Akak."


"Benarkah?"


"Coba Akak makan!"


Satu suap masuk mulut Juan Mahardika dengan cepat, "Waah, gurih dan manis."


Elfa sangat menyukai sensasi air kelapa bakar yang hangat. Juan Mahardika lebih memilih kelapa muda yang berbau bakaran arang. Bahkan, Juan Mahardika kembali memesan kelapa bakar hanya dinikmati daging kepalanya saja.


Elfa sangat menyukai air kelapa, tetapi tidak sanggup untuk menghabiskan kelapa yang dipesan oleh suami. Juan Mahardika mampu menghabiskan empat daging kelapa sendirian tanpa sisa. Sedangkan air kelapa di bungkus dan dibawa pulang oleh Bude Marmi.


Sampai umur kandungan Elfa yang memasuki bulan ke tujuh. Tidak hanya Elfa yang mengalami kenaikan berat badan. Juan Mahardika juga semakin cabi pipinya karena banyak makan.


Yang dulu tidak pernah makan dengan karbohidrat tinggi. Juan Mahardika sering makan masakan Indonesia dalam jumlah banyak. Kenaikan berat badan mengimbangi Elfa yang juga naik siknifikan.


Dulu Juan Mahardika selalu menjaga penampilan. Selama Elfa hamil, lebih banyak hanting makanan karena ngidam. Lebih memperhatikan makanan daripada penampilannya sekarang ini.


Di hari pertama Elfa di Ngawi, badan terasa semakin sehat. Pasalnya udara yang masih bersih dan segar. Tidak ada polusi karena rumah yang dekat dengan hutan dan sungai. Hamparan sawah yang luas dibelakang rumah di antara sungai semakin menambah suasana damai.


Setiap pagi Elfa berjalan di pinggir hamparan sawah sampai sungai bolak-balik tanpa alas kaki. Yang biasanya melakukan senam hamil di Jakarta. Di Ngawi Elfa hanya berolah raga dengan jalan kaki ditemani suami tercinta.


Terkadang setelah capek hanya akan duduk di batu besar yang ada di sungai sambil bercanda. Melihat masayarkat yang melakukan aktifitas di sungai. Mencuci baju atau mandi pagi sebagian besar dilakukan juga di sungai.

__ADS_1


Bude Marmi membawa buah sawo dan nanas ke sungai. Tahu ada Elfa dan Juan Mahardika yang sedang duduk di batu besar pinggir sungai. Sedang melihat anak-anak yang sedang mandi dan bermain air dengan ceria.


"El, Bude bawa sawo, dan nanas untuk Mas Bule." Bude Marmi memberikan dua kotak box dan ada satu garpu kecil di dalamnya.


"Mengapa dibawa ke sini, Bude?" tanya Juan Mahardika.


"Bisa kalian makan sambil bersantai."


"Bisa sih bisa, Bude. Juan Pasti geli saat sedang asyik makan ada kuning mengambang sedang lewat."


Elfa tergelak membayangkan apa yang diucapkan Juan Mahardika. Bude Marmi Hanya nyengir kuda sambil berjalan masuk di air sungai untuk mencuci, "Jangan dilihat dong saat ada yang lewat," jawab Bude Marmi dengan asal.


Juan Mahardika awalnya hanya membuka dan melihat buah yang dipotong dadu dan berwarna kuning sama seperti yang sering lewat di sungai. Kembali ditutupnya kotak itu dengan rapat sambil melihat arah sungai.


"Kenapa tidak dimakan, Akak?"


"Akak jadi membayangkan yang lewat dan yang di kotak ini warnanya sama, Sayang."


Elfa semakin tergelak ikut membayangkan apa yang dikatakan suami tercinta. Menyerahkan kotak satu lagi yang berisi sawo yang sudah dipotong kecil memanjang, "Akak makan ini saja!"


Juan Mahardika membuka kotak dari Elfa setelah meletakkan kotak buah nanas di atas batu besar, "Lo bentuknya juga mirip kalau dilihat dari panjangnya, Sayang."


"Eee, Akak jangan memikirkan yang macam-macam. Jauh berbeda dong bentuknya."


Elfa semakin tergelak sampai memegangi perut. Benar juga jika diperhatikan bentuk sawo yang dipotong memanjang akan bernbetuk seperti yang baru saja lewat. Apalagi warnanya lebih pas dibandingksn dengan nanas tadi.


"Tutup saja lagi kalau tidak tega untuk makan!" perintah Elfa.


Juan Mahardika masih melihat buah sawo yang dipegang. Seolah air liur akan menetes saat mencium bau buah sawo yang terlihat manis. Hanya menelan ludah berkali-kali karena ingin menikmati.


"Setelah Akak melihat dan mencium bau buah ini, Akak mau ngiler, Sayang."


"Akak makan sambil membelakangi sungai, jadi tidak melihat saat ada yang lewat!"


Juan Maharika berbalik badan berniat ingin makan buah sawo. Ternyata ada anak-anak yang berlari mendekati batu besar bersamaan, "Mas Bule, mau dong!" teriak mereka bersamaan.


"Kasih saja, Akak. Nanti Akak makan yang di rumah saja!"


Juan Mahardika menelan ludah berkali-kali, "Akak makan satu saja ya, daripada twins baby ngiler?"

__ADS_1


"Silakan aja asal Akak jangan membayangkan yang tadi lewat."


"Astagfirullah, tidak jadi deh. Akak geli."


"Ya sudah kasihkan semua pada anak-anak!"


"Ini silakan ambil, Adik-adik!"


"Matur suwun, Mas Bule!" teriak mereka bersamaan.


Anak-anak makan dengan lahap sambil berebutan. Juan Mahardika hanya melihat sambil menelan ludah. Terkadang menggelengkan kepala karena teringat bentuk dan warna yang hampir sama.


"Ayo kita pulang, Sayang!"


"El masih pingin duduk di sini, Akak."


"Akak pingin makan sawo, coba lihat dari tadi Akak hanya menelan ludah saja!"


"Baiklah ayo."


Sampai di rumah, Elfa langsung menuju kulkas untuk mencari sawo yang diinginkan suami. Namun, tidak menemukan satu butir pun di sana. Hanya ada buah nanas, melon dan mangga saja.


"Tidak ada di kulkas, Akak."


"Akak mencium bau sawo di mana ini?"


Ternyata ada keluarga yang sedang berkumpul di teras rumah. Mereka sedang berbincang sambil menikmati buah yang berwarna coklat dan bulat itu. Hanya tinggal satu buah yang ada di meja yang belum di nikmati.


"Pakde, tidak ada lagi sawonya selain ini?" tanya Elfa mengambil buah yang ada di atas meja.


"Habis, Nak. Tadi Bude sudah membawakan untuk El dan Mas Bule, 'kan?"


"Iya sudah, sih. Tetapi diminta anak-anak yang sedang mandi si sungai."


"Akak cuma satu tidak apa-apa ya?"


"Kok cuma satu, Sayang. Mana puas?"


"Coba saja dulu, El kupas dulu ya?"

__ADS_1


Elfa mengupas buah sawo dengan cepat, tapa dipotong langsung diserahkan kepada Juan Mahardika, "Ini silakan di makan, sengaja tidak El potong biar betuknya tidak seperti yang ada di sungai tadi!"


Baru mau dimakan, tiba-tiba buah menggelinding jatuh, "yaaah, Sayang jatuh?"


__ADS_2