Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 14. Bertanya Sendiri


__ADS_3

Bergegas Juan Mahardika masuk toilet kafe. Mengunci pintu dari dalam setelah masuk kamar mandi. Membuka celana dan memandangi pusaka yang masih anteng dan tidak berubah bentuk.


Memejamkan mata dan membayangkn hal indah yang selalu dilakukan saat bersama wanita di atas ranjang. Biasanya hanya dengan membayangkan pusaka itu berubah dengan cepat tanpa di komando. Namun sekarang ini berusaha sekuat tenaga agar bangun, tetapi pusaka itu masih saja tenang tanpa berubah.


"Ada apa denganku, apa yang sebenarnya terjadi?" monolog Juan Mahardika dengan suara lirih.


Menaikkan celana perlahanĀ  dengan perasaan yang tidak menentu. Bersandar di tembok sambil memejamkan mata kembali. Berusaha berkonsentrasi untuk mengulangi hal yang sama yaitu membayangkan aksi yang selama ini dilakukan.


Hanya sayangnya usaha Juan Mahardika gagal dan gagal lagi. Hanya bisa mengacak dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Bingung, heran dan terus bertanya dalam hati karena baru kali ini terjadi.


"Apa mungkin karena Marlena sudah memiliki suami ya?" tanya Juan Mahardika pada dirinya sendiri.


Juan Mahardika memutuskan untuk ke luar dari kamar mandi setelah setengah jam berlalu. Sambil mencari alasan untuk bisa menghindari Nyonya Marlina Dimyati. Alasan yang masuk akal dan bisa di terima dengan wanita yang sebenarnya sudah masuk perangkap.


"Ok aku sudah memiliki ide agar tidak harus mengajak wanita itu bergelut di ranjang," monolog Juan Mahardika sambil berjalan dengan langkah panjang mendekati meja Nyonya Marlina Dimyati.


Dengan memegang ponsel dan mata terus melihat ponsel yang masih aktif Juan Mahardika mengusap pundak Nyonya Marlina Dimyati, "Sayang ... maaf ya, ini Asisten Dwi Saputra menghubungi, Aku harus ke kantor sekarang."


"Tapi ...?" Nyonya Marlina Dimyati terpana dan bingung.


Wajah Nyonya Marlina terlihat bingung. Bersama dengan Juan Mahardika selama dua jam lebih, dia selalu saja terus merayu dan membuatnya melayang. Setelah Hatinya terpaut sekarang membatalkan begitu saja.


Juan Mahardika bisa membaca apa yang ada dipikiran wanita yang baru saja dirayu, "Setelah meeting selesai, aku akan menghubungi kamu secepatnya."

__ADS_1


Juan Mahardiks langsung mencium bibir Nyonya Merlinda Dimyanti tanpa malu. Padahal sekarang ini ada di tempat umum. Ada banyak pengunjung yang melihat aksi itu dengan pandangan mata yang tidak bisa diartikan.


Nyonya Merlina Dimyati kembali yakin setelah mendapatkan ciuman tak terduga. Berpikir hanya akan menunda untuk bisa menikmati indahnya berdua. Hanya semata karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, "Baiklah ... aku tunggu."


"Ayo aku antar ke butik yang tadi sedang menunggu kamu saja ya?"


"Hhmm ...."


Juan Mahardika terus saja bertanya dalam hati selama perjalanan mengantar Nyonya Marlina Dimyati. Ada dua tujuan saat mencium bibir wanita itu. Meyakinkan agar Nyonya Marlina Dimyati percaya dan untuk mencoba membangunkan pusaka miliknya.


Sayang sekali pusaka tetap tidak bereaksi apapun. Hanya pikiran yang menginginkan untuk mengajak untuk beraksi. Namun pusaka tidak bisa diajak kompromi.


Sampai di kantor Juan Mahardika langsung masuk di kamar pribadi yang ada di balik lemari. Kembali memeriksa dengan teliti pusaka miliknya. Mulai dari bentuk, warna dan rasa saat disentuh.


Juan mengambil napas panjang sambil mengembalikan posisi celana. Menghembuskan napas dengan kasar sambil menggelengkan kepala. Langsung membanting tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur sambil merentangkan tangan.


Mata menatap langit-langit kamar sambil mengingat peristiwa dua minggu yang lalu. Terakhir beraksi di villa dengan gadis yang pernah menggagalkan usahanya tiga kali. Bisa merebut kesucian gadis itu walaupun dengan menambahkan obat.


Setelah gadis itu menangis tersedu-sedu dan duduk di lantai. Tidak terjadi apapun kecuali terlelap dengan badan yang polos tanpa sehelai benang. Bangun tidur sudah tidak menemukan gadis itu lagi.


Dari kejadian itu hampir dua minggu tidak pernah menyentuh dan mencari teman kencan. Berduka dan bekabung karena meninggalnya kakek tercinta. Rasa ingin beraksi teralihkan karena menghormati kepergian orang terkasih.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Juan sendiri sambil meraba pusakanya.

__ADS_1


Hari ini sampai sore tiba, Juan Mahardika tidak keluar kamar. Membatalkan semua janji meeting dengan alasan sakit. Tidak ingin yang terjadi diketahui oleh siapapun juga termasuk Asisten Dwi Saputra.


Juan Mahardika langsung terduduk saat teringat lima tahun lalu. Saat umur dua puluh lima tahun memutuskan untuk melakukan vasektomi. Agar setiap beraksi tidak meninggalkan jejak benih pada setiap wanita yang dikencani.


"Apakah karena terlalu lama vasektomi ya?" Juan Mahardika kembali bertanya kepada diri sendiri.


Dulu melakukan vasektomi secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua atau keluarga. Sampai sekarang tidak seorang pun yang tahu tentang rahasia vasektomi. Melakukan di rumah sakit yang ada di Australia dengan dokter yang ahli dalam bidangnya.


Juan Mahardika mengambil ponsel yang ada di kantong. Mencari informasi tentang vasektomi dan resiko jangka panjang. Ingin memastikan yang dilakukan masih tetap aman.


Dulu dokter mengatakan sewaktu-waktu akan bisa dibuka kembali ikatan yang menghambat produksi cairan pusaka. Akan langsung normal kembali jika ingin memiliki keturunan seperti sedia kala. Asalkan hasil cairan dari pusaka masih normal dan tidak ada kelainan.


"Tidak ada resiko apapun menurut keterangan di sini, jadi apa yang menyebabkan pusaka ini tidak mau terbangun ya?" Terus saja Juan Mahardika bertanya kepada dirinya sendiri.


Juan Mahardika memejamkan mata mengingat kejadian demi kejadian yang di alami dua minggu terakhir. Ada suara yang samar-samar tentang hal yang aneh. Ada yang memerintahkan untuk pusaka tidur dan di larang beraksi.


Mengingat dan terus mengingat perintah tentang larangan beraksi. Namun tidak mendapatkan jawaban yang pasti siapa dan di mana perintah itu berasal. Tidak mengingat sama sekali peristiwa seolah perintah gaib dari bawah alam sadar.


Karena terlalu lelah berpikir dan terus berpikir. Juan Mahardika terlelap sampai hampir menjelang senja. Masih dalam posisi yang sama di tempat tidur saat membuka mata kamar dalam keadaan gelap.


"Sudah jam berapa sekarang, rupanya aku sampai ketiduran?" tanya Juan Mahardika sendiri sambil melihat jam yang ada di lengan tangan kanan.


Juan Mahardika bergegas ke luar kantor. Sudah tidak ada satu orang pun yang ada selain security yang bertugas. Langsung melajukan mobilnya menuju villa dengan perasaan yang tidak menentu.

__ADS_1


"Sebaiknya aku coba sekali lagi di kafe Jonny saja," monolog Juan Mahardika sambil memutar kemudi mobil menuju villa.


__ADS_2