Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 149. Kondisi Kris


__ADS_3

"Kemarilah, Akak ceritakan!" Juan Mahardika menarik Elfa dalam pelukan.


"Mengapa begini, Akak?"


"Kris masih dalam keadaan tidur karena obat tidur, kemungkinan siang atau sore dia baru akan terbangun. Biarkan dia istirahat dulu."


"Mengapa kaki dia banyak luka, Akak. Apa yang sebenarnya terjadi, atau jangan-jangan ...?" Elfa melepas pelukan suami dan kembali mendekati Kris.


"Akak, Asisten Dwi, ke luar sekarang!" teriak Elfa.


"Mau ngapain, Sayang?"


"Ada apa, Nona?"


Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra saling pandang karena bingung. Merasa khawatir melihat sahabat dari istri belum terungkap misteri yang terjadi. Emosi keduanya sampai tidak bisa terkendali karena melihat luka yang terlihat ada di kaki.


Jika di pikir dengan logika, Bela diri Kris hanya berbeda sebelas dua belas dengan Elfa dan Rena. Mereka selalu bersama-sama berlatih bela diri dengan guru dan pembimbing yang sama. Seharusnya dia bisa melawan jika suami yang akan menyiksa, apalagi Dokter Yohan Carmett tidak memiliki latar belakang bela diri.


"Cepat keluar, El mau memeriksa Kris. Apakah luka itu sampai di badan atau tidak?"


"Baiklah, ayo kita ke luar, Dwi!"


"Baik, Tuan."


Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra melangkah sampai di pintu, Elfa kembali berteriak, "Akak, panggil tim dokter ke sini sekarang!"


"Siap, Akak ke sana sekarang."


"Rey, cepat buka bajunya!"


Sambil mengusap air mata, Rena membuka buah baju hamil milik Kris satu persatu. Di depan tidak ada satu luka sedikit pun di lihat dari dada sampai perut bagian bawah. Hanya ada bercak merah yang kemungkinan bekas di gigit nyamuk atau serangga.


"El, ayo kita miringkan badan Kris, kita lihat punggung dia!"


"Ayo, jangan lupa tarik sedikit bajunya agar terlihat dengan jelas!"


"Iya sudah."


Mata Elfa dan Rena terbelalak sempurna melihat ada banyak bekas luka di punggung. Luka berbentuk kecil memanjng seperti bekas sabetan. Jika diperhatikan luka yang berasal dari sabetan ikat pinggang atau benda yang panjang dan kecil.

__ADS_1


Luka itu ada yang masih basah atau baru. Ada juga yang sudah mulai mengering dan berwarna hitam. Hanya melihat saja bisa merasakan betapa luka itu perih dan sangat sakit.


"Brengsek ...!" kembali Rena mengucap kata kasar sambil meninju angin.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Rey!"


"Iya, rasanya Rey ingin berlari ke resort itu dan menghajar dokter brengsek itu!" teriaknya.


"Jangan, kalau hanya di hajar. pasti dokter yang tidak punya otak itu pasti akan senang mendapat perhatian El."


"El benar juga, kita harus bisa memberikan pelajaran yang berat untuk laki-laki itu."


Pintu diketuk dari luar, Elfa dan Rena bergegas membetulkan baju hamil Kris yang tersingkap. Mengembalikan posisi Kris yang tadi miring kembali terlentang dan di selimuti sampai dada, "Masuk!" teriak Elfa dan Rena bersamaan.


"Sayang, tim dokter sudah siap memeriksa Kris."


"Terima kasih, Akak. Sebaiknya Akak tunggu di luar dulu atau nobar lagi."


"Iya, Akak ke luar dulu, El yang sabar ya."


"Hhmm."


Elfa duduk di samping kepala Kris sambil termenung. Memikirkan hal yang hampir tidak masuk di akal melihat keadaan Kris. Seolah tidak percaya dengan nasib Kris yang tidak seberuntung dirinya dan Rena.


Gadis tangguh pantang menyerah dalam berjuang hidup. Selalu berjuang dan terus berjuang kini berakhir seolah tanpa daya menghadapi takdir. Hanya Kris yang selalu tidak beruntung dengan yang namanya cinta.


Elfa terus memikirkan cara agar bisa memberikan pelajaran yang bisa membuat dokter yang dulu pernah mengejarnya itu jera. Ingin laki-laki itu mendapatkan balasan yang setimpal dengan cara sendiri. Tidak ingin melibatkan polisi atau pihak mana pun juga.


"El ...!" panggil Rena setelah tim dokter selesai memeriksa Kris.


Elfa kaget dan tersentak dan tersadar dari lamunan, "Eee ya ada apa?"


"Dokter sudah selesai memeriksa Kris."


Dokter Emy mendekati Elfa sambil memegang rekam medis yang baru saja dilakukan, "Bagimana keadaan dia, Dok?"


"Pasien hanya kami periksa secara fisik terlebih dahulu karena belum tersadar, Nyonya El."


"Ooo tidak apa-apa, Dok. Katakan bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


Dokter Emy melaporkan tentang bayi dalam kandung sehat dari hasil mendengarkan detak jantungnya yang kuat. Jika diukur dari lingkar perut Kris kemungkinan umur kandungan sudah lima bulan atau bahkan mendekati enam bulan. Karena badan Kris yang tinggi dan lebar di pinggang kehamilan tidak terlihat besar walau umur kandungan sudah banyak.


Jika dilihat dari luka yang ada di kaki, tangan dan punggung tidak hanya terjadi satu atau dua kali saja. Kemungkinan sudah berlangsung lama bahkan lebih dari umur kandungan. Kemungkinan pasien selalu menjaga perutnya dan membiarkan bagian yang lain terluka karena tidak melihat luka satu pun di badan bagian depan.


Dari pengamatan luka yang dialami, tidak hanya menggunakan benda tumpul saja media yang digunakan untuk melukai badan Kris. Ada juga bekas tangan atau kaki karena ada bekas memar di kaki bagian atas atau lengan atas bagian belakang. Ada bekas merah dan darah beku yang menggumpal bekas tamaran atau tendangan.


Yang membuat Dokter Emy heran adalah fisik Kris yang tetap fit walau ada bekas siksaan badan. Tubuhnya tetap gemuk dan bisa dipastikan dia bisa makan dan memenuhi nutrisi bayi yang ada dalam kandungan. Daya tahan tubuh Kris tetap terjaga walau banyak siksaan yang dialami.


"Secara mental saya belum bisa menganalisa atau mengopservasi, Nyonya." kata Dokter Emy setelah selesai membacakan laporan.


"Tidak apa-apa, Dok. Nanti setelah Kris sadar akan El panggil lagi, terima kasih."


"Baik kami permisi."


Setelah tim dokter ke luar kamar tamu, Rena kembali menutup pintu. Melihat Elfa menarik napas panjang sambil memandang wajah Kris yang masih terlelap. Berkali-kali mengusap pipi Kris yang terlihat kusam dan tidak terawat.


"Dia hanya melindungi bayi yang ada dalam kandunagn saja sepertinya, Rey."


"Benar sekali, sekarang apa yang harus kita lakukan, El?"


"El masih bingung, tunggu sebentar ya!"


"Sebaiknya kita bertindak cepat, El. Jangan sampai dokter brengsek itu tahu jika Kris ada di sini!"


Elfa langsung teringat saat pertama kali mengalami peristiwa buruk karena ulah Juan Mahardika. Memilih pergi ke negara musuh untuk bersembunyi agar tidak bisa ditemukan. Masih teringat pepatah mengatakan persembunyian yang paling aman adalah rumah musuh.


Jika memang laki-laki itu hanya memanfaatkan Kris pasti tidak akan mencari. Namun, jika menyadari memiliki keturunan yang belum lahir di rahim Kris. Pasti dokter urologi itu akan mencari di mana pun Kris berada.


"Rey, kamu tunggu di sini, El akan menemui Akak JM dulu!"


"Ok, iya jangan lama-lama."


Elfa hanya berteriak dari pintu kamar tamu saja, "Akak. siapkan pesawat, kita berangkat ke Australia sekarang!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir ke novel teman yang rekomen ini yok


__ADS_1


__ADS_2