
Elfa dan Juan Mahardika berlari sambil berkejaran menuju rumah Pakde Sarto. Menduga Dokter Yohan Charnett yang datang untuk mencari Elfa. Emosi mulai menguasai pikiran karena baru saja membahas laki-laki yang berperofesi sebagai dokter itu.
Yang pertama kali sampai dan masuk rumah adalah Elfa. Juan Mahardika mengikuti dari belakang sambil melihat sekitar ruang tamu. Sayangnya, tidak ada satu orang pun di ruang tamu, yang ada hanya suara berisik di teras rumah.
Satu persatu memeluk tamu yang baru saja datang. Juan Mahardika hanya melihat penampilan tamu itu dari belakang. Terlihat memakai baju koko, songkok dan sarung dengan rapi. Tidak mungkin tamu itu adalah Dokter Yohan Charnett karena laki-laki itu berkeyakinan berbeda, keyakinan dia seperti Daddy Hans Mahardika.
Juan sempat berpikir jika laki-laki saingan beratnya itu sudah berpindah keyakinan. Hanya demi bisa mendapatkan gadis idaman. Hati mulai merasa cemburu dan emosi dan ingin rasanya menghajar dia sampai babak belur.
Elfa langsung berlari mendekati tamu sambil berteriak, "Opa ...!"
"Cucu kesayangan OPa, Alhamdulillah akhirnya harapan Almarhumah Oma Anna akan terwujud sekarang." Abi Ali langsung memeluk Elfa dengan erat.
Juan Mahardika langsung menghentikan langkah dan mengambil napas lega. Yang datang ternyata bukan Dokter Yohan Charnett melainkan ayah kandung dari Papi Alfarizi. Laki-laki berwajah arab dengan badan tinggi besar walau sudah terlihat menua.
Abi Ali melepas pelukan Elfa setelah melihat Juan Mahardika yang berdiri terpaku sambil tersenyum, "Apa dia calon suami kamu, El?"
"Iya, Opa. Perkenalkan dia Akak Juan Mahardika. Akak beliau ini Opa Ali datang dari Riyadh Arab Saudi."
"Assalamualaikum, Opa. Perkenalkan nama saya Juan." Juan Mahardika langsung meraih dan mencium punggung tangan Abi Ali dengan hormat.
"Walaikum salam, apa kabar?"
"Alhamdulillah, Sehat."
"Mengapa Opa tidak mengabari El kalau mau ke sini, El bisa jemput Opa di bandara?"
__ADS_1
"Opa dijemput Asisten Surya, tidak boleh dong calon pengantin jalan-jalan."
"Mengapa Opa ke sini sendirian?"
"Yang lain pada sibuk, Opa tidak mungkin akan melewatkan pernikahan El."
"Ayo Opa istirahat dulu pasti capek setelah perjalanan jauh!"
"Opa tidak capek, Opa ingin berbincang dengan calon cucu menantu."
"Mari silahkan duduk, Opa!" ajak Juan Mahardika setelah mereka sampai di ruang tamu.
Berbincang di ruang tamu bersama seluruh keluarga besar. Bercerita rencana pernikahan dan bercerita tentang bisnis. Pertemuan Daddy Hans, Abi Ali dan Papi Alfarizi seolah klop saat berbincang tentang bisnis.
Pukul tujuh pagi di hari H pernikahan, Elfa mulai berdandan dengan dibantu perias pengantin yang didatangkan dari Solo teman Bude Marmi. Memakai rancangan baju kebaya Mami Mitha untuk akad nikah dengan warna putih tulang. Senada setelan jas Juan Mahardika juga rancangan Mami Mitha.
Elfa banyak termenung saat perias pengantin sedang merias wajahnya. Teringat dulu saat menyamar menjadi seorang perias untuk menolong gadis yang akan dinikahi sirri. Tidak menyangka laki-laki itu yang kini menjadi jodohnya.
Pukul sembilan pagi seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu dengan duduk lesehan. Penghulu dan wakilnya sudah datang dan duduk di tempatnya. Masih memeriksa dan mencocokkan data pengantin dan para saksi nikah.
Kebencian yang dirasakan kini mulai mencair walau masih ada bekas luka tersisa di sana. Menerima takdir yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa. Selalu dihujani dengan cinta yang tidak terbatas hati siapa yang tidak luluh.
Walau ada Mami Mitha dan Mommy Vera yang menemani Elfa saat berdandan. Seolah Elfa sedang berada di dunianya sendiri. Teringat masa lalu untuk dijadikan pelajaran hidup, dan mencoba menata hati untuk masa depan.
Mas kawin sudah dipersiapkan oleh Mommy Vera yang dibawa dari Australia. Juan Mahardika saja tidak mengetahui jumlah perhiasan yang akan dipakai sebagai mas kawin. Juan Mahardika lebih fokus dengan hafalan surah Ar Rahman yang akan dilantunkan sebelum akad nikah.
__ADS_1
Awalnya Alfian Alfarizi meminta hafalan surah Ar Rahman sebagai mahar. Namun, Abi Ali menyarankan perhiasan sebagai mas kawin. Sedangkan hafalan surah Ar Rahman akan di bacakan sesaat sebelum akad nikah saja.
Elfa keluar kamar dengan mengenakan kebaya modern, diapit oleh Mami Mitha dan Teteh Rania. Ketiganya memakai kebaya kembar dengan warna senada. Semua terlihat cantik dan anggun walau make-up hanya sederhana tetapi terlihat sangat cantik dan anggun.
Yang awalnya Juan Mahardika berdegup kencang karena nervous sebentar lagi akan menghafal syarat yang harus dilakukan dari Alfian Alfarizi. Kini terpana melihat kecantikan Elfa yang memakai kebaya. Ada bidadari yang langsung turun dari kayangan yang tercipta khusus untuk hati yang mencinta.
Sampai Elfa duduk di sebelahnya, Juan Mahardika masih terpana. Matanya seolah enggan berkedip terus memandang dengan penuh cinta. Dulu saat wisuda juga berdandan cantik, tetapi sekarang ini cantiknya paripurna.
Acara dimulai dengan pembukaan dan pembacaaan kalam ilahi dan dibacakan langsung oleh Pakde Sarto. Dilanjutkan dengan sekali lagi pengecekan data. Juan Mahardika memantapkan hati untuk bersiap menghafal Surah Ar Rahman. Sudah beberapa hari ini menghafal dengan sepenuh hati dan berhasil setalah diniatkan menghafal karena Allah SWT.
Memang benar nasehat Pakde Sarto kemarin, saat menghafal karena diniatkan hanya mencari ridho yng maha kuasa. Semua dimudahkan dan lancar tepat pada waktunya. Yang awalnya bingung karena ayat yang banyak diulang, ternyata setelah ikhlas menghafal dengan cepat dan diuntungkan dengan adanya ayat yang sama.
Sekarang tiba saatnya tugas pengantin pria untuk membuktikan kepada abang ipar tentang kesungguhan hati, "Pengantin Pria, apakah Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu mengagetkan Juan Mahardika.
"Insyaallah siap."
"Baik, silahkan di mulai!"
Juan Mahardika mengambil napas perlahan, menghembuskan perlaan sambil memejamkan mata sejenak. Membuka mata dan membaca ta'awuz dan basmalah sebagai pembuka. Dengan wajah tertunduk surah Ar Rahman berhasil dihafal dengan lancar tanpa tersendat.
Elfa ikut tertunduk dengan mulut komat-kamit. Surah yang sarat makna itu juga hafal diluar kepala. Dari kecil sering menghafal itu sambil bermain dengan Almarhumah Umi Anna dan Abi Ali. Hati Elfa juga ikut tegang mendengar suara Juan Mahardika yang terus melantunkan ayat dari awal surah Ar Rahman sampai akhir.
Setelah diakhiri dengan bacaan Iftitam oleh Juan Mahardika dan bacaan hamdalah dari semua keluarga yang hadir. Termasuk Elfa berucap syukur berkali-kali. Seolah suasana langsung mencair bersamaan dengan berakhirnya lantunan surah Ar Rahman.
"Bagaimana, bisa kita teruskan dengan acara selanjutnya? Saya tahu bacaan Surah Ar Rahman ini permintaan dari abang pengantin wanita. Bang Alfian, apakah bisa dilanjutkan akad nikah sekarang?" tanya Pak Penghulu.
__ADS_1