
Elfa langsung menengok arah datangnya Juan Mahardika. Masih ada kerikil yang dipegang. Tangan diangkat ingin melempar kerikil itu karena kesal, "Garoku Garwoku, mau El timpuk pakai kerikil!"
"Galak banget sih." Juan Mahardika duduk disamping Elfa sambil memandang Elfa yang habis menangis.
Juan duduk berhadapan dengan Elfa yang melempar kerikil ke arah air sungai. Diraih kedua tangan Elfa dan digenggam dengan erat, "Akak mau ngomong serius."
Elfa terdiam dan memandang wajah Juan Mahardika dengan pandangan mata yang tidak bisa diartikan. Tidak juga menarik tangan seperti biasa selalu menolak dengan ucapan yang jutek.
"Akak JM minta maaf atas semua yang Akak lakukan dulu, Akak sangat menyesal, Mohon ampuni Akak!"
Elfa masih terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Mulut seolah kelu mendengar laki-laki yang dulu angkuh dan terlihat sombong. Sekarang ini meminta ampunan dengan penyesalan yang dalam dan dilihat di sorot matanya terlihat jujur dan tidak ada kebohongan.
"Akak tidak tahu yang terjadi setelah kejadian waktu itu, Akak sama sekali tidak bisa lagi beraksi sampai sekarang. Pusaka Akak baru bisa terbangun lagi setelah bertemu dengan El."
Elfa kaget dan membelalakkan mata, tidak menyangka hypnoterapi yang dulu dilakukan ternyata berhasil. Kemarin hanya menebak dan hampir tidak percaya dengan kemapuan sendiri. Pasalnya dulu masih sering mendapat kabar jika setelah kejadian itu masih saja bersenang-senang.
"Awalnya Akak marah dan bingung, tetapi sekarang Akak sangat bersyukur setelah peristiwa itu."
"Mengapa bersyukur?"
"Karena Akak tidak bisa lagi menikmati indahnya wanita, dulu Akak frustasi sekarang ini Akak sangat mensyukuri."
Elfa tersenyum teringat apa yang dilakukan saat itu, walau ada perkataan yang berbalik arah pada diri sendiri. Seharusnya dulu tidak mengatakan akan terbangun setelah bertemu. Namun, semua sudah terjadi dan tidak bisa di rubah lagi.
"Akak sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi setelah Akak terlelap waktu itu, bahkan Akak tidak tahu kapan El keluar dari kamar."
Elfa tidak bisa menahan tawa lagi setelah Juan Mahardika bercerita masih bingung yang terjadi dengan pusaka kebesaran. Elfa langsung tertawa terbahak-bahak sambil memalingkan wajah.
"Eee mengapa El tertawa begitu, berarti El tahu apa yang terjadi saat itu?"
Efa terus tertawa terbahak-bahak sambil menmgangguk. Ada rasa kasihan dan merasa bersalah, tetapi tidak bisa menahan tawa. Padahal dulu hanya iseng dan tidak menyangka akan berhasil sampai sejauh itu.
__ADS_1
"Ayo cerita dong, Akak ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi!"
"Baiklah, tetapi Akak jangan marah ya?"
"Tentu, jusru Akak merasa bersyukur dan berterima kasih."
Pertama Elfa bercerita tentang ilmu hynoterapi yang dipelajari saat kuliah dulu. Ilmu yang dipelajari sering digunakan untuk membantu pasien depresi yang berobat di rumah sakit Aljuzeka. Menggunakan ilmu itu untuk menghipnotis pusaka yng saat itu masih terlihat tanpa ditutupi dengan selimut.
Sebenarnya hanya spontan saja saat melakukan itu. Hanya karena sakit hati telah direnggut kehormatan dengan paksa. Yang lebih parah lagi saat itu tidak merasa bersalah sama sekali.
Tidak menyangka hypnoterapi itu berhasil dengan baik. Karena saat itu yang di hypnoterapi dalam keadaan terlelap. Biasanya melakukan itu pada pasian dalam keadaan sadar hanya diminta untuk memejamkan mata.
Elfa juga bercerita melakukan sedikit kesalahan yang berbalik pada dirinya sendiri. Saat itu mengatakan sampai bertemu dengan dirinya terapi itu baru terlepas. Sekarang ini baru menyadari semua ada hubungan dengan yang dilakukan dulu.
"Terima kasih, Alhamdulillah. Akak sangat bersyukur mencintai El sekarang ini."
Elfa terdiam saat Juan Mahardika kembali menyatakan cinta. Rasa ragu itu tiba-tiba datang kembali tanpa disadari. Masih belum bisa meyakinkan hati walau berkali-kali memahami mungkin semua jalan dan takdir ilahi.
"El masih ragu."
"Apa yang membuat El ragu, biar Akak berusaha lebih keras lagi agar Akak layak untuk El?"
"Banyak, salah satunya karena masa lalu Akak."
Juan Mahardika mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan perlahaan. Kembali menggenggam dua tangan Elfa yang tadi sempat terlepas. Dikecupnya perlahan punggung tangan dengan penuh cinta.
"Itu hanya masa lalu, Akak memang tidak bisa mengubah masa lalu yang kelam itu, tetapi percayalah pada cinta ini. Akak tidak akan mengulangi lagi, ingat kata Pakde Sarto, sebaik-baik hamba yang bersalah adalah yang bisa menyadari kesalahan dan bertobat tidak akan mengulangi lagi."
"Bertobatnya dengan ikhlas atau demi El?"
"Awalnya demi El, tetapi setelah belajar dengan Pakde Sarto, Akak mulai mengubah diri karena semata demi Sang Maha Pencipta. Pakde Sarto pernah mengatakan lakukanlah semua dengan ikhlas dan hanya karena Allah, pasti Allah akan mengabulkan semua harapan kita."
__ADS_1
Elfa menjadi teringat nasihat Almarhumah Nenek Ani saat masih SMP. Di dunia ini ilmu yang paling sulit adalah ilmu ihklas. Mudah diucapkan, tetapi sangat sulit diterapkan dalam kehidupan.
"Ampuni Akak ya, El. Please tolong ampuni Akak!"
"Terus-terang, El masih sakit hati teringat peristiwa itu."
"Akak tahu itu sangat menyakitkan, Akak melakukan itu dengan menambah obat dengan dosis tiga kali libat karena Akak pernah gagal tiga kali."
"Helo, itu bukan salah, El. Tuan!" teriak Elfa.
"Iya, sekarang Akak menyadari semua itu bukan salah El. Apakah El belum bisa memaafkan Akak?"
Elfa menggelengkan kepala dengan ragu. Namun, harus jujur dan sesuai apa yang dirasakan saat ini. Masih ada sakit hati dan amarah yang ada di sudut hatinya yang paling dalam.
"Apa yang harus Akak lakukan agar Akak bisa mendapatkan ampunan dari El, Jika berdosa kepada yang maha pencipta harus bertobat dan mohon ampun kepada Nya. Ini Akak berdosa pada El, Akak tidak akan menyerah sampai El memaafkan Akak."
Elfa hanya menggelengkan kepala, tidak tahu jawaban yang di tanyakan oleh Juan Mahardika. Belum ada rasa ikhlas dan rela sampai sekarang. Masih sulit menerapkan ilmu ikhlas dalam hatinya.
"Akak akan mengganti setiap detiknya rasa sakit hati El dengan cinta yang tulus, tolong berikan waktu dan kesempatan untuk bisa mewujudkan itu."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan cara kita menikah."
Apa hubungannya dengan menikah?"
"Karena jika kita menikah setiap detik kita akan bersama, Akak akan membuat El bahagia dan akan melupakan sakit hati itu sedikit demi sedikit. berkorban harta benda, kekayakan, waktu, bahkan jiwa raga Akak siap. "
Elfa masih terdiam dan termenung teringat permintaan Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Selama ini tidak pernah memikirkan tentang pernikahan. Bahkan, setelah peristiwa masa lalu terjadi berniat tidak ingin menikah selamanya.
Karena tidak juga dijawab oleh Elfa, Juan mahardika turun dari batu dan berjongkok di bawah, "Garwoku, will you merry me?"
__ADS_1