Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 100. Lingerie Merah


__ADS_3

Sebelum Sherly Crash melantur lebih jauh lagi. Asisten Dwi Saputra dibantu security hotel menarik wanita model majalah dewasa itu keluar acara resepsi. Tidak ingin mulutnya melantur berkata yang bukan-bukan.


Publik sudah tahu siapa ayah biologis dari bayi yang dikandung oleh Sherly Crash. Model laki-laki dewasa asli Indonesia. Dulu pernah dikabarkan mereka tnggal satu rumah tanpa ikatan pernikahan.


Sekarang tidak ada yang tahu bagaimana kabar hubungan model itu dengan ayah biologis bayi. Semenjak hamil, tidak banyak job yang datang pada Sherly Crash. Tidak banyak wartawan meliput kegiatan wanita yang tinggal menunggu hari kelahiran.


Setelah pukul sembilan malam dan Sherly Crash berhasil diamankan. Para tamu yang hadir berdansa berpasangan dengan pasangan masing-masing. Lagu yang sendu mengiringi syahdunya dua insan yang sedang jatuh cinta.


Pasangan kekasih baru Sheilla Jannes dan Atheer Ahmed juga ikut berdansa sambil berpelukan. Tidak menyangka laki-laki yang dulu cinta mati dengan Elfa. Kini sudah bisa move on dalam pelukan sahabat Elfa.


Hanya setengah jam saja sesi dansa dengan musik sendu. Yang seharusnya dansa berganti pasangan Juan Mahardika tidak melepas Elfa untuk bergantian dansa. Bahkan, saudara atau orang tuanya sendiri pun juga tidak diizinkan.


Banyak yang protes karena Juan Mahardika tidak mau melepas istrinya untuk berdansa dengan orang lain. Termasuk adik kadungnya sendiri Jasmine Mahardika yang kesal. Tetap saja tidak satupun orang bolehmmenyentuh sang istri tercinta.


Belum sempat selesai acara, Papi Alfarizi dan Mami Mitha izin beristirihat. Pada waktu terakhir acara hanya untuk keluarga bersenang-senang. Sebagian besar satu per satu keluarga berpamitan untuk beristirahat masuk kamar hotel.


"Apakah El capek?" tanya Juan Mahardika setelah sebagian besar keluarga sudah berpamitan.


"Tidak sih, sudah selesai kah acaranya?"


"Ini tinggal yang mau bersenang-senang saja, yok kita masuk kamar?"


Elfa hanya tersenyum devil, pikirannya langsung membayangkan hal yang dilakukan terakhir. Walau mulai menghilang rasa takut itu sedikit demi sedikit. Namun, masih saja ada sesuatu yang mengganjal di hati.


"Ayo dong, Sayang. kita beristirahat!"


"Tunggu sebentar lagi, tidak enak sama Dad dan Mom."


Juan Mahardika melirik Mommy Vera dan Daddy Hans sedang berbincang dengan rekan bisnis sambil bercanda. Terlihat mereka menikmati minuman beralkohol. Sudah terbiasa bagi pesta pernikahan akan menikmati minuman yang mengandung alkohol untuk mengusir cuaca dingin.


"Mom juga minum itu, Kak?" tanya Elfa heran.


"Di sini sudah biasa, Sayang. Maka itu ayo kita tinggalkan tempat ini!"


"Tunggu dulu, apakah Mom nanti mabuk juga kah, AKak?"


"Tidak, ayo dong kita masuk saja!"


"Iya, baik ayo."


Dengan tersenyum Juan Mahardika menggandeng Elfa pamit untuk beristirahat. Kamar sweet room khusus untuk pengantin baru. Kamar hotel pribadi milik Juan Mahardika yang diihias dengan sangat mewah.


"Selamat datang, ini kamar pribadi milik Akak."


"Ini milik Akak sendiri?"

__ADS_1


"Iya, tetapi Akak jarang ke sini."


Kenapa?"


"Sering di kejar wartawan, Akak malas."


Elfa duduk kursi di depan meja rias, sambil melihat sekitar kamar yang sangat mewah. Bingung dan tidak menyangka memiliki kamar khusus di hotel. Memang salahnya sendiri tidak pernah tanya tentang harta dan kekayaan milik suami.


"Kenapa melamun, ayo ganti baju!"


"Di mana baju El?"


"Itu satu lemari." Juan Mahardika menunjuk lemari yang ada di pojok kamar hotel.


"Mau Akak bantuin?"


"Bantuin apa?"


"Buka baju dong."


Elfa mengerucutkan bibirnya, wajah jadi memerah karena masih malu belum terbiasa membahas hal yang pribadi. Dipandang saja sudah salah tingkah sendiri apalagi dengan sengaja membantu berganti baju. Terkadang masih teringat saat dulu selalu jutek dan berbicara dengan jujur walau terdengar menyakitkan.


"Tidak usah, El bisa sendiri."


"Akak, siapa yang menyiapkan baju di sini, kok tidak sama seperti yang di kamar yang ada di rumah Mom?"


"Khusus yang di sini Mom yang menyiapkan, jika yang di rumah Mom sana, atas rekomendasi Akak. Apakah beda?"


"Ini semua lingerie yang transparan, El tidak suka."


Juan Mahardika mendekati Elfa dan memeluknya dari belakang, "Pakai saja, ibadah lo menyenangkan suami." Berkali-kali mencium tengkuk dan leher Elfa dengan lembut.


"Akak, El bau."


"Tidak kok masih harum." Sekarang Juan membantu menurunkan kancing berjalan perlahan.


"Akak, El mau mandi dulu," Elfa mencoba untuk menghindar.


"Mau mandi berdua?"


"Malu dong, Akak iiih!"


Juan Mahardika membalikkan badan Elfa sampai berhadapan. Memandang dengan penuh cinta dan tersenyum simpul. Suasana seketika berubah menjadi romantis.


"El mau ganti baju, awas Akak!"

__ADS_1


"Akak pilihin bajunya, boleh?"


Elfa hanya menganggguk saja, ingin mulai menerima mulai sekecil apapun tentang suami. Semangat Juan Mahardika semakin besar saat Elfa menunggu dengan penuh harap. Seolah berharap sesuai dengan harapan dan selera.


"Pakai ini mau, Sayang?"


Elfa melihat lingerie panjang sampai mata kaki tetapi tanpa lengan. Dada terlihat tertutup tetapi punggung terbuka. Walau transparan tetapi masih terlihat tertutup dengan beberapa hiasan renda.


"El ganti di kamar mandi ya, Kak?"


"Di sini saja, Akak akan menutup mata."


"Jangan mengintip ya?"


"Lihatlah, Akak tutup dengan dua tangan."


"Awas kalau Akak mengintip ya!"


Elfa berganti baju sambil melihat Juan Mahardika yang menutup mata dengan dua tangan. Bagian dada masih bisa ditutup dengan gaun pengantin saat mengenakan lingerie pilihan suami. dikenakan sangat pas di badan dan terasa nyaman.


"Sudahkah, Sayang?"


"Ya, sekarang boleh buka, Akak!"


Mata Juan Mahardika langsung terbuka lebar melihat Elfa. Terlihat sangat cantik dengan baju lingerie yang slim dan pas di badan. Apalagi warna yang sesuai dengan kulit Elfa yang putih bersih.


Dipandang dengan penuh kekaguman, Elfa menjadi salah tingkah. Rasanya ingin menutup wajahnya sendiri. Ikut melihat ke badannya sendiri takut ada yang aneh dan tidak pantas.


"Subhanallah, cantiknya paripurna, Akak semakin cinta."


"Jangan merayu yang berlebihan, El jadi malu."


Kembali Juan Mahardika mendekati dan memeluk Elfa dari depan, "Akak tidak merayu, di antara semua gaun yang dipakai El, inilah yang paling sempurna."


"Betulkah?"


"Iya, Akak sangat menyukai El pakai ini." Juan Mahardika mulai mencium bibir dengan lambut.


Kali ini Elfa berusaha membalas aksi suami. Walau masih terasa cangggung, tetapi paling tidak sudah berusaha. Terkadang menirukan apa yang dilakukan suami walau terasa kaku.


Tanpa ada kata, Juan Mahardika berpindah ke bawah beraksi tanpa melepas tautan tangan di pinggang. Leher jenjang yang terbuka dengan mudah Juan Mahardika beraksi di sana. Bergerilya dan menelusuri disetiap inci tanpa ada yang terlewat.


Dengan ragu-ragu, aksi Juan berpindah ke bawah dan bermain perlahan. Sengaja ingin memberikan kesempatan jika sang istri masih merasa takut. Ternyata sampai bermain sesaat di gundukan kembar, Elfa tetap menikmati.


"Akak bisa lanjut, Sayang?"

__ADS_1


__ADS_2