
Juan Mahardika berkali-kali menyuapkan nasi liwet ditambah dengan urap dan empal daging, "Waow, rasanya enak sekali."
"Nasinya atau empal dagingnya yang enak, Akak?"
"Nasinya gurih dan ada asin-asinnya, dari mana rasa asin ini?"
Elfa melihat ada campuran ikan teri asin di nasi liwet yang dihidangkan, "Itu dari ikan asin teri, Akak?"
"Apa itu ikan asin, coba Akak lihat seperti apa bentuknya?"
Elfa mengambil satu ikan teri yang ada dihadapannya, "Ini namanya ikan asin teri, Coba Akak makan!"
Juan Mahardika tergelak melihat ikan yang besarnya setengah dari jari kelingkingnya. Diputar dan diperhatikan dengan seksama ikan kecil yang cenderung berwarna coklat kehitaman. Batu kali ini melihat dan merasakan ikan yang rasanya asin, "Kecil banget sih, apa tidak kasihan masih kecil begini sudah diambil dari laut?"
Elfa ikut tergelak, bukan menertawakan bentuk ikan teri, tetapi menertawakan sang suami yang heran, "Dimakan saja dulu baru komentar, kecil-kecil begitu tetapi rasanya enak lo!"
"Benarkah?" Juan Mahardika memasukkan satu ikan teri ke dalam mulutnya.
"Gimana rasanya?"
"Asin sih, tetapi enak. Akak mau lagi dong!"
Elfa memilih dan mengambil ikan asin teri dengan menggunakan sendok. Dari dua nasi yang ada di depannya, langsung dipindah di depan Juan mahardika, "Sudah banyak silahkan di makan, Akak!"
"Terima kasih." Juan Mahardika makan ikan asin teri tanpa menggunakan nasi atau tambahan yang lain.
"Mengapa dimakan tanpa nasi, Akak?"
"Enak, Sayang. Akak suka."
"Kalau hanya makan ikan asin teri saja, kapan Akak kenyangnya?"
Juan Mahardika tergelak dan terus menikmati ikan asin teri satu per satu. Rasa sensasi asin dan gurih membuat Juan Maharika tidak berhenti mengunyah. Dari empat menu nasi yang berjajar di depannya dan di depan Elfa sudah tidak ada ikan asin lagi.
"Iya, sudah mengambil empat menu di nasi, Akak belum merasa apa-apa. Masih lapar."
"Mungkin sampai satu kilo ikan asin baru kenyang, Akak. Eee bukannya kenyang yang ada nanti Akak hipertensi."
Kembali Juan Mahardika tergelak, "Enak sekali, Sayang. Akak boleh minta lagi?"
__ADS_1
Tim dokter dan karyawan yang ikut makan bersama menganggap Juan Mhardika sedang ngidam. Mereka ramai-rami mengumpulkan ikan asin teri yang ada di nasi yang belum sempat dinikmati, Anda sedang ngidam ikan asin teri ya, Tuan?" tanya Manager.
"Tidak tahu juga sih," jawab Juan Mahardika.
"Ini kami mengumpulkan ikan asin dari nasi yang belum sempat di makan. Silakan di nikmati, Tuan!" Dokter Emy juga antusias membantu mengumpulkan ikan asin teri.
"Waaah banyak sekali, terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Elfa sampai membulatkan matanya, ada hampir satu piring ikan asin teri terkumpul d depan Juan Mahardika, "Akak, nanti kalau hipertensi gimana?"
"Tidak mungkin dong, Sayang. Akak baru pertama kali makan ikan mini ini."
Elfa hanya menggelengkan kepala saja melihat suami yang menikmati ikan asin teri dengan lahap. Tidak bisa membayangkan betapa asinnya rasa ikan itu. Namun, seolah Juan Mahardika tidak merasakan asin sama sekali seperti sedang menikmati makan steak kesuakaan.
Elfa menikmati nasi liwet komplit dengan urap, tempe dan tahu bacem ditambah empal daging. Membiarkan sang suami makan hanya ikan asin saja. Lidah yang biasanya western sekarang menjadi lidah nusantara.
"Tuan Juan sedang ngidam ikan asin, Nyonya." Dokter Emy ikut menggelengkan kepala melihat Juan Mahardika makan ikan asin seperti makan kerupuk saja.
"Iya, Dok. Aneh sekali, dia jarang sekali makan masakan nusantara."
"Sayang, Akak minta minum, lama-lama mulut Akak terasa pahit," kata Juan Mahardika setelah menghabiskan ikan asin teri yang ada di depannya.
"Jelas aja pahit, ikan asin segitu banyaknya dimakan semua. Ini minum air putih yang banyak!"
"Enak sekali, Sayang. Sini minumnya terima kasih."
Satu botol air mineral berukuran sedang habis ditenggak tanpa sisa. Rasa asin mendekati pahit langsung hilang seketika. Perut tidak terlalu kenyang awalnya, tetapi setelah minum menjadi kenyang.
"Sudah kenyang, Kak?"
"Tadi sih tidak kenyang, tetapi setelah minum sekarang baru terasa kenyang."
"Mau makan apa lagi?"
"Buah saja."
"Semangka atau nanas?"
__ADS_1
"Nanas saja, sepertinya lebih segar nanas daripada semangka."
Elfa hanya tersenyum melihat Suami menikmati nanas yang sedikit asam. Melihat saja rasanya gigi terasa ngilu. Namun, Juan Mahardika sangat menikmati nanas dengan santai.
"Tidak asam, Akak?"
"Manis kok, Sayang. Mau Akak suapin?"
"Tidak, tadi El sudah coba satu rasanya asam, El tidak suka."
"Ya sudah, El makan semangka saja, nanas Akak yang habiskan."
"Iya, habiskan saja."
Pukul tiga sore waktu Indonesia Tengah, rombongan kembali ke hotel. Dalam perjalanan di dalam mobil, Juan Mahardika memeluk Elfa dengan erat. Selalu mengusap perut Elfa, mengecup dahi berkali-kali serta mengusap pipinya dengan lembut.
Elfa membuka ponsel dan mencari informasi sekitar kehamilan. Sebab teringat tadi saat menikmati makan siang, banyak yang mengatakan jika yang ngidam suami tercinta. Ingin mengetahui apa penyebab dari kehamilan simpatik.
Belum sempat membaca penyebab kehamilan simpatik. Elfa terfokus dengan artikel seorang dokter kandungan yang ada di media sosial. Artikel yang berisi tentang kehamilan pada trimester pertama yang dialami ibu hamil.
Artikel itu menjelaskan jika seorang ibu hamil pada trimester pertama sebaiknya mengurangi hubungan beraksi dengan pasangan. Akan ada resiko yang tidak baik jika seorang ibu hamil yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Akan beresiko yang fatal jika pasangan suami istri tidak hati-hati.
Elfa membaca sambil melirik suami yang mulai mengantuk. Membayangkan jika dilarang atau harus mengurangi beraksi. Mungkinkah akan sangggup dan bisa menahan diri.
Setiap kejadian dan peristiwa penting, pasti akan ada resiko yang menyertai. Tergantung bagaimana kita menyingkapinya. Yang terpenting hati-hati dan selalu menjaga diri dan membentengi dengan iman yang kuat.
Terus membaca artikel yang ditulis oleh dokter kandungan. Mulai dari saran minum susu hamil, senam hamil sampai makanan yang disarankan untuk ibu hamil. Makanan sehat, buah dan gizi yang seimbang akan banyak mempengaruhi kesehatan janin yang ada di kandungan.
Dalam artikel terakhir yang dibaca Elfa. Dokter kandungan itu mengulang mengingatkan lagi tentang rawannya ibu hamil di trimester pertama. Tiga bulan awal perkembangan janin akan sangat nenentukan.
Elfa membetulkan duduknya saat Juan Mahardika mulai tertidur pulas. Perjalanan belum ada setengah perjalanan. Ingin duduk dan bersandar sendiri agar tidak mengganggu suami yang beristirahat.
Elfa mencoba bergerak perlahan keluar dalam peluka suami. Hanya sayangnya, saat sudah mulai bisa terlepas tangan kekar itu kembali memeluk erat pinggang Elfa, "Mau ke mana, Sayang?"
"Eee kirain Akak tidur, El mau duduk sendiri."
"El baca apa sih?"
"Ini baca sendiri!"
__ADS_1
Yang dibaca Juan Mahardika hanya bagian bawah tentang mengurangi beraksi, "Waduh, mati dong Akak?"