Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 111. Panas di Musim Dingin


__ADS_3

Dengan berat hati, Elfa harus mengikuti tugas Juan Mahardika selanjutnya menuju ke Eropa timur. Tepatnya di negara Rusia yang terkenal dengan Presiden Vladimir Putin. Ada satu perusahaan di sana yang mengelola kekayaan alam Indonesia terutama dari daerah daratan tinggi yaitu kopi.


Di Rusia, Elfa tidak bisa mengunjungi banyak tempat wisata karena keterbatasan waktu. Hanya bisa dua hari dua malam di sana. Itupun seharian penuh Juan Mahardika harus meeting, dan Elfa tidak diizinkan keluar sendiri takut terjadi seperti di nagara Swiss kemarin.


Juan Mahardika hanya sempat mengajak Elfa ke dua tempat yaitu Kamchatka dan danau Baikal. Kamchatka adalah tempat beruang madu tinggal. Ada sekitar tiga puluh ribu beruang madu yang tinggal di sana.


Yang sangat terkesan bagi Elfa adalah Danau Baikal, danau tertua dan terdalam di dunia. Saat ini di Rusia sedang musim dingin, danau Baikal akan membeku. Dijadikan spot berseluncur karena danau menjadi beku.


Elfa belajar berseluncur ski menggunakan peralatan lengkap, mulai dari sepatu boot khusus ski, alat ski, dan tongkat ski. Sebelum memulai Juan Mahardika membantu Elfa memakai pakaian musim dingin yang tebal.


"Sudah siap, Sayang?"


"Hhmm, El takut kepeleset, Akak."


"Jangan khawatir, Akak pegangin. Ayo melangkah perlahan!"


Perlahan tetapi pasti, Elfa bisa melangkah menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan. Terlihat mudah pada awalnya, yang susah saat menjaga keseimbangan badan. Setiap gerakan Elfa, selalu dijaga agar tidak terjatuh oleh sang suami.


Terkadang tergelak berdua saat menjaga keseimbangan bukan tegak, tetapi keduanya tumbang dan terjatuh sambil berpelukan. Terkadang terbaring di lantai yang sangat dingin, bahkan sampai Juan Mahardika berada di bawah dan Elfa ada di atas.


"Akak, maaf El menimpa Akak!" teriak Elfa sambil tergelak.


"Coba begini di kamar, Akak langsung berlanjut," bisik Juan Mahardika di telinga Elfa.


"Akak ini, ayo bangun!"


Mulai lagi dari awal, sedikit demi sedikit Elfa mulai bisa menjaga keseimbangan dan melunjur dengan bergandengan tangan kanan dan sebelah kiri memegang tongkat. Berjalan perlahan sampai bisa melaju dengan cepat, "Aaaa ... Akak El bisa!" teriaknya dengan riang.


Juan Mahardika mengikuti Elfa dari belakang dan samping secara bergantian dengan meluncur secara zik zak. Awal bisa meluncur belum tentu bisa menjaga keseimbangan saat berbelok. Jika tidak keterusan pasti akan tergelincir dan terjatuh.

__ADS_1


"Akak, tolong!" teriak Elfa saat hampir keterusan sampai pinggir tebing.


Dengan cepat Juan Mahardika meraih tangan Elfa dan dipeluk sambil memutar badan. Sekali berputar dan terus meluncur sambil berpelukan. Tongkat ski yang awalnya dipegang di tangan kiri sudah tergeletak di bawah.


Dengan melebarkan kaki, semakin lama semakin pelan dan berhenti di pinggir danau yang membeku, Sekarang berani sendiri?"


"El mau coba, tetepi Akak ikuti dari belakang ya!"


"Tentu, bersiaplah!"


Elfa bisa meluncur dengan memegang tongkat ski kanan dan kiri. Semakin lama meluncur semakin cepat. Dari kejauhan terlihat ujung danau, Elfa bersiap-siap untuk berbelok. Sambil membuka kaki selebar bahu untuk keseimbangan dan mrngurangi kecepatan, Elfa berhasil berbelok dan kembali ke tempat awal start.


Juan Mahardika langsung mensejajarkan badan meluncur dan memeluk Elfa untuk berhenti. Bermain dalam waktu satu jam, Elfa lancar dan menguasai permainan. Beristirahat duduk di dekat danau sambil menikmati pemandangan alam yang sangat indah.


Berbedaan iklim dan cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia yang saat ini musim hujan. Di Rusia saat malam hari sangat dingin. Suhu sampai mencapai minus derajat, tidak akan tahan jika di suhu luar ruangan.


Di dalam hotel ada pemanas ruangan untuk menghangatkan dari suhu yang dingin. Elfa tidak terbiasa dengan cuaca dingin. Tangannya berkali-kali digogokkan agar terasa hangat.


"Masih, dinginnya seakan sampai tulang."


Sambil menggosok telapak tangan Elfa, berkali-kali Juan Mahardika mengecup bibir Elfa, "Kita olahraga saja sampai pagi biar badan hangat."


Juan mulai bergerilya di bibir dan area dalam. Mengabsen dan menyusuri tempat favorit berkali-kali. Berpindah ke bawah sekitar leher dan memberikan tanda stempel dan kepemilikn.


"Sayang, Akak tarik ke bawah ya?"


"Idih, itu maunya Akak. El malas buka semua dingin."


"Tidak asyik kalau tidak dibuka, Sayang. Rasanya aneh beraksi tidak di buka."

__ADS_1


"Dingin, Akak."


"Nanti Akak panaskan dengan ini," Juan Mahardika memonyongkan bibirnya sambil tersenyum devil dan terus bergerilya.


Tanpa menunggu jawaban Elfa bibir Juan Mahardika sudah menyusuri setiap lekuk yang ada. Memberikan stempel di mana saja, tanda kissmak mendarat tanpa henti. Elfa yang awalnya merasakan cuaca dingin menjadi panas karena aksi suami yang semakin menggila.


Dengan sendirinya Elfa membuang sisa rangkaian benang yang menempel. Di lempar entah ke mana tanpa menyadari. Membuat Juan Mahardika tersenyum dan bersemangat beraksi.


Sampai keduanya dipuncak nirwana bersamaan, suasana menjadi panas membara. Bahkan, keringat bercucuran bersamaan dengan Juan Mahardika yang merebahkan diri disamping Elfa.


"Sudah tidak dingin lagi, 'kan?"


"Hhmm."


"Mau berlanjut?"


"Sabar dong, Akak. jangan di gas gitu, El tidur dulu ya."


Elfa menarik selimut tebal tanpa mengambil baju yang tadi di lempar entah ke mana. Menarik guling dan di peluk membelakangi suami. Bergegas memejamkan mata agar suami tidak mengajak beraksi untuk yang kedua kali.


Juan Mahardika mengangguk dan memeluk Elfa dari belakang. Tidak pernah memaksakan walau sebenarnya ingin melanjutkan ke ronde kedua. Membiarkan sang istri tercinta beristirahat terlebih dahulu, agar tidak kecapean.


Juan Mahardika bergegas ke kamar mandi setelah Elfa terlelap tidur. Ada banyak pekerjaan yang tertunda karena hari ini berwisata berdua. Mengerjakan pekerjaan yang tertunda sambil duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur Elfa.


Hampir dua jam Juan Mahardika berkutat dalam pekerjaan. Menghadap ke arah laptop, memeriksa laporan dokumen penting. Terkadang menghubungi Asisten Dwi Saputra yang ada di kamar sebelah menggunakan pesan WA atau email.


Tanpa diduga ada pesan WA dari seseorang yang tidak di kenal, Profil pesan WA itu kosong tidak ada keterangan atau foto. Terlihat nomor ponsel dengan kode wilayah Indonesia, "Aku tahu kamu sekarang ada salah satu hotel di Rusia, apakah kita bisa bertemu sebentar?" tulis pesan itu tanpa ada nama atau keterangan si pengirim.


Juan Mahardika hanya membaca pesan itu sekilas. Tidak menjawab atau mencari tahu siapa yang mengirim pesan. Masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan sehingga tidak memikirkan sama sekali pesan itu.

__ADS_1


Juan Mahardika mengirim pesan WA kepada Asisten Dwi Saputra untuk mengirim dokumen hasil meeting kemarin. Dengan otomatis pesan WA Juan Mahardika ada keterangan online. Tanpa diduga nomor yang tidak dikenal tadi mengirim pesan kembali, "Aku tahu kamu belum tidur, apakah bisa kita bertemu sebentar di luar hotel?"


"Siapa sih ini, mengganggu saja?" tanya Juan Mahardika pada ponselnya sendiri.


__ADS_2