Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 190. Kontraksi 2


__ADS_3

Alfian Alfarizi berlari mendekati Ambulance dan membuka pintunya dengan cepat. Elfa terlihat cemas mengusap perut Juan Maharika yang sedang mengerang kesakitan, "Ini yang mau melahirkan El atau Juan?"


"Aaaah Abang perut Juan sakit sekali!" teriak Juan Mahardika dengan spontan mencengkeram lengan Alfian Alfarizi.


"Waauw ...!" teriak Alfian Alfarizi.


Sambil nyengir kuda Juan Mahardika menarik tangan dari lengan abang ipar, "Maaf, Bang. Tidak sengaja!"


Walau tangan terasa sakit, Alfian Alfarizi tersenyum simpul saat melihat adik ipar kesakitan.Sudah bisa menebak yang mengalami kontraksi adik ipar saat adik kesayangan akan melahirkan, "Jadi siapa yang mau dibantu turun dari ambulance ini?"


Elfa dan Juan Mahardikaa saling tunjuk. Kekhawatiran keduanya sama. Saling melindungi dan saling menjaga. Tidak ingin pasangan mengalami hal yang tidak diinginkan.


"El saja, Bang. Juan bisa turun sendiri, tetapi tunggu sampai sakitnya menghilang!"


Sekitar lima menit, Juan Mahardika mengatur napas. Dengan mengusap perut Elfa bersamaan dengan mengelus perut sendiri. Sakit kontraksi yang dialami berangsur-angsur menghilang.


Elfa langsung dipindah ke kamar khusus, tidak melalui UGD. Tim dokter yang dipimpin oleh Dokter Atha dan tim dokter Emy bergabung melakukan pemeriksaan. Dilakukan di kamar yang dirancang khusus bersalin di bagan ujung kamar.


Seluruh keluarga menunggu dengan cemas di kamar bagian ruang tamu. Untuk pemeriksaan awal kali ini Juan Mahardika dilarang masuk. Mereka hanya menunggu dengan cemas tanpa banyak berbincang.


Dokter Atha yang pertama ke luar dari ruang bersalin. Tersenyum mendekati Mami Mitha dan Papi Alfarizi. Langusung mencium punggung tangan mereka dengan hikmad dan penuh hormat, "El baik-baik saja, Papi dan Mami jangan khawatir."


"Sudah pembukaan berapa, Nak?" tanya Mami Mitha.


"Baru pembukaan empat, mungkin masih empat atau lima jam lagi baru si baby akan lahir."


"Mengapa tidak dioperasi saesar saja, Nak?" tanya Papi Alfarizi.


Dokter Atha tersenyum sambil melihat Juan Mahardika. Pasti Papi Alfarizi merasa kasihan saat mendengar Elfa kesakitan karena kontraksi. Tadi saat di dalam ruang bersalin Elfa bercerita jika yang mengalami kontraksi Juan Mahardika.


"Jangan khawatir, Pi. El tidak mengalami kontraksi. Yang mengalaminya itu menantu Papi," jawab Dokter Atha sambil tergelak.

__ADS_1


Belum saja Dokter Atha melanjutkan ucapannya. Seluruh keluarga langsung menatap Juan Mahardika yang tertunduk memegangi perutnya sambil terpejam. Ingin ditahan dan cool karena di depan kedua mertua, tetapi tidak tahan juga, "Sayang, perut Akak sakit!" teriaknya


"Akak ke sini cepat!" perintah Elfa juga berteriak.


Dengan tertatih-tatih dan dipapah oleh Papi Alfarizi dan Alfian, Juan Mahardika masuk di ruang bersalin yang tempat tidurnya big size. Juan Mahardika langsung berbaring sambil memeluk Elfa dari belakang. Tangan Juan Mahardika mengusap lembut perut Elfa dan menarik napas dalam-dalam.


"Apakah sakit sekali, Akak?"


"Hhmm."


"Banyakin Istigfar, Nak!" perintah Papi Alfarizi mengusap pundak Juan Mahardika.


"Astagfirullah," ucap Juan Mahardika berkali kali.


Juan Mahardika mulai bisa bernapas lega setelah berkali-kali istigfar mulai menghilang rasa sakitnya. Mencoba tetap tersenyum karena ada keluarga yang mendukung dan memberikan perhatian. Banyak wejangan dan cerita yang menghibur dan membuat tetap semangat.


"Akak sih, tadi minta dipindahkan sakitnya, terkabul deh. Apakah sebaiknya diindah ...?" Elfa tidak jadi melanjutkan ucapannya karrena tangan Juan Mahardika menutup mulut Elfa perlahan.


"Alhamdulillah, Akak memang yang terbaik El sangat mencintai Akak."


"Akak lebih mencintai El."


Keluarga menjadi terharu mendengar percakapan pasangan Elfa dan Juan Mahardika terutama Mami Mitha. Termenung teringat dulu harus memaksa terlebih dahulu pada putri tercinta untuk menikah dengan menantu. Teringat suami Elfa itu memiliki kemiripan dengan Papi Alfarizi yang sangat mencinta dan rela berkorban apa saja demi pujaan hati.


"Mami sangat bahagia kalian saling mencintai, tetaplah jaga rasa itu sampai kapan pun!"


"Tentu, Mami. Terima kasih dulu Mami dan Papi telah memaksa El menikah dengan Akak JM."


"Sama-sama, Nak. Papi dan Mami sangat bahagia melihat kalian bahagia. Dulu Papi sempat khawatir awalnya, sekarang Papi juga sangat bahagia."


Elfa mengangguk dan tersenyum, berbincang dari hati ke hati dengan orang tua adalah hal yang sangat membahagiakan. Apalagi dalam momen spesial seperti ini. Hanya sayangnya sedang berbincang sengan serius, tiba-tiba Juan Mahardika berteriak lagi karena terjadi kontraksi.

__ADS_1


"Sabar ya, Akak." Justru yang mau melahirkan yang menghibur ayah dari bayi yang akan dilahirkan.


Jarak antara kontraksi semakin waktu semakin mendekat. Juan Mmahardika semakin waktu semakin merasa kesakitan. Teriakkannya terkadang menyayat hati yang mendengar merasa kasihan.


Elfa hanya berkeringat terus menerus tidak merasakan sakit sama sekali. Namun, pembukaan semakin bertambah seperti prediksi tim dokter. Secara bergantian keringat diusap oleh Mami Mitha atau Juan Mahardika jika saat tidak mengalami kontraksi.


Kejadian unik dan hampir tidak bisa diterima dengan nalar. Juan Mahardika semakin kesakitan saat mengalami kontraksi. Terkadang teriakan sangat keras persis seperti ibu-ibu yang mengalami kontrasi.


Kadang duduk, tidur terlentang, miring dan bahkan nungging saat perut Juan Mahrdik sakit itu tidak tertahankan. Seolah waktu berjalan dengan lambat. Tiga jam berlalu dilalui Juan Mahardika dengan terus mengerang kesakitan.


Dokter Atha dan tim memerika Elfa setelah tiga jam berlalu. Sekarang sudah pembukaan enam dan bayi dalam kandungan ELfa sudah terlihat mulai turun. Tandanya sekitar satu atau dua jam lagi akan segera melahirkan.


Kontraksi juga semakin sering terjadi yang dialami Juan Mahardika. Setiap sepuluh menit rasa perut juan Mahardika sepoerti ada mixer di dalam. Sakit melilit, pinggul tersa seperti tertarik dari dalam. Bahkan, tulang seolah sedang di pukul-pukul dari dalam.


Juan Mahardika mulai teringat pada Pakde Sarto. Adik angkat dari Mami Mitha kemarin penah bercerita jika seorang ibu yang melahirkan sakitnya seperti dua puluh tulang yang dipatahkan bersamaan. Sekarang ini merasakan dan membuktikan sendiri apa yang ada di Qalam Ilahi.


"Akak, sini El usap perut dan pinggangnya!"


"Ssstt, terima kasih, Sayang. Di pinggang dan pinggul yang seperti dipukuli dari dalam."


"Maaf ya, Akak."


"Jangan minta maaf terus, Akak merasakan ini ikhlas."


"Iya, El tahu."


Keringat Elfa terus menetes, hanya dalam waktu tiga jam Elfa sudah berganti baju tiga kali. Ada AC dan ada kipas angin tertap saja keringat terus mengalir tanpa henti. Harus banyak minum dan beberapa kali makan buah agar tidak dehidrasi.


Semakin waktu berlalu, Juan Mahardika semakin bergerak tidak menentu. Tidak tahan karena rasa sakit yang luar biasa. Menjerit, berteriak dan memukul tempat tidur untuk megurangi sakit yang ada.


Saat Elfa mengusap perut Juan Mahardika, tiba-tiba ada air yang mengalir seperti buang air kecil yang tidak bisa di tahan, "Akak, kok El ngompol ya?"

__ADS_1


__ADS_2